Indonesia di Mata Orang Jepang

Melihat peta sambil membolak-balik halaman, mencocokkan pemandangan yang nyata dengan peta dunia imajiner, awalnya bisa dilakukan dengan pikiran manusia. Akan tetapi, kalau semua pekerjaan itu dilakukan mesin, saya khawatir jangan-jangan kemampuan berpikir manusia akan mengalami kemunduran. Hisanori Kato, Professor Osaka Botsuryo College. Osaka, Jepang

Bagiku, melihat deretan buku yang tertata rapi di rak toko buku sama seperti berwisata menggali ilmu lebih dalam. Tidak segan aku mengambil satu buku yang menurutku menarik untuk dibawa ke kasir dan dibaca di rumah. Dan hari ini, pilihan itu jatuh pada buku yang berjudul INDONESIA DI MATA ORANG JEPANG. Karya Hisanori Kato, peneliti sekaligus profesor dari Jepang.

indonesia di mata orang jepang

cover buku

Sebelum meneliti, Hisanori Kato tinggal di Jakarta dalam jangka beberapa tahun di Jakarta. Buku ini ditulis begitu sederhana dengan kalimat yang mudah dicerna. Dalam beberapa bab penulis membandingkan kehidupan Jakarta dengan kehidupan di Jepang. Pandangannya tidak obyektif tetapi berdasarkan fakta dan pengalaman hidupnya selama di Jakarta.

Berbagai keunikan seperti masakan, budaya, pemandangan, hingga kehidupan sosial masyarakat Jakarta tidak luput dari perhatiannya.

Satu hal yang ditekankan dalam buku ini, ternyata hal yang selama ini menjadi kebiasaan masyarakat Jakarta itu sangat menarik untuk diambil pelajaran. Bahkan beberapa kalimat sederhana yang sering kita ucapkan seperti insyaAllah dan tidak apa-apa menjadi topik menarik, dan terkadang mengundang senyuman setiap pembacanya.

Buku ini, sederhana, membuat kita tahu, bahwa sebenarnya yang kita kerjakan selama ini itu adalah hal luar biasa yang belum tentu ada di luar negeri bahkan di negara besar sekelas Jepang sekalipun.

Dago, Braga dan Gedung Sate

Jl. Braga mirip seperti kawasan di Eropa, padahal di Bandung, Indonesia.

Kota Bandung. Kota yang begitu sejuk dengan dikelilingi gunung-gunung yang seolah melindungi kota Siliwangi ini. Berada lima di hari di kota ini begitu menjadi kenangan tersendiri.

Hari pertama dan kedua, karena ada urusan di ITB, aku memilih penginapan termurah yang berada di sekitar ITB. Informasi yang aku dapat dari internet ternyata masih bisa dikalahkan oleh GPS (Gunakan Penduduk Setempat) Ternyata masih ada penginapan yang lebih murah daripada penginapan yang ada di Dago.

Selain kota kaya kampus, Bandung memang Continue reading Dago, Braga dan Gedung Sate

Kota Bengawan Solo Banjir Bandwidth

“Ini Pak, Hotel Kusuma Sahid”, ujar tukang ojek yang baik hati mengantarku dari terminal bis. Belum selesai tukang ojek itu mengatakannya, aku sudah menyodorkan uang delapan ribu kepadanya sambil mengatakan

“Matur Nuwun, Pak”.

Ah, logat Jawaku masih kental sepertinya. Aku tersenyum sambil melangkah menuju hotel yang sudah disediakan panitia penyelenggara.

Meriah. Terlihat sepanjang pintu masuk sampai area depan hotel Kusuma Sahid sudah dipenuhi umbul-umbul merah bertuliskan Telkomsel. Aku begitu terpukau dengan ornamen hotel Kusuma Sahid ini. Ukiran-ukiran khas Jawa dengan perpaduan konsep modern menjadi campuran menarik tersaji begitu saja. Lampu led yang terpasang di atap hotel memanjakan mata setiap tamu yang datang. Dentingan alunan musik Jawa yang begitu mesra terdengar merdu dari setiap speaker kecil yang mengeluarkan bunyinya dari setiap sudut hotel. Mulai dari lobby hotel, sampai kamar tempatku berisitirahat, alunan musik itu terdengar sayu-sayu. Pasti, jika turis mancanegara yang menginap di hotel ini merasakan aura khas Nusantara, menyusup ke pori-pori pikiran. Tenang dan menjadi syahdu.

Tidak hanya speaker, namun beberapa modem ADSL juga terlihat di beberapa bagian hotel. Bagaimanapun, sekarang internet sudah menjadi kebutuhan pokok bagi hampir setiap orang, tanpa terkecuali pengunjung hotel. Sebelum istirahat, aku buktikan keberadaan sinyal dengan menghidupkan tablet. Beberapa SSID terlihat. Tidak hanya satu, dua atau tiga, tapi ada enam SSID terlihat. Syukurlah ada banyak pilihan untuk akses internet. Aku dapat istirahat dengan tenang.

Kemeriahan saat acara di hotel Kesuma Sahid

Kemeriahan saat acara di hotel Kesuma Sahid

Pagi datang begitu cepat dan romantis. Peserta dan panitia bergegas sarapan. Beberapa stand, banner, backdrop semua telah disiapkan. Sebuah tulisan ASEAN Blogger Festival Indonesia 2013 menjelaskan bahwa aku sedang mengikuti acara ini. Setiap peserta yang hadir, wajib tandatangan buku kehormatan yaitu buku hadir. Kami, setiap peserta mendapatkan tiga lembar voucher @wifi_id persembahan dari Telkom Indonesia. Continue reading Kota Bengawan Solo Banjir Bandwidth

Bandung: Tentang Sejarah dan Pendidikan

Saat aku kecil, sering sekali mendengarkan lagi ini. Dari VCD yang dibelikan bapak, atau saat bapak menyanyikannya untukku.

Pertengahan bulan Mei 2013, ada sebuah kegiatan yang harus aku ikuti di ITB. Setelah beli tiket di stasiun Pasar Turi, aku langsung terniang lagu masa anak-anakku dulu. Lagu itu sekarang sudah jarang aku dengarkan lagi. Continue reading Bandung: Tentang Sejarah dan Pendidikan