Empat Konsep Acara dalam OTEMA Episode 4

Berkarya itu harus total. Kerahkan semua kemampuan. Tak peduli di mana tempatnya dan bekerjasama dengan siapa. OTEMA episode 4 adalah tantanganku berikutnya. Aku ingin menggabungkan empat konsep acara populer dalam satu sajian sederhana di Universitas Islam Madura.

Mata Najwa. Siapa yang tak kenal dengan program satu ini di Metro TV. Pertanyaan Najwa Shihab yang khas siap menusuk siapa saja bintang tamuanya. Dalam Program ini, diawali dan diakhiri narasi yang khas. Sajak dengan akhiran huruf yang sama menjadi akhir yang manis.

Ini Talkshow. Program baru dari NET yang menghebohkan. Tak butuh lama untuk menjadi favorit penonton. Kreativitas adalah kunci dari program ini. Totalitas semua kru yang terlibat menjadi pembeda. Program talkshow yang dibalut dengan komedi yang segar ala Sule dan Andre. Kadang pertanyaan yang disodorkan ke tamu tak penting, tapi bermakna. Surprise bagi setiap tamu wajib ada di setiap episode.

1 Indonesia. Masih dari NET. Dipandu host yang cerdas dan cantik, program ini salah satu favoritku. Meski lebih sering nonton di YouTube, aksi Marissa Anita saat mewawancarai tokoh yang dihadirkan selalu menarik. Tim di belakangnya pasti melakukan riset yang mendalam sebelum satu episode dimulai. Pertanyaan yang berdasarkan riset tentu memaksa narasumber berpikir.

TEDx. Merupakan organisasi bertaraf internasional dari negeri paman Sam. Acara TEDx pertama yang aku ikuti adalah TEDx Tugu Pahlawan di Surabaya beberapa waktu lalu. Konsepnya sama seperti TEDx dimanapun berada. Pembicara dipanggil MC, kemudian musik menjadi latar saat pembicara berjalan ke atas panggung. Tanpa basa-basi, apalagi absensi satu-persatu tamu undangan (khas Indonesia), pembicara langsung presentasi tentang materinya. Tak lama cukup dua puluh menit saja.

Talkshow Nurir Wahyu Alam

Keempat konsep acara di atas, aku coba ramu dalam OTEMA episode 4. Aku siapkan narasi pembuka dan penutup ala Mata Najwa. Pembicara diminta langsung presentasi ala TEDx, saat pembicara maju tentu harus ada musik yang menjadi backsound, kemudian dilanjutkan sedikit talkshow penuh tawa seperti Ini Talkshow. Tentu ada surprise seperti Sule memberikan kejutan untuk semua tamunya. Sebagai moderator, aku juga melakukan riset untuk memberikan pertanyaan yang cerdik seperti Marissa Anita di program 1 Indonesia. Dan acara ditutup dengan narasi setengah puisi dengan judul Pemuda Madura.

Itu lah konsep yang aku bawa dari rumah menuju Pamekasan. Tentu tidak mudah untuk diterapkan begitu saja. Aku harus membuat dua narasi. Pembuka dan penutup sekaligus. Kemudian memastikan di venue sudah terdapat kabel audio dari laptop ke sound-sytem, memberikan briefing kepada operator, MC dan pembicara utama. Semua harus dikoordinasi agar keempat kombinasi itu bisa berjalan mulus.

Apakah berjalan mulus? TIDAK!


Pertama, aku meminta Darul yang sedang pergi ke Malaysia untuk meluangkan waktu membuat video pembuka. Narasi sudah aku kirim ke emailnya. Ia sudah mengirimkan videonya selang beberapa jam. Saat ia berada di Bandara Soekarno-Hatta. Ia berhasil membaca sesuai permintaanku: tegas dan berwibawa. Tetapi masalah hadir ketika noise di bandara terlalu kencang. Suara pengumuman di Bandara nyaris menenggelamkan suaranya Darul. Tapi lumayan, dari ngga ada sama sekali.

Kedua, Berri Anam yang aku harapkan bisa menjadi operator canggih, dapat bermain cepat di komputer, memindah lagu satu ke lagu yang lain, menjalankan slide, dan memutarkan video. Saat aku ada di Pamekasan, Berri kabur ke Kalimantan. Ada acara mendadak. Oke, aku putuskan Agung Sutrisno sebagai pengganti. Tapi langkah kedua ini juga ngga berhasil. Si Agung lari entah kemana saat gladi bersih. Alhasil, Jullev yang datang jauh-jauh dari Jogja bersedia menjadi operator. Thanks, mas Jullev!

Ketiga, aku harus menyiapkan surprise untuk Nurir. Hingga hari H, aku tidak menemukan yang buatnya spesial. Aku baca lagi blognya, tak ada yang keterangan sesuatu benda yang bisa menjadi suprise. Ingin tanya teman dekatnya, tapi siapa ya? Ini sudah hari H, beberapa jam lagi acara dimulai. Hingga satu judul postingan membuatku menemukan surprise buat dia. Apa itu? Kartu XL. Ini kartu satu-satunya yang bisa digunakan di Amerika saat ia ke sana untuk pertama kalinya, 2011 lalu.

Bagaimana hasilnya?

Not bad.

Surprise yang sudah disiapkan, ditaruh di bawah meja. Kayak Ini Talkshow gitu. :P
Surprise yang sudah disiapkan, ditaruh di bawah meja. Kayak Ini Talkshow gitu. 😛

Semua berjalan lancar sesuai skenario. Hanya surprise yang diberikan ke Nurir sempat ngga percaya diri, karena Nurir sempat lupa menggunakan kartu itu di Amerika. Untungnya saat aku ingatkan, ia baru bisa bercerita dan mengatakan beneran suprise. Yes, berhasil!

Tentu jangan berharap tempatnya mewah seperti Ini Talkshow atau panggung megah seperti TEDx. Kami hanya Plat-M dengan UIM Pamekasan yang punya ide kreatif meski tempatnya sederhana. Setidaknya lewat OTEMA 4, Plat-M memberikan warna atau cara sederhana agar sebuah acara tidak berlangsung monoton. Harus ada ide kreatif di dalamnya.

Semoga saja semuanya terhibur. Semoga.

ALAM

4 thoughts on “Empat Konsep Acara dalam OTEMA Episode 4

Leave a Reply to Wahyu Alam Cancel reply