Epilogi: We One Big Family


Mempunyai keluarga besar merupakan suatu kekayaan begitu luar biasa yang diberikan Allah SWT. Apalagi saat ada perjumpaan setelah begitu sangat lama terpisah. Perjumpaan itu membawa ke sebuah dimensi masa lalu. Melaju di masa-masa anak-anak, bercerita dan mengingatkan kembali. Sungguh seperti melayang tidak tentu arah saat masa-masa kecil itu tergambar jelas di depan kepala. Mengungkap yang sudah lama terlupa. Ini lebih dari sebuah kenangan, air mata, kesusahan, kerja keras dan persaudaraan.

Sungguh sangat beruntung diri ini dilahirkan di keluarga besar, sangat besar. Dari Lamongan sampai Madura, dari Jakarta sampai Papua. Terlukis jelas. Begitu indah ketika kami bisa berkumpul lagi, meski waktu mengikat kita.

Canggihnya teknologi komunikasi seperti apapun tidak bisa menggantikan. Sekadar membaca pesan singkat melalui SMS, mendengar suara melalui telepon, pun melihat foto dan video melalui canggihnya internet tidak bisa mengalahkan perjumpaan lahiriah. Ketika bisa menatap wajah meronamu. Ketika tangan bisa berjabat erat. Ketika hidung ini bisa mencium tangan-tanganmu. Begitu tarasa keras kulit tanganmu -menandakan selalu bekerja keras-. Merasakan belaian tanganmu di kepalaku penuh harap. Menatap matanya yang berbinar seolah terlukis kerja keras. Melihat senyum yang mengembang darimu saat kuceritakan semua kisah saat kemarin kita terpisah.

Begitu indah rasanya. Semua tidak akan terjadi jika jarak ratusan kilometer dengan kejam memisahkan. Ratusan kilometer dengan mimpi-mimpi masing-masing. Melanjutkan hidup, menikmati detik demi detik waktu tersisa di dunia. Kalau sudah begitu tidak ada obat kerinduan kecuali sebuah pertemuan.
Putaran jarum jam tidak akan pernah berputar berbalik arah. Matahari tidak akan kembali dari barat ke timur. Waktu berjalan dengan cepat dan tak peduli siapa di depannya. Semua dilimbas dengan begitu kejam. Sampai ketika tibalah masa perpisahan. Belum habis rasanya kerinduan mengelupas dari kulit ini. Belum selesai beberapa cerita tentang hari kemarin. Hari saat kita berpisah. Saat kamu di sana dan aku di sini. Lagi-lagi aku tidak bisa menghentikan kencangnya laju waktu. Kini kita harus benar-benar kembali ke masa di mana aku sibuk dengan impianku. Kamu sibuk dengan mimpi-mimpimu. Kembali ke masa saat hanya bisa mendengar suaramu, melihatmu tidak bergerak di foto atau sekadar melihatmu di dari balik layar laptop. Aku, juga keluargaku, merindukanmu semua.

Tak tahu kapan kita bisa kembali bertatap muka, berjabat tangan, mencium tanganmu, melihat senyummu, tanpa halangan layar laptop juga bukan terlihat di kertas foto. Semoga waktu akan berbaik hati memberikan kesempatan kita untuk bertemu lagi. Hanya satu yang pasti: we are one big family.

***

Tulisan ini aku dedikasikan untuk semua paman-pamanku, bibi-bibiku, sepupu-sepupuku dan semua saudaraku di Papua, di Jakarta dan semua yang lagi merantau di manapun berada. We miss all of you!.

ALAM

Berikan Komentar