Bertanyalah Karena Bisa

Bertanyalah Karena Bisa

Bertanya adalah hal yang lumrah. Apalagi bagi yang belum atau tidak mengetahui informasi atau sebuah pelajaran di sekolah, kampus ataupun dalam kehidupan sehari-harinya. Ngga ada cara lain selain memang bertanya.

Namun, aku terkadang kurang nyaman dan sedih ketika membaca pertanyaan dari beberapa orang mahasiswa, yang kebetulan mahasiswa dengan jurusan teknologi, bertanya hal-hal yang sebenarnya informasinya bejibun di internet. Jika hanya satu orang mahasiswa yang bertanya, tentu akan aku jawab dengan senang hati. Bukankah, berbagi itu indah sekali. Tapi jika kotak masuk email penuh dengan pertanyaan yang sama, akan cukup capai menjawab satu per satu. Dan sangat menyedihkan ketikayang ditanya itu sebenarnya sudah terdapat banyak informasi di internet. Just typing google.com and search whatever you want!

Hal ini menjadi menarik ketika diskusi dengan sahabat dekat yang juga kakak kelas di kampus. Sebut saja namanya Rotua. Ini nama sebenarnya. Lah kok? 🙂

Bang Rotua -begitu aku memanggilnya- mengaku sering jengkel ketika menjawab pertanyaan bertubi dari adik kelasnya tentang sesuatu yang sebenarnya sudah ada jawabannya. Kadang, dia tidak sungkan untuk memarahi adik kelasnya karena terlalu banyak bertanya. Baginya, mahasiswa itu harus kreatif dan tidak banyak bertanya, apalagi pertanyaan yang sepele. Gengsi katanya!. Ngga kaget jika dia mendapat julukan asisten dosen yang kejam. Menakutkan. Siapa yang takut dengan gertakannya ala orang Medan yang keras ditambah rambut keriting gondrongnya. Menambah kesan sangar baginya. Tetapi karena itulah, aku, dan beberapa adik kelasnya paham akan artinya: bertanyalah karena bisa!

Beda Bang Rotua, beda lagi di Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya. Saat aku datang ke sana, mengikuti sebuah acara tentang beasiswa S2 ke AS. Beberapa keterangan menarik ialah kampus di AS jarang sekali membalas pertanyaan-pertanyaan “bodoh” dari calon mahasiswanya. Mereka terkesan pelit informasi. Apalagi pertanyaan yang diajukan itu sudah ada jawabannya di website kampus. Artinya, banyak sekali mahasiswa yang bertanya tanpa mengorek-ngorek informasi di website terlebih dahulu. Ketahuilah, orang-orang di AS biasanya akan mencantumkan informasi detail. Sedetail-detailnya tertulis lengkap di website. Sehingga kita bisa melakukan register dengan nyaman kalau sudah baca FAQ-nya. Tentu akan beda ceritanya, jika bertanya sesudah membaca, mengorek-ngorek informasi yang sudah tersedia di website kampus tersebut. Satu lagi, pelajaran penting: bertanyalah karena bisa!

Kalimat “bertanyalah karena bisa” sebenarnya pertama aku baca adalah dari status dosen favoritku: Pak Romi Satria Wahono. Ada banyak tulisannya yang menjawab satu demi satu pertanyaan mahasiswanya di blog romisatriawahono.net. Tentu itulah adalah kalimat yang penuh makna. Maksudnya adalah bertanyalah setelah melakukan riset terlebih dahulu. Riset kecil-kecilan. Bisa dilakukan dengan cara googling, membaca buku, majalah ataupun paper. Bahkan salah satu cerita Pak Romi saat di Jepang, ada mahasiswa yang tidak dilayani bimbingan tesis-nya karena belum baca beberapa referensi wajib yang harus dibaca. Tidak tangguh-tanggung, mahasiswa calon magister itu baru boleh kembali menghadap professornya jika sudah membaca kira-kira empat buku dan 100 jurnal. Nah, itu yang dimaksud dengan bertanyalah karena bisa!.

Mungkin jika suatu pertanyaan itu hadir dari anak kecil, siswa SD, SMP atau SMA. Tapi jika hadir dari seorang mahasiswa, akan beda rasanya. Ya, karena dia sudah mahasiswa gitu loh!

Malu bertanya memang akan sesat di jalan, tetapi banyak bertanya terkesan memalukan.

So, bertanyalah karena bisa!

Categories: #ALAMenulis

ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

2 Comments

bocah petualang · February 9, 2014 at 08:25

Sebenarnya bertanya hal ga penting itu juga menandakan kita malas membaca. Kalau udah baca, pasti ga akan tanya lagi. Biasanya kita mencari sesuatu yg praktis aja, nanya kan langsung dapat jawaban, ga perlu nyari, dan ga perlu baca pula.

The Raid 2: Berandal | Indah Julianti · March 27, 2014 at 21:04

[…] yang diikuti oleh teman-teman blogger Plat M yang kebetulan sedang ada di Jakarta yaitu Darul dan Wahyu Alam, juga ada Arlingga (blogger Ngalam) dan tentunya Mas Iwan, yang waktu diajak nonton film ini, […]

Berikan Komentar

%d bloggers like this: