Pesantren. Pilar penting yang sering dilupakan, namun perannya sangat terasa. Selalu membuat negeri ini sejuk. Pada tahun 2012, Kemenang melansir ada 27.230 pesantren berdiri di tanah air. Rasanya tahun ini pun terus bertambah. Lebih dari empat juta santri menuntut ilmu agama di pondok pesantren.

Periode 2013-2014, aku diajak teman-teman dari Muwashola untuk memberikan pelatihan di beberapa pondok pesantren d Jawa Timur. Saat itu, aku diajak ke Sampang, Banyuwangi dan di Pondok Syaichona Cholil Bangkalan.

Aku sering mengatakan bahwa sekarang negara memerlukan peran pesantren untuk melawan berita bohong, ujaran kebencian dan konten negatif lainnya. Ibarat gelas, sekarang sudah terisi air keruh. Cara paling gampang adalah dengan menuangkan air bersih sebanyak mungkin. Begitu pula dengan dunia maya saat ini. Lebih baik perbanyak konten positif sebanyak mungkin untuk melawan konten-konten negatif yang bertebaran di internet.

Baca Juga: Kesasar ke Pondok Pesantren Banyuanyar Pamekasan

Kira-kira hal itu juga lah yang kemarin aku sampaikan di pondok pesantren Banyuanyar, Pamekasan.

Aku diantar panitia memasuki ruangan talkshow. Aku harus melepas sepatu, karena area yang kami gunakan bebas dari sandal dan sepatu. Beberapa peserta yang hadir adalah laki-laki. Ada yang bersarung ada yang berseragam sekolah dengan celana panjangnya. Yang pasti semuanya menggunakan kopyah. Hanya aku dan Farid yang tidak menggunakan kopyah. Aku terkagum ketika beberapa di antara mereka sudah duduk dan aku melihat tidak sedikit yang membawa buku tebal-tebal seperti novel. Sambil menunggu acara dimulai, mereka mencuri-curi waktu untuk membaca. Suatu pemandangan yang ajaib di zaman yang serba sibuk dengan gadget seperti sekarang. Aku menduga budaya literasi di pesantren ini sudah ditegakkan sejak lama.

Tak ada yang istimewa dari yang aku sampaikan. Hanya overview tentang pemanfaatan internet di Indonesia, hingga fenomena-fenomena yang sering terjadi dan bagaimana kita menyikapinya. Tentu yang aku sampaikan adalah dari sudut pandang profesional.

Hal yang paling menarik di sini adalah pada saat tanya jawab. Dan benar saja, aku sudah menduga bakal ada pertanyaan bagaimana menurut sudut pandang pesantren. Tapi yang tidak aku duga adalah kualitas pertanyaan mereka yang sukses membuatku berpikir agak lama. Sangat kritis. Apalagi untuk ukuran pesantren yang berada di pelosok Pamekasan.

Pertanyaan mereka masih seputar internet dan pemanfaatannya. Namun yang bikin aku geleng-geleng, mereka menghubung-hubungkan dengan pilar teknologi di dalam peradaban Muslim, hoax sejarah Potre Koneng, ancaman kerusakan kaidah Islam, bagaimana jika anak-anak yang menggunakan internet, memang boleh mencari jodoh di internet, bukankah harus mencari jodoh ada caranya menurut Islam, hingga bagaimana agar kaum pemuda Islam dapat menggunakan internet dengan bijak?

Semua jawabanku mengacu ke kalimat ini:
Perkembangan teknologi itu suatu kepastian. Tidak bisa kita salahkan, tidak bisa kita hentikan, juga tidak bisa kita biarkan. Kita harus mengikuti, menggunakan, memanfaatkan, dan jadikan alat untuk menegakkan akidah agama Allah. Apalagi kalian, para santri, punya bekal lebih daripada kami-kami yang berada di luar pesantren. Buatlah konten-konten kreatif, tentang indahnya, damainya, syahdunya Islam. Bisa dari tulisan-tulisan, infografis-infografis, video-video, animasi-animasi, dsb. Pakai internet, blog, facebook, instagram, twitter sebagai media untuk menyebarluaskan. Jangan biarkan konten negatif memenuhi ruang maya kita.

Kalau empat juta santri membuat tulisan sehari satu tulisan, satu konten, maka dalam sebulan akan ada 120 juta konten bertebaran di internet. Kalau setahun bakal ada 1.4 miliyar konten positif tentang Islam yang indah, yang damai, yang syahdu.

Aku tutup talkshow tersebut dengan kalimat: semoga Allah menguatkan kita semua. Bismillah.

***

Info tentang Pondok Pesantren Banyuanyar Pamekasan bisa dilihat di akses di webnya banyuanyar.net dan Instagramnya @banyuanyar


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

Berikan Komentar