Back to December

Seperti sebuah lagi “Back to December”; Desember, sebuah bulan di akhir tahun.Bagi beberapa orang bulan ini sangat menyenangkan, bagiku bulan Desember 2011 merupakan bulan yang penuh dengan warna-warni kehidupan dan menampakkan diri bagai Pelangi sehabis hujan. Minggu pertama bulan ini dipenuhi dengan warna ikatan batin, tali persaudaraan meski tidak ada hubungan darah mewarnai awal bulan Desember. Kisah diawali di Pacet ketika mengikuti acara penutupan panitia Blogger Nusantara 2011.

Beberapa target saya tancapkan di bulan terakhir ini, mengenai studi dan “rumah”. Selain itu beberapa kesibukan rumah dan kesibukan bisnis beberapa mewarnai bulan ini. Ada hal yang menjadi garis besar dan sangat saya perhatikan adalah “rumah” tempat aku dibesarkan. Seperti berada di sebuah sinetron yang harus berperan sedih dan tak berdaya terpontang-panting ke kanan ke kiri. Aku mencoba bangkit dengan beberapa teori motivasi yang aku dapatkan selama kuliah.

Di tengah pekan Desember tidak ada yang terlalu istimewa kecuali beberapa pengalaman baru yang di dapatkan di kampus. Menjelang akhir bulan barulah drama dimulai bak sebuah adegan di film. Berbagai pelangi mewarnai pikiranku saat itu. Aku berusaha menanggapinya tidak dengan perasaan (karena menurut ASLI itu tidak boleh). Aku berusaha tetap berpikir positif dengan segala target di bulan ini. Multitasking begitu luar biasa terjadi di dalam “processor” buatan Allah ini. Beberapa tamparan keras mendarat di pipi sehingga aku tersadar dari lamunan yang begitu lama.

Lagu Price Tag sepertinya dengan senang hati berkumandang merdu di headset yang tertempel di telinga. Beberapa mention yang di tweetkan orang rumah sedikit menggelitik tapi juga sebagai penggugah semangat agarku cepat lulus dan menggapai apa yang aku cita-citakan. Sebuah cerita lucu terhampar ketika aku berkumpul dengan keluarga di rumah setelah sekian lama tidak pernah berkumpul karena kedahsyatan kesibukan yang menghampiri tiada henti. Ayahku bercerita seusai makan malam bersama di rumah kecil nan indah di tengah Desa Kebun.

Dia melontarkan beberapa pertanyaan yang membuatku harus berpikir seperti mengerjakan mata kuliah Matematika III di kampus. Kamu kapan lulus?, InsyaAllah tahun depan jawabku mantap. Mbah Kakung, Mbah Putri, bude Sri dan budeYuning mau datang ke Madura menghadiri acara Wisuda kamu!, hah? Buat apa kataku kaget? *emangnya saya mau nikah, kok mau datang semua?*. Ya, tapi mereka mau datang. Mereka bangga melihat cucu dan ponakannya wisuda memakai Toga. Sambil mengenyitkan alis dan menggangkat kedua bahu saya tertawa sekaligus menggerutu di dalam hati, “Ayo! Wahyu semangat Lulus tepat waktu!! Keluarga sangat menunggu prosesi sakral Wisuda itu!!”

Kupingku agak sedikit hangat *bukan panas ya?* saat Ayah juga bercerita ketika anak dari temannya diwisuda, ayah juga memberikan wejangan tentang nasib dan masa depanku. Dia mengatakan kalau aku harus punya tujuan dari sekarang biar fokus pada tujuan itu. Jangan ngambang, tambahnya!

Apapun yang terjadi, aku harus lulus tepat waktu tapi dengan tidak meninggalkan “rumah” yang telah membesarkanku, I’m very confident that I can, it’s a little story from heart to December.

ALAM

7 thoughts on “Back to December

Berikan Komentar