Bermalam dan Kepanikan di Bandara Changi

wahyualamcom ruang tunggu Changi“PASSPORT AND BOARDING PASS, PLEASE!”

Aku mendengar suaranya, namun badan ini tak bisa bergerak. Mataku sepet. Seperti lampu kehabisan minyak tanah. Redup belum bisa sadar. Pelan-pelan aku buka mata. Meski begitu berat. Hingga lampu di bandara terlihat lamat-lamat.

Aku terlonjak ketika melihat petugas berpakaian serba hitam dengan senjata api laras panjang di tangannya. Mataku langsung berbinar. Tak seperti mata yang baru saja tertidur. Seketika ada tepukan di pundak belakang. Aku menoleh.

“PASSPORT AND BOARDING PASS, PLEASE!” Suara petugas yang berada di belakangku.

Ia membangunkanku dari tidur. Aku panik mencari tas. Untung saja tas kecil ini menjadi bantal, sejurus kemudian aku mengeluarkan paspor dan boarding pass yang ia minta. Sambil petugas itu memeriksa, aku melihat lagi dua petugas yang sudah siap dengan senjata apinya.

Kami diperiksa petugas bandara. Setiap penumpang yang menginap di Bandara harus punya tiket dan boarding pass. Jika tidak, maka bersiaplah untuk diusir dari bandara!

Petugas yang memeriksa cukup membuat kami keder. Ada tiga petugas, satu petugas membangunkan kami. Dua petugas menunggu di sekitar kami tidur lengkap dengan senjata api laras panjang di tangannya.

Usai pemeriksaan, kami kembali melanjutkan ibadah kami.

Pendingin ruangan bandara sepertinya dingin dari biasanya. Mungkin karena dini hari, atau karena aku ngga pakai jaket. Aku terbangun kedinginan. Untuk menghangatkan badan, aku ingin berjalan-jalan di dalam bandara. Terlihat Saide terlelap dengan mendekap tasnya. Kemal tertidur sambil duduk. Saking lelapnya ia lupa kalau menaruh ponsel dan headsetnya di kursi. Aku amankan ponselnya Kemal dan mencari warung kopi.

Tersadar ini bandara, jelas tak ada warung kopi seperti di pelabuhan timur Kamal di Madura. meski sudah malam, pelabuhan timur atau kami serng menyebutkan Peltim, tetap ramai oleh pengunjung. Sensasi minum kopi dan berkumpul bersama teman selalu didampakan. Apalagi dengan latar jembatan Suramadu.

Tak ada warung kopi, McD pun jadi. Cukup 35 dolar saja untuk segelas Milo panas. Aku memilih Milo agar bisa melanjutkan tidur. Seumur-umur baru kali ini membayar makan di McD pakai uang koin. Tiga koin 10 dollar dan satu koin 5 dollar. Segelas Milo panas berpindah tangan menjadi milikku.

Meski dini hari, lalu lalang penumpang terlihat lengang. Beberapa wajah asing beristirahat di Xperience Zone. Di tempat ini kita bisa nonton tv atau jika beruntung bisa nonton film dengan kursi dan layar monitor pribadi. Namun sayang, saat aku datang, semua kursi dengan layar pribadi telah terisi. Aku beruntung ada satu kursi di depan layar besar, sambil menyeruput Milo panas, aku melihat preview Manchester United di liga Inggris.

Tubuh lumayan menjadi hangat. Pendingin ruangan juga tidak terlalu ekstrim di tempat ini, aku pun tertidur pulas dengan Milo di tangan. Hingga tak terasa waktu Subuh tiba.

Aku kembali ke tempat keempat temanku. Terlihat Tri dan Fica di kursi sudah ganti baju meski belum mandi. Aku menyusul Kemal dan Saide yang telah berangkat ke prayer room: sholat Subuh!

Saat waktu Subuh, aktivitas di dalam bandara meningkat. Beberapa calon penumpang lalu lalang. Berbeda dengan tengah malam yang terlihat sepi, sekarang mulai ramai.

Kami menghabiskan waktu di bandara dengan bercanda dan sarapan di warung Malaysia. Meski berbeda negara, tapi karena bisa bahasa Melayu, kami menganggapnya saudara. Meski sebenarnya lebih berharap mendapatkan diskon harga. 50 dolar sudah bisa ditukar dengan seporsi nasi lemak ayam.

Pagi terus bergerak. Bandara semakin ramai.

Usai mengambil barang-barang di tempat penitipan, kami berangkat ke ruang tunggu. Pemeriksaan di pintu masuk ruang tunggu bandara Changi lebih ketat dari pada bandara Juanda. Kami harus mengeluarkan semua gadget seperti laptop dan smartphone dari dalam tas. Alhasil, aturan ini sukses membuat antrian di depan pintu masuk.

Aku ditegur. Petugas menunjuk ke arah bawahku. Aku tahu, dia memintaku untuk kembali ke depan pintu dan melepaskan sepatu. Sepatu pantofelku yang besar harus dilewatkan ke sensor X-Ray. Mungkin takut menyimpan narkoba.

“Tenang, Pak. Aku orang baik-baik, kok!”

Menunggu tak begitu lama, kami masuk ke dalam pesawat. Kami mendapat giliran pertama karena kami duduk di bagian depan. Tempat duduk kami sama. Aku dipinggir jendela, kecuali Kemal yang duduk agak ke tengah.

Dan kepanikan kembali terjadi.

Aku ingat tas kuning yang berisi kue. Sepertinya Saide tidak membawanya ke dalam pesawat. Kami tanya ke Tri dan Fica. Tak ada yang bawa. Ingin bertanya ke Kemal tapi ia terlalu jauh. Entah dimana tas itu. Semoga Kemal yang membawa dan memasukkan ke dalam kabin.

Aku baru sadar, kalau di dalam tas itu terdapat tempat pensil yang berisi alat tulis, pointer, flashdisk, dan voice recorder. Aku harus tanya ke pramugari, jika memungkinkan aku ingin cek. Barang kali masih tertinggal di ruang tunggu.

Ditemani petugas khusus, aku berlari ke arah ruang tunggu. Sepertinya pesawat memberikan dispensasi tiga menit kepadaku untuk mencari barang.

Tak terlihat tas kuning. Seorang petugas pintu masuk bertanya.

“Nyari apa mas?”

“Tas saya ketinggalan, Pak. Warnanya kuning”

“Oooo, ngga ada kalau kuning. Bukan tas hitam ini ya?”

“Bukan pak. Baiklah. Ngga masalah”

Aku lanjut berlari menuju pesawat yang sudah menghidupkan mesinnya. Aku adalah penumpang terakhir, pesawat pun bergerak sedetik setelah aku duduk dan memasang seat-belt.

Perjalanan ke Taiwan pun dimulai. Bismillah.

ALAM

2 thoughts on “Bermalam dan Kepanikan di Bandara Changi

Berikan Komentar