Desiran Darah Jawa Menyeruak Hingga Candi Sukuh

Aku hidup dan besar di Madura. Hingga sekarang, aku lebih sering berada di pulau garam, bekerja dan beraktivitas. Berkumpul dan berkomunitas menjadi salah satu prioritas dalam menjalani hari-hari di Madura.

Pembuka: Tari Kupu

Pertanyaannya, apakah tidak ingin keluar Madura? Saya langsung jawab, bahwa aku juga ingin keluar meninggalkan Madura. Tidak untuk selamanya, tetapi untuk melihat sisi yang lain dari Indonesia.

Legenda Timun Mas

Ah, terlalu banyak pujian yang harus aku tulis jika menulis tentang Indonesia. Seolah tak ada habisnya untuk menuliskan keindahannya. Sejak akhir 2012, aku mempunyai kesempatan untuk berkunjung ke tempat-tempat baru. Mulai dari Ponorogo, Semarang, Sumenep, Pamekasan, Sampang, Solo hingga Kediri. Tetapi, pastinya, aku lebih sering datang ke Lamongan.

Kemarin, untuk kelima kalinya, aku datang lagi ke Solo. Menghadiri undangan ASEAN Blogger Conference Indonesia 2013. Acara begitu menarik, tidak percaya? Search saja di google tentang kegiatan yang juga pernah aku ikuti di Bali, 2011 yang lalu. Sangat senang bisa bertemu dengan blogger, teman, sahabat, hingga bisa membawa teman-teman Plat-M ke Solo.

Jum’at malam. Aku keluar dari Hotel Kusuma Sahid tempatku menginap. Menuju Pura Mangkunegaran, di Joglo dengan empat saka guru ini diadakan pertunjukan tari di sana. Beberapa orang terlihat sudah berkumpul saat aku datang. Lampu menyorot ke panggung. Disediakan layar besar untuk para penonton yang tidak bisa melihat lebih dekat. Tidak lama sesaat aku mendekat. Tarian pertama dimulai. Tari Kupu menjadi pembuka. Alunan musik gamelan yang dibawakan langsung menambah kesan magis malam itu. Kemudian dilanjutkan dengan tari Sobra hingga pertujukan legenda masyarakat; Timun Emas.

Aku tak mampu berkata, aku terdiam, tanganku seolah tidak mampu lagi mengangkat tablet untuk sekadar ngetweet ataupun update status di Facebook. Aku melihat penari itu. Penari di depanku itu adalah gambaran bagaimana begitu anggun dan cantik-cantiknya wanita Indonesia. Begitu ramah. Alunan musik gamelan tambah membuat jiwaku bergetar. Seperti meniupkan kembali desiran-desiran darah jawaku. Aku masih teringat saat mbahku, menidurkanku dengan cara menyanyikannya lagu jawa yang aku sendiri ngga ngerti artinya. Namun, lagu itu begitu bermakna. Pasti. Kini di depan penari itu, aku mencoba terdiam dalam keramaian menikmati detik demi detik, sudut demi sudut hingga gerakan demi gerakan untuk melihat bahwa Indonesia itu begitu beragam.

Memang, Tak ada habisnya bicara tentang Solo. Bersama Yogyakarta, Solo menjadi pusat kehidupan masyarakat Jawa. Jika ingin mengetahui cara orang Jawa menjalani kehidupan datanglah ke dua kota ini. Dengan aneka budaya, kearifikan lokal, adat istiadat, sejarah dan segala peninggalan masa lalu masih tersimpan menakjubkan. Keraton hingga musium seolah menjadi saksi, bahwa kehidupan masa lalu masih tertinggal hingga sekarang. Kita masih bisa merasakan bagaimana budaya Jawa bergelayut dengan kehidupan masyarakat hingga kini. Gaya berbicara, bertindak, hingga berkehidupan ala orang Jawa perlu kita contoh.

Seperti ada yang kurang jika berkunjung ke Solo tanpa berwisata. Dengan rundown yang padat, panitia menyisipkan waktu dan beberapa tempat kepada peserta untuk menikmati berbagai wisata di Solo.

Selesainya acara indoor, peserta dibagi menjadi dua. Satu rombongan berkunjung ke Musium Sangiran, satu lagi termasuk aku, berangkat ke kaki gunung Lawu, melihat dari dekat candi yang konon terakhir dibangun di pulau Jawa.

ASEAN Blogger berlatarkan Candi Sukuh

Aku berangkat bersama beberapa rombongan yang lain. Bis ELF sewaan berderu dan rodanya mulai berputar. Kami berangkat.

Aku sengaja duduk paling depan bersama sopir, aku ingin melihat lebih dekat satu lagi kota menawan di negeri ini. Ditemani gerimis yang lumayan membahasi dedaunan di sekitar kami tiba di kawasan candi. Aku begitu suka suasana pegunungan seperti ini. Dingin sejuk dan menentramkan. Jauh dari deru klakson yang biasa kita dengarkan di kota. Suasananya mirip saat aku berpetualang di telaga Ngebel di Ponorogo.

Jalan akses menanjak. Air hujan membasahi hingga membuat permukaan jalan licin. Bis kami nyaris mundur. Aku dan semua peserta yang berada di dalam bis terperanjak turun.

Candi Sukuh dengan ornamennya yang memukau.

Justru hal ini membuat kami lebih menikmati pemandangan alam kawasan candi ini. Bunyi serangga khas pegunungan menyambut kedatangan kami.  Akhirnya, setelah dua jam perjalanan dari Solo, kami melihat candi yang tidak kalah menakjubkan dengan candi Prambanan. Candi ini bernama Candi Sukuh. Candi ini merupakan salah satu yang paling menarik di Asia Tenggara. Tidak hanya dari segi arsitektur yang menyerupai piramida terpancung Suku Maya di Amerika Tengah, namun yang paling unik adalah ornamennya yang erotis.

Tata letak candi ini bangunan memanjang ke belakang dan berunduk tiga teras, yaitu Jaba, Jaba Tengah dan Jeron. Untuk memasuki Jaba harus melewati gapura Cangapit, gapura yang terkenal dengan Lingga-Yoni yang terlukiskan pada lantai gapura. Menuju Jaba Tengah dan  Jeron, harus melalui Sela Setangkep yang terdapat profil candi yang berada di depan candi induk dengan arstitek pyramid terpancung.

Pada halaman candi ini banyak relief menggambarkan cerita Sudamala, Garudeya, dan Dewa Ruci. Ada banyak pelajaran d isana, salah satunya tentang seksualitas Candi Sukuh. Kuatnya aroma kisah percintaan di candi sukuh tergambar dari relief-relief yang ada seperti relief kidung Sudamala dan keberadaan Lingga Yoni sebagai lambang maskulinitas dan feminitas. Sudamala mengisahkan tentang pembebasan atau ruwatan Ranini dari wujud Durga menjadi Uma yang cantik. *Ngga ngerti apa itu Cuddha dan Mala? Cuddha itu berarti bersih dan Mala itu artinya dosa*. Sadewa yang telah berhasil membebaskan wujud jahat durga diberi gelar Suda Mala (menghapus wujud jahat). Begitulah jelas tour-guide yang dengan setia menjelaskan kepada kami.

Candi Sukuh ini, lanjut tour guide, termasuk candi Hindu yang diperkirakan berdiri pada abad XV, ia berfungsi sebagai tempat pemujaan, ditemukan oleh Johnson seorang penduduk yang hidup pada masa pemerintahan gubernur Raffles tahun 1815. Candi yang banyak menyimpan misteri ini, berada pada ketinggian 910 m dpl. terletak di Dusun Sukuh desa Berjo kecamatan Ngargoyaso, berdekatan dengan objek Grojogan Jumog.

Keberadaan candi ini menjadi bukti tingginya peradaban Indonesia di masa lalu. Berkunjung ke Candi ini kita tidak hanya diajak jauh ke lorong waktu masa silam. Dari ketinggian candi Sukuh, kita akan mendapatkan pemandangan yang tepat untuk menikmati hamparan hijau kebuh teh kemuning.

Hari ini, wahai Indonesia, sekali lagi, aku menjadi bangga menjadi bagianmu. Indonesia, dengan berjuta kekayaan khasanah warisan budaya dan sejarah bisa menjadi bekal dalam rangka mengenalkan potensi wisata bangsa kepada dunia internasional dan sebagai upaya konstruktif untuk mempersiapkan segalanya menuju komunitas ASEAN 2015.

ALAM

6 thoughts on “Desiran Darah Jawa Menyeruak Hingga Candi Sukuh

Berikan Komentar