Dago, Braga dan Gedung Sate

Kota Bandung. Kota yang begitu sejuk dengan dikelilingi gunung-gunung yang seolah melindungi kota Siliwangi. Berada lima di hari di kota ini begitu menjadi kenangan tersendiri.

https://fbcdn-sphotos-c-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/575534_4743762039909_438237383_n.jpg

Hari pertama dan kedua, karena ada urusan di ITB, aku memilih penginapan termurah yang berada di sekitar ITB. Informasi yang aku dapat dari internet ternyata masih bisa dikalahkan oleh GPS (Gunakan Penduduk Setempat) Ternyata masih ada penginapan yang lebih murah daripada penginapan yang ada di Dago.

Selain kota kaya kampus, Bandung memang sangat kaya dengan hotel, hostel, puri, wisma, guest house, ataupun penginapan sederhana. Sepanjang perjalanan ditemukan begitu banyak berbagai macam penginapan. Mulai dari untuk orang kelas atas hingga menengah.

Dago. Adalah lokasi pertama yang aku singgahi di Bandung. Kawasan ini seperti kawasan yang tak pernah sepi. Sebenarnya kawasan yang berada di sepanjang Jl. Ir. H. Juanda yang begitu panjang. Landmark Dago adalah taman yang sering dijadikan tempat  fotografer memburu gambar. Di taman ini terdapat sebuah tulisan D-A-G-O yang begitu besar. Mirip tulisan I-AM-A-M-S-T-E-R-D-A-M  di Belanda. Di sepanjang Jl. Ir. H. Juanda juga banyak terdapat kafe, mall hingga temapat nongkrong ala angkringan. Sebuah kawasan yang memanjakan anak muda Bandung. Kawasan ini juga langsung terhubung dengan Jalan Ganesha yang adalah pintu gerbang menuju kampus keren dan begitu terkenal, ITB.

Aku ngga bakal cerita tentang ITB, terlalu banyak hal menarik tentang kampus yang sempat menjadi tempat B. J Habibie dan Aburizal Bakrie menuntut ilmu.

Hari kedua, aku memilih berpindah tempat nginap. Karena ada sebuah hostel yang biasa dipakai backpacker untuk menginap. Adalah Chez Bon Hostel. Terletak di Jl. Braga. Membaca namanya, aku jadi teringat sebuah kota di Portugal. Braga adalah kota tempat tim sepakbola Italia menginap saat EURO 2004 di negaranya Cristiano Ronaldo tersebut.

Jl. Braga No.45 adalah alamat lengkap Chez Bon Hostel. Menuju kawasan ini cukup menggunakan angkot jurusan Stasion dari Dago. Angkot berwarna hijau dengan strip orange di tengahnya.

Malam, setelah capai beraktivitas di ITB, aku kembali ke penginapan. Benar saja, banyak bule yang lagi menginap di hostel kecil ini. Ah, ini kesempatanku untuk melatih conversation bahasa Inggrisku. Aku menyapa seorang cewek yang belakangan aku tahu dari Jerman dan sedang mengambil short course di Udayana, Bali. Dia sedang travelling ke Bandung. Dari cara dia berbicara dia sangat pandai. Setiap ada hal yang menarik, dia mencatatnya dalam sebuah buku hitam kecil. Bahkan aku berhasil membuatnya mencatat Madura ke dalam buku hitam yang sudah lusuh karena sering dibolak-balik sepertinya. Dia keliling Jawa untuk mengisi waktu liburannya. Pengetahuan tentang Bandung sepertinya dia tahu lebih awal daripada aku. Dia sudah membaca semua tentang Bandung, sehingga seolah dia sangat paham. Di tangannya, juga ada buku kecil berbahasa Indonesia dengan kamus. Dia sedang belajar bahasa. Baginya, dia sangat menarik untuk belajar bahasa Indonesia.

Menginap di Chez Bon Hostel bisa dapat bonus melatih conversation. Setelah bincang-bincang, aku mandi dan mencari makan ke luar hostel. Pemandangan diluar berubah total. Pemandangan di malam tidak seperti di siang. Banyak bar-bar yang buka dengan lampu yang redup. Di dalamnya terlihat turis-turis yang sedang bermain billiyard atau sekadar berpesta bir. Alunan musiknya menambah kesan kehidupan malam yang gemerlap. Ornamen gedung-gedung tua yang bejejer terlihat masih sangat terawat. Detail ornamen, musik,dan pemandangan di sekitarnya inilah yang membuat kawasan Braga benar-benar seperti di Eropa. Tidak sedikit fotografer yang terlihat lalu lalang mengabadikan kawasan yang seolah tidak pernah ada matinya ini.

Namun di siang hari, kawasan Braga ini berubah menjadi satu arah dengan berbagai karya artistik ala Bandung. Lukisan-lukisan dan kerajinan khas Sunda terlihat di beberapa outlet di siang hari. Bahkan ada teman sekamar dari Yogya yang rela bangun jam 4 pagi untuk prosesi foto pre-wedding dengan calon istrinya. Tempat ini sepertinya memang menarik jika diabadikan lewat lensa kamera.

Setelah empat hari diisi dengan kegiatan ke ITB, masjid Raya, Bandung Indah Plaza, pada hari terakhir di Bandung yang bertepatan di hari minggu. Aku bersama teman blogger bundaku, Indah Juli berkeliling Bandung.

Meski sebenarnya kami mengantuk karena semalam tidur tidak lama karena nonton final Liga Champions Eropa antara Dortmund vs Munchen yang dimenangkan oleh Munchen lewat gol Robben di dua menit akhir pertandingan, kami tetap semangat menikmat hari terakhir di Bandung.

Dago menjadi tempat yang sangat ramai. Kita berjalan dari taman Dago menuju Gazibo. Kawasan ini berada di depan gedung yang mewakili Jawa Barat, yaitu Gedung Sate. Selalu ada kesan istimewa saat mengunjungi tempat pertama kalinya. Gazibo ini adalah kawasan lapang yang berisi ratusan pejual yang mendirikan lapak-lapak mereka. Ribuan orang berjalan dan berkeliling menggerumungi penjual dengan berbagai barang jualannya. Celana jeans, sepatu, tas, patung, sandal, kaos, jersey Persib, hingga makanan khas Bandung tersedia. Mirip seperti ketika minggu pagi di Surabaya.

Mumpung di Bandung, nyempetin beli kaos dambaan ini.

Aku datang ke tempat ini dengan membeli jaket Manchester United dan kerak telor. Puas memutari Gazibo, aku dan bundaku Indah Juli kembali ke penginapan dan balik kanan pulang ke rumah masing-masing.

Kopdar dengan teman-teman blogger Bandung
Roti bakar, teman kopdar dengan blogger di Bandung di Jl. Ir Juanda (Dago)

ALAM

2 thoughts on “Dago, Braga dan Gedung Sate

  1. Kalau dari blog orang, ternyata bisa masuk ke blog ini. Atau memang sudah benar ya, nggak broken lagi 😀
    Nggak disebutin harga kaosnya berapa:p

Berikan Komentar