A.S.L.I Mengubah Cara Pandangku

Menjalani kehidupan sebagai mahasiswa terkadang membuat kita sering gelisah, resah, dan sangat takut akan masa depan. Terkadang apa yang kita inginkan tidak berbanding lurus dengan kenyataan. Takut akan kegagalan di masa depan sering menghantui. Di saat kita semangat untuk menjemput masa depan yang lebih indah sering terhalang oleh hal-hal sepele yang membuat perasaan kita marah dan kesal.

Contoh sederhana muncul ketika kita harus berpacu dengan waktu untuk mengumpulkan tugas atau kewajiban kuliah yang super penting, tetapi diperjalanannya ada saja yang mengganggu seperti  suara televisi yang sangat menggangu konsentrasi sehingga tidak bisa mengerjakan tugas.

“Jangan menghidupkan TV, apa tidak tahu aku lagi ngerjakan tugas?”,

“ini motor pakai acara mogok, apa tidak tahu kalau aku sedang buru-buru?”,

“waduh cuaca pagi ini kok mendung ya?, padahal aku harus ke Surabaya menemui dosen untuk bimbingan TA, kalau kehujanan bisa sakit ntar aku?”,

“waktunya kok Cuma 3 hari?, kan tidak cukup buat aku ngerjakan proposalnya?”,

“waduh, kok susah sekali hanya untuk mendaftar beasiswa gitu saja harus mutar-mutar satu kabupaten?”,

“kira-kira, bisa gak ya aku menjalani semua ini dengan segala kesibukan yang aku alami?”,

kata-kata ini sangat sering ada di dalam perasaanku selama ini. *jujur, pengakuan dosa.*Tapi anggapan itu sekarang sudah banyak terhapus dalam pikiranku, tidak ada lagi kalimat yang menggunakan perasaan seperti itu. Pertanyaan yang awalnya “mengapa” sekarang harus diganti dengan “bagaimana”. Sering sekali kita menyalahkan sesuatu yang ada disekitar kita karena tidak bisa mengerti dengan apa yang kita inginkan. Sebenarnya itu semua perilaku yang salah. Bukan menyatakan “mengapa itu bisa terjadi”, tetapi harus bertanya “bagiamana hal itu bisa teratasi”.

Sebenarnya hal-hal seperti ini sering kita mendapatkan di seminar motivasi, pelatiha ESQ, buku-buku motivasi, tetapi kemarin ketika mengikuti pelatihan Aliansi Sadar Linguistik Indonesia (A.S.L.I) yang didirikan para pakar NLP seperti Pak Putu Darma dkk. Segala permasalahanku selama ini bisa mendapatkan pencerahan bagaimana menanggapi permasalah yang ada karena pada dasarnya hidup ini masalah. “Karena masalah itu adalah jembatan yang menghubungkan kondisi saat ini dan kondisi yang kita inginkan”.

Berkat ikut pelatihan A.S.L.I yang di adakan (24/11) di Kampus UTM kemarin bisa memberikan cara pandang baru bagiku, aku lebih bijak dalam menanggapi segala masalah yang hadir. Contoh kongkrit saatku harus PP dari Surabaya-Madura dalam 3 jam dengan cuaca buruk yaitu hujan deras. Biasanya dalam hati pasti ada gerutu “segitu susahnya ya untuk bisa menjadi seorang sarjana, sampai harus berada di jalan saat hujan deras seperti ini”, tapi tidak tahu kenapa aku lebih santai menghadapi itu semua bahkan bisa dikatakan menikmati semua prosesnya.

Pak Putu Darma ketika menerika sertifikat dari pihak kampus UTM

Terimakasih A.S.L.I, terimakasih coach yang telah membuka cara pandang aku yang keliru selama ini. Aku bisa merancang masa depan bukan menggunakan perasaan, tetapi harus menggunakan pikiran dan logika yang tertanam di otak kita.

ALAM

12 thoughts on “A.S.L.I Mengubah Cara Pandangku

  1. Jika bukan karena membaca, mungkin dari pengelaman Mas Wahyu, sampai sekarang saya juga masih seperti itu…

    Tapi memang hidup adalah pilihan, kalau memang ingin jadi orang yang lebih baik maka kita usahakan untuk jadi lebih baik.

    Nice post 🙂

  2. bersyukur aja sih,biasanya kalau saya cari hal2 unik buat uring2an,soalnya dulu pernah mikir kayak gitu pusingnya jadi beneran,hahaha.ya,semoga gerutuan2 itu bisa kita kurangi.

Berikan Komentar