Suara tabuhan itu biasa aku dengar. Telingaku tidak asing mendengarkan alunannya. Namun aku juga sedang melihat manusia-manusia berbeda. Aku juga sedang berada di tempat berbeda. Aku merasa ada yang tidak biasa. Merasa agak aneh mendengar gema tabuhan itu di pusat Taipei Main Station. Aku mendengar gema sholawatan bergema yang sudah terdengar dari kejauhan. Mendengar suara sholawatan dari speaker tidak biasa aku dengar di kota Taipei. Inilah yang membuatku pagi-pagi sudah berada di tempat ini. Aku rindu sholawatan.

***

harlah 8 PCINUBerawal dari pesan gambar yang disebar teman-teman di grup WhatsApp dan Facebook, aku mendapatkan informasi jika ada acara perayaan hari ulang tahun Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Nahdlatul Ulama Taiwan.

Selain karena hadirnya tiga ulama dari Nusantara, aku sangat bersemangat karena ada acara sholawatan. Acara yang tiba-tiba hilang dari agenda mingguanku. Jika di Madura, setidaknya dua kali seminggu aku ikut dhibaan. Setiap Senin malam dan Kamis malam.

Kerinduan memuncak. Alunan lagu-lagu yang ditampilkan dari berbagai perkumpulan di Taiwan membuatku langsung ingat rumah. Ingat Madura.

Namun aku sepertinya datang kepagian. Saat aku datang, tempat yang dikhususkan untuk laki-laki masih kosong. Aku tetap mencari tempat duduk yang nyaman kemudian menikmati setiap penampilan. Hingga ada seorang TKI yang juga menjadi penampil datang menghampiriku. Basri namanya. Ia sudah dua tahun di Taiwan. Kami mengobrol lama hingga aku diberinya makan. Rezeki anak sholeh, aku dapat makan siang gratis. Meski sebenarnya aku sudah membawa bekal dari kampus.

Semakian siang Taipei Main Station semakin ramai dengan jemaah yang akan hadir di acara pengajian, istiqosah, sekaligus sholawatan bersama Habib Mustofa Bin Muhammad Alydrus, KH. Abd. Aziz Munif dan KH Ach. Shiddiq.

Sekitar pukul 14.30 waktu Taipei, dua terop sudah penuh dengan jemaah. Ketiga ulama sudah memasuki area pengajian. Aku maju duduk ke paling depan. Aku juga tidak mau ketinggalan untuk menyambut kedatangan ketiga ulama. Setidaknya untuk bersalaman dengannya.

Acara dibuka dengan sambutan dari pengurus PCINU Taiwan. Mereka merayakan hari ulang tahunnya yang kedelapan dengan memotong tumpeng.

Kemudian acara dilanjut dengan pembacaan sholawat Al-Habsyi oleh KH. Ach. Shiddiq. Aku merasa sedang berada di rumah ketika mendengar tabuhan dan suara KH. Ach. Shiddiq melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Semuanya larut dalam kekhusyuan bersholawat.

Inilah acara mahal, acara yang tidak selalu ada di Taiwan. Beruntung sekali masih ada pengurus PCINU di Taiwan. Sehingga membuatku seperti berada di Madura.

Acara dilanjutkan dengan ceramah dari KH. Aziz Munif dan Habib Mustofa Bin Muhammad Alydrus.

Pengajian berlangsung semarak dan seru. Jemaah sangat antusias dengan materi yang disampaikan. Suasana haru sempat menyelimuti semua jemaah, saat ada dua TKW yang masuk Islam. Mereka mau berikrar membaca dua kalimat Syahadat di depan semua jemaah yang hadir. Terikan takbir mengiringi langkah mereka naik ke atas panggung.

Acara ini tidak hanya menarik perhatian TKI untuk datang, tetapi juga beberapa turis internasional dan warga lokal terlihat penasaran. Mereka beberapa mengambil kamera dan membidik setiap orang yang berada di dalam terop. Entah mereka mengerti apa tidak apa yang kami perhatikan. Yang jelas mereka begitu antusias.

Di akhir acara ketiga ulama memberikan selendangnya kepada para jemaah. Doa bersama menjadi penutup acara mahal ini.

Terima kasih PCINU. Sudah membuatku seperti berada di Madura.


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

Berikan Komentar