Jawa. Pulau paling ramai di Indonesia. Selain itu peninggalan sejarahnya pun menarik untuk ditelisik lebih dalam. Dimulai dari ujung barat Jawa hingga ujung timur mempunyai kisah menarik tersendiri. Kearifan lokal dari warganya, hingga cita rasa kuliner yang tak akan pernah habisnya untuk dibahas. Aku lahir di Madura dan beberapa kali pergi ke beberapa daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah juga Jawa Barat. Kita mulai dari tengah terlebih dahulu. Mari memulai cerita ini seolah sedang dalam perjalanan kereta Semarang Surabaya lengkap dengan kamera di tangan.

Semarang. Sebentar saja aku singgah di kota ini. Waktu ini aku sedang melakukan perjalanan yang aku beri nama #JavaTrip. Di dalam perjalanan ini aku mengunjungi beberapa wilayah di Jawa Timur dan Jawa Tengah dalam waktu lima hari dan sendirian. Jam 9 pagi aku diharuskan sudah berada di Madiun untuk urusak proyek pembuatan aplikasi. Aku pergi dari Madura sehari sebelumnya dan bermalam di Terminal Bungurasih.

Subuh aku sudah bergerak dari Bungurasih menuju Madiun dengan menggunakan bis Panda. Usai urusan dengan Dinas Pertanian Madiun usai, aku sudah janjian dengan teman Facebook di Ponorogo. Kebetulan hari itu malam satu suro. Tiba-tiba saja aku sudah melebur dengan warga di sekitar Alun-alun Ponorogo. Saking penuhnya acara malam satu suro di sana, aku sampai mengira bahwa semua warga Ponorogo keluar rumah dan menikmati berbagai acara di alun-alun. Ini kali pertama aku melihat langsung perayaan malam satu suro di Jawa. Lalu teman Facebook tadi mengajakku ke Telaga Ngebel dengan naik motor, malam-malam, tanpa helm dan ngebut. Jangan ditiru ya. Entah beberapa kali aku  berteriak di telinga dia mengucapkan:

JANGAN NGEBUT-NGEBUT, AKU BELUM NIKAAAH! Hahaha.

Lalu kami pun tiba di Telaga Ngebel. Ternyata ada telaga indah di tengah-tengah Ponorogo. Malam satu suro di sini diadakan acara larung sajen dan pertunjukan wayang. Sayang aku sudah kelewatan prosesi larung sajen dan hanya bisa menikmati pertunjukan wayang dengan udara malam yang dingin, khas pegunungan.

Telaga Ngebel, Ponorogo.

Keesokan harinya aku diantar ke terminal Ponorogo untuk melanjutkan perjalanan ke Solo. Entah berapa pasang baju yang aku bawa saat itu. Aku lupa.

Aku punya waktu sehari sebelum acara utama di Solo. Aku memutuskan untuk pergi ke Semarang untuk bertemu teman blogger Semarang. Di sana, aku hanya berdiskusi tentang dunia blogging dan media sosial di kawasan Simpang Lima, hingga paginya aku diajak sarapan di kawasan Kota Tua Semarang, hanya saja waktuku tidak banyak, aku harus segera menuju Solo untuk menghadiri acara Kopdar Blogger di Rumah Blogger Indonesia (RBI).

#JavaTrip selalu memberikan kenangan tersendiri bagiku. Entah kapan lagi bisa melakukan perjalanan selama lima hari tanpa pulang sendirian dan menikmati setiap detik perjalanan. Menyaksikan perkembangan kabupaten-kabupaten di Jawa dari atas bis dan kereta. Melihat lambaian hijaunya padi di sawah, hingga merasakan kehangatan sambutan masyarakat Jawa yang terkenal santun dan menyenangkan.

Habis Isya’ berangkat dari Bangkalan dan bermalam di Surabaya, lalu pagi sudah berada di Madiun, malamnya merayakan kebersamaan di Ponorogo, paginya diisi dengan menikmati perjalanan panjang dari Ponorogo ke Semarang dari atas bis. Menyeruput kopi kehangatan bersama kawan di Simpang Lima Semarang hingga kawasan Kota Tua, hingga merasakan harumnya Teh Pokil khas Solo yang mempesona.

Terima kasih Surabaya, Madiun, Ponorogo, Semarang, dan Solo. Suatu saat, semoga kita bisa bersua lagi. Semoga.

Categories: #ALAMelangkah

ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

0 Comments

Berikan Komentar