Filosofi “Se Laen Dheddhih” dari #3thPlatM

M. Faizi 2

Minggu yang begitu cerah. Matahari menyemburkan sinarnya dari balik jendela Hotel Mitra Land. Aku dan teman-teman Plat-M yang sudah dua hari berada di Mitra Land. Kemarin, baru saja #BisnisMaduraGoOnline selesai terselenggara di Telkom Sumenep. Rasa senang juga bangga karena bisa mengenalkan internet untuk para pegiat bisnis di Sumenep merupakan suatu hal yang luar biasa. Konsep “Toron Tana” yang diambil dari kalimat bahasa Inggris “Down to Earth” benar menggelora dalam jiwa. Selain mengenalkan Plat-M ke tanah Madura sendiri, juga berbagi sedikit ilmu tentang internet, tentang manfaat dan bagaimana memberlakukan internet secara sehat ke masyarakat Madura. Kemarin, Plat-M sudah share -meski ngga banyak- tentang manfaat internet untuk bisnis. Pesertanya yang sekitar 20 orang terlihat begitu antusias. Sungguh tidak menyangka, wabah internet sudah menyebar begitu dahsyat ke ujung timur pulau garam.

Hari ini, Minggu 23 Desember 2012, saat beberapa orang sibuk menanyakan apakah akan terjadi kiamat, kita sibuk menyiapkan perayaan hari ulang tahun sebuah komunitas. Komunitas ini begitu istimewa di mataku, mungkin juga di mata teman-teman anggota. 23 Desember 2012 adalah tepat berumur 3 tahun Plat-M.

Puluhan teman-teman yang beberapa sudah memakai kostum Plat-M merapat di taman bunga. Sebuah kawasan pariwisata terkenal di Sumenep. Semerbak harum bunga dan kerimbunan pepohonan yang tumbuh mengelilingi taman menyambut kedatangan 35 teman-teman Plat-M yang datang dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.

Seperti otomatis, banner kami dirikan. Kita duduk melingkar. Aku buka pertemuan yang istimewa ini dengan bacaan hamdallah. Berbeda, ya, kita ingin berbeda. Sedikit berubah kebiasaan lama yang selalu membuat acara di ruangan dan batasan tembok tebal dengan pancaran sinar lampu dan tembias projector untuk pemateri. Pagi ini, cuaca cerah. Taman bunga terlihat lebih asri daripada saat kemarau. Daun-daun pepohon lebih lebat dari biasanya. Kita duduk beralaskan sandal ataupun lantai taman bunga. Tidak lupa, berbagai banner yang kita bawa digelar untuk menarik perhatian masyarat Sumenep yang seliweran di depan kita.

Begitu sederhana dan tidak seperti biasanya. Tidak lama setelah aku buka, M. Faizi penyair Madura yang sangat terkenal datang dengan gaya nyentriknya. Pak Kyai yang beruntung pernah diminta membaca Puisi di Jerman ini datang demi sharing dengan teman-teman Plat-M tentang keindahan Madura.

Pak Kyai yang memakain sarung hijau strip hitam lengkap dengan pecinya ini berbicara begitu santai jauh dari kesan formal. Ada banyak hal yang aku dapat pelajari dari penulis buku Merentang Sajak Madura – Jerman ini. Beliau begitu paham beberapa sejarah sosial masyarakat Madura.

“Kalau berbicara keindahan Madura, tidak lepas dari namanya wisata. Di negeri ini sudah terlalu banyak wisata alam, sudah banyak tempat-tempat indah. Madura belum punya tempat wisata alam yang begitu menarik. Mungkin hanya wisata religi Madura itu yang paling menarik.” Jelasnya dengan gayanya yang khas.

“Keramahan orang Madura itu adalah wisata Madura yang sesungguhnya. Bagi yang suka memberikan statement minor tentang masyarakat Madura yang tempramental, kasar dan menyeramkan, cobalah datang ke Madura! Rasakan begitu ramahnya orang-orang Madura!”. tambahnya lagi.

Peserta yang datang merayakan #3thPlatM sesekali mengangguk-angguk dan tertawa lepas menyimak pemaparan M. Faizi. Ada pernyataan menarik yang dilontarkan M.Faizi. Menurutnya, selama beliau masih bisa menempuh suatu tempat dengan kol (kendaraan umum), maka selama itu beliau tidak akan memakai kendaraan pribadi.
“Saya ngga mau menambah suara klakson di jalan. Saya benci sekali suara klakson. Andai boleh usul, seharusnya ada peraturan yang mengharuskan klakson memakai equalizer, agar tambah enak suaranya”.

Begitu banyak filosofi yang bisa aku ambil pelajaran dari pembicaraan OTEMA ini. belum terhenti terpukau, lagi-lagi aku terdiam dan merasa kembali merasa sangat beruntung bisa datang dan berkumpul dengan teman-teman semua saat Kyai lagi-lagi menceritakan tentang filosofi hidup dari permainan anak-anak di Madura!

Sebelum memulai permainan, semisal rem-emrreman atau petak umpet, terlebih dahulu kita mencari siapa yang harus jadi pencari dan orang yang bersembunyi. Proses pencarian menggunakan beberpaa cara. Kalau hom-pimpa, gambreng sudah biasa. Madura juga punya cara tersendiri yaitu dengan meneriakkan se laen dheddhih -yang lain jadi- sambil membolak-balikkan tangan secara bersama-sama.

Ada filosofi mendalam yang terletak pada permainan se laen dheddhih ini. Artinya, kita harus menjadi pribadi yang berbeda dari teman-teman kita. Think different! Kalau kita hanya menjadi sama seperti kebanyakan orang ya tidak akan “dheddhih”, karena jelas dalam permainan itu disebutkan se laen dheddhih! yang artinya yang berbeda jadi!.

Kata “Jadi”yang dimaksud adalah, bisa jadi “orang”(hebat).

Begitu kena filosofi ini, aku terdiam, merinding dan tersenyum saat mengingat masa kecil saya bermain permaina ini. Filosofi se laen dheddhih begitu mendalam masuk melesat jauh dan tersimpan rapi dalam hati. Filosofi yang mengena dan menusuk hati.

ALAM

2 thoughts on “Filosofi “Se Laen Dheddhih” dari #3thPlatM

Berikan Komentar