Menepi. Mahasiwa itu perlu hiburan. Mari kita tinggalkan sebentar dari kemelut kegiatan lab, proposal tesis, review paper dan sekumpulan tugas. Aku dan Saide merencanakan mencari pantai. Sudah lama tidak melihat laut. Bitou menjadi pilihan kami. Ada apa saja di sana? Menarik ditunggu!

wahyualam.com Xiangshan Taipei 101 TaiwanSabtu pagi, cuaca tidak cerah juga tidak hujan. Awan berwarna abu-abu menggelayut di langit Taipei. Sebelum memulai perjalanan hari ini, kami pergi ke pasar tradisional. Berburu barang murah dan buah-buahan segar.

Kembali dari pasar, waktu terus berputar tak terkendali. Waktu di akhir pekan memang berputar dua kali lebih cepat. Tanpa terasa sudah pukul 11 saat kami keluar dari dormitory. Rencana hari ini akan ada dua tempat yang perlu dikunjungi: Xiangshan dan Bitou.

Xiangshan atau dalam bahasa Indonesia bukit gajah, letaknya tidak jauh dari kampus. Salah satu yang paling menarik di bukit ini, kita bisa berfoto dengan latar Taipei 101. Kami berniat berfoto saja, setelah itu melanjutkan perjalanan timur, mencari kitab suci, eh bukan, pergi ke Bitou.

Bis bernomor 1 di depan kampus melintas tidak lama setelah kami menunggu. Kami meninggalkan kampus untuk trip pertama kalinya. Pergi ke arah yang tidak biasa. Jika biasanya kami lebih banyak beraktivitas ke arah utara kampus, sekarang kita pergi ke arah timur kampus.

Semakin mendekat ke Taipei 101, maka suasana perkantoran semakin terlihat. Taipei 101 seperti punya daya magis menarik semua gedung berdiri mengelilinginya. Sesuai petunjuk Google Maps dan konfirmasi ke pak Sopir, kami turun di stasion 吳興國小(莊敬). Halte terdekat dengan pintu gerbang Xiangshan Hiking Trail.

Cukup sekali bertanya ke warga, kami sudah mengetahui arah menuju Xiangshan. Mungkin teman yang lain, sudah tiga atau empat kali ke tempat ini. Mungkin juga, hanya aku dan Saide yang belum pernah ke bukit ini. Salah satu tempat wisata yang paling dekat dengan kampus.

wahyualam.com Xiangshang Taipei Taiwan

Tempat wisata ini gratis. Tidak ada loket untuk membeli karcis. Harus berjalan sekitar 650 m dari stasion tempat kita turun menuju tangga pertama Xiangshan.

Kami memulai langkah pertama menaiki satu persatu tangga menuju puncak. Meski kami tidak tahu apakah ada puncak atau tidak.

Ternyata tidak ada puncak, karena Xiangshan ini dikonsep seperti taman. Kita bisa berkeliling dengan berbagai spot menarik di beberapa titik. Kami tidak mau mengunjungi semua bagian dari Xiangshan, tujuan kami hanya satu: berfoto dengan latar Taipei 101, setelah itu turun dan melanjutkan perjalanan.

Musim sudah memasuki awal musim dingin. Aku dan Saide sudah bersiap dengan memakai jaket, beberapa pengunjung pun begitu. Semakin mendaki ke atas, angin bertiup menelusuk di celah jaket. Merangsek masuk menelusuk ke semua bagian kulit yang tidak tertutupi jaket. Lelahnya mendaki tidak terlalu terasa karena cuaca yang dingin.

Tibalah kami di satu spot yang telah dipersiapkan untuk berfoto dengan latar Taipei 101. Beberapa pengunjung terlihat bergantian berfoto. Suara tidak asing terdengar. Ternyata benar, aku mendengar bahasa Indonesia diucapkan. Ternyata ada tiga mahasiswa Indonesia yang juga berlibur ke tempat ini. Kami pun bergantian untuk mengambil satu sama lain.

Usai berbincang sebentar, kami melanjutkan perjalanan. Kami mencari tempat untuk makan siang dan sholat. Terlihat sebuah pondok yang sudah dilengkapi dengan meja dan kursi. Kami makan siang dengan ditemani pemandangan Taipei 101 dari atas bukit. Toilet yang tersedia di dekat pondok yang kami tempati memudahkan kami untuk cuci tangan dan berwudhu.

wahyualam.com sholat di Xiangshan taipei taiwan

Sekarang berpikir tempat sholat Dhuzur. Setelah sempat melihat lokasi di sekitar, akhirnya kami memutuskan untuk menurunkan papan yang sedang baru selesai diukir dan dicat. Sepertinya papan ini salah satu ornamen yang akan dipasang di salah satu sudut taman. Kami turunkan dan digunakan sebagai alas sholat dengan dilapisi sajadah praktis dengan menggunakan syal yang saya bawa.

Kami pun sholat. Tak peduli dengan beberapa pengunjung yang terlihat memerhatikan kami.

Usai sholat Dhuzur, kami harus segera bergegas. Waktu kami tidak banyak. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Saatnya melanjutkan perjalanan ke Bitou. Destinasi kedua di petualangan akhir tahun ini.

Bagaimana petualangan di Bitou. Lihat di related post di bawah!


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

1 Comment

de cikha · January 20, 2016 at 06:13

Wah pengin kesini lg kya nya sekarang lg musim dingin pas bgt nih, dulu sama bos pernah di ajak ke sini tp gak tau daerah apaan…
jd tau itu bukit gajah setelah baca ini haha

Berikan Komentar

%d bloggers like this: