Archive for the Buku Category

Indonesia Mengajar 2

Indonesia Mengajar, pasti sudah tahu tentang gerakan yang satu ini. Sebuah gerakan yang digagas Anis Baswedan aku kenal lewat tanyangan Kick Andy, kemudian mengenal lebih dekat dengan para Pengajar Muda yang bertugas di pelosok negeri lewat buku edisi pertamanya.

Tidak lama setelah membaca beberapa buku yang lain, buku Indonesia Mengajar sudah ada untuk edisi kedua. Judulnya Indonesia Mengajar 2. Buku ini, bukan sekadar memberikan wawasan tentang pendidikan di negeri ini. Tetapi juga memberikan pengetahun kepada pembacanya, bahwa Indonesia, di pelosok-pelosok sana, banyak pemandangan cantik dengan sejuta kearifan lokal yang terbentuk begitu saja. Buku ini lebih membuka mata kita, masyarakat Indonesia tentang keberadaan saudaranya di pelosok negeri. Continue reading Indonesia Mengajar 2

Pengantar Catatan Keyboard

Launching Buku Catatan Keyboard

Jum at malam, 22 Desember 2009, saat saya menjalani semester ketiga, sembilan manusia, yang kesemuanya laki-laki berkumpul untuk mengambil keputusan. Keputusan mahadahsyat nan penting harus kami ambil malam itu. Terpaksa, musibah, atau apapun kata yang mendeskripsikan keputusan sembilan manusia itu, menunjuk saya sebagai ketua Plat-M. Ada rasa cemas, takut, ragu bercampur aduk dengan rasa tertantang membuncah di pikiran ini saat pasrah menerima amanah dari sembilan manusia yang kami beri nama Deklarator Plat-M.

Sore itu, 23 Desember 2009, saat sinar matahari sore sudah sayu menjadi titik awal komunitas Plat-M untuk memulai hari, membuka cakrawala dunia, menantang keindahan langit Madura, dan menduniakan Madura. Hari di mana saya memberikan sambutan kali pertama sebagai Continue reading Pengantar Catatan Keyboard

Ganti Hati!

Buku pertama yang aku baca tentang Pak Dis adalah Dua Tangis Ribuan Tawa, meski buku itu pinjam, aku belajar bagaimana memanajemen organisasi yang saya pimpin. Dua Tangis Ribuan Tawa mengajarkan tentang teknik manajemen yang baik dengan segala kesulitan dan tantangannya.

Sebulan kemudian, aku membeli buku Sepatu Dahlan. Buku ini bukan ditulis Pak Dis, tetapi oleh Khrisna Pabichara. Tetapi buku seperti buku hariannya Pak Dis. Gaya bahasanya sama seperti gaya berpikir Pak Dis. Kekuatan dan ketabahan dalam hidup diajari dalam buku ini. Lebih dari sekadar kata kekuatan dan ketabahan, mungkin sangat sering kita baca dan dengar dari buku ataupun seminar motivasi.

Kalau diurutkan, seharusnya buku yang aku baca terlebih dahuulu itu Sepatu Dahlan, Ganti Hati kemudian dilanjutkan Dua Hati Ribuan Tawa.

Meski lagi-lagi pinjam dari seorang kawan, buku Ganti Hati ini menarik perhatianku. Meski sebenarnya covernya ngga terlalu menarik. Lebih keren kalau aku yang desain pakai CorelDraw sebenarnya. Juga di bawah tulisan “Ganti Hati” tertulis Tantangan Menjadi Menteri. Aku langsung berspekulasi bahwa buku ini akan menceritakan pergantian peran Pak Dis. Dari Direktur PLN (yang pengalaman aku baca di buku Dua Tangis Ribuan Tawa) menjadi seorang Menteri BUMN. Ganti hati dari PLN ke BUMN, makanya, buku ini diberi judul “Ganti Hati”, asumsi singkatku.

Namun, saat membaca isinya atau melihat halaman galeri foto yang berisi foto-foto di kertas glossy, aku baru tahu kalau buku ini bercerita benar-benar ganti hati. Kejadian yang sebenarnya, ya hati yang dimaksud, adalah organ dalam tubuh. Hati yang sebenarnya!.

Buku ini menceritakan secara mendetail tentang bagaimana proses transplantasi hati. Mulai penyebab, gejala, mengambil keputusan transplantasi, detik-detik saat transplantasi sampai masa-masa pasca transplantasi. Dari buku ini kita akan tahu bagaimana proses transplantasi, dan membuat kita lebih menghargai yang mananya “sehat!”.

Sesekali Pak Dis membawa pembacanya ke masa di mana beliau masih di desa Takeran. Beberapa kisah perjuangan selama di desa Takeran itu ternyata banyak berperan dalam kehidupannya yang sekarang. Dari buku ini juga aku baru tahu, kalau sebenarnya, tanggal lahirnya, bukan maksudnya hari lahirnya Pak Dis sama dengan hari lahirku. Selasa manis. Semoga aku bisa sama atau setidaknya meniru kegigihan beliau dalam bekerja. Semoga aku bisa meniru gaya kepemimpinan beliau yang sederhana tapi begitu tegas.

Kisahnya semasa kecil sangat mirip dengan Bapakku. Meski. Bapakku tertawa kalau membaca buku Sepatu Dahlan, Bapak teringat masa kecilnya yang sama persis seperti Pak Dahlan, tapi hanya saja antara Bapakku dengan Pak Dis berbeda profesinya sekarang. Ini semua karena pendidikan semata. Andai Bapakku bisa sekolah dan kuliah, mungkin bisa jadi seperi Pak Dis atau bahkan melampaui. Analisaku sedikit sombong! Hehehe.

Berikut salah satu kutipan yang aku suka dari buku Ganti Hati, bukan masalah transplantasinya, tetapi masalah jurnalistik, tulis-menulis:

“Sebuah tulisan yang deskripsinya kuat, begitu saya mengajarkan, bisa membawa pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri suatu kejadian. Deskripsi yang kuta bisa membuat seolah-olah merasakan sendiri kejadian itu. deskripsi yang kuta bahkan bisa menghidupkan imajinasi pembaca. Imajinasi pembaca kadang lebih hidup daripada sebuah foto. Inilah salah satu kunci kalau jurnalistik tulis masih diharapkan bisa bertahan di tengah arus jurnalistik audio visual.”

So, belilah bukunya dan rasakan sensasi pengalamannya Pak Dis!. Selamat membaca!

Sepatu Dahlan

Setelah puas membaca buku Dua Tangis Ribuan Tawa, rasanya aku ingin membaca kisah demi kisah perjuangan hidup Pak Dahlan Iskan. Bukan karena tindakan yang sering mengundang kontroversi di kalangan media. Tetapi pasti ada banyak pelajaran hidup semasa kecil sampai masa remaja Pak Dis.

Membaca sebuah biografi seseorang, siapun, orang sukses atau bukan. Pasti ada kisah menarik dan pelajaran yang bisa dipetik seperti memetik mangga yang sudah bergelantungan matang di pohonnya.

Khrisna Pabichara menulis novel ini begitu memukau. Benar kata A. Fuadi, ini jenis buku yang bikin candu. Banyak cerita yang di dalamnya tidak lurus begitu saja, konfliknya sulit ditebak kapan akhir dari setiap cerita. Banyak sekali kosa kata sastra yang bisa aku pelajari dari buku ini. Bukan hanya itu, tetapi lebih dari cara menulis novel, tetapi yang lebih penting adalah aku banyak sekali belajar dari kisah demi kisah di dalamnya. Meski tidak persis, buku ini kisahnya seperti kisah hidup Bapakku. Meski antara Bapak dan Pak Dahlan Iskan berbeda di akhir ceritanya, namun ada kesamaan kisahnya saat masih anak-anak dan dewasa.

Keluarga, lagi-lagi keluarga menjadi faktor sangat penting untuk mendidik karakter anak. Setinggi apapun belajar, kalau tidak didukung keluarga sulit untuk mencapai mimpi dan cita-citanya. Karena menurut Kartono (1992) : Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai mahluk sosial. Dalam keluarga umumnya anak ada dalam hubungan interaksi yang intim. Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, moral dan pendidikan anak. IPB menyebutkan bahwa Kemiskinan merupakan masalah multidimensi yang ditandai oleh rendahnya rata-rata kualitas hidup penduduk, pendidikan, kesehatan, gizi anak-anak, dan sumber air minum. Beban kemiskinan sangat dirasakan oleh kelompok-kelompok tertentu seperti perempuan dan anak-anak yang berakibat pada terancamnya masa depan oleh karena kekurangan gizi, dan rendahnya tingkat kesehatan dan pendidikan. Mungkin sebelum ada penelitian di IPB ini banyak anak-anak Indonesia yang menjadi korban keganasan kemiskinan.

Tokoh Bapak -Bapaknya Dahlan Iskan- dalam novel Sepatu Dahlan menjadi tokoh panutan. Tokoh yang sebenarnya tidak banyak di Indonesia. Andaikan semua bapak di Indonesia seperti Bapaknya Dahlan Iskan, tentu saja akan banyak anak-anak Indonesia yang tidak mudah menyerah. “Kita harus mencari, bukan berleha-leha menunggu belas kasihan orang”, begitulah prinsip Bapak dalam novel Sepatu Dahlan.

Kehangatan keluarga, lingkungan tempat tinggal, teman dan sahabat dibumbui mimpi-mimpi yang bergelayut seperti awan menjadi kisah kunci dalam novel ini. Kisah kunci yang juga akan menjadi kunci sukses untuk keluarga-keluarga di penjuru negeri dan permai ini. Takeran menjadi panggung mimpi oleh Dahlan Iskan dalam Sepatu Dahlan. Patut dibaca oleh siapa saja yang lagi hobi bersantai-santai dan bermalas-malasan saja.