Haru Wisuda

Baru kemarin rasanya aku dibentak-bentak kakak kelas di Ormaba, belum hilang rasanya ketika harus tidur tiga jam untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah, masih jelas terlihat bayang-bayang saat kamar seperti lautan kertas-kertas berisi makalah, proposal dan laporan untuk menggenapkan tugas kuliah.

***

Bangkalan, 29 September 2012

Gedung Cakra, gedung yang berbentuk persegi lima terletak di tengah kampus UTM mulai sesak dengan mahasiswa. Hanya saja kali ini mahasiswa tidak ada yang memakai jins juga kaos oblong, semua sudah memakai pakaian aneh bernama Toga dan datang bersama keluarganya.

Begitu juga denganku. Bapak, Ibu, Adik, Kakek dan Nenekku hadir ingin melihat prosesi yang baru pertama kali diikuti oleh keluarga besar Madura-Lamongan ini. Bangga rasanya menjadi sarjana pertama dalam keluarga besarku.

Lagu Gaudeamus igitur seperti memberikan aura sakral menyeruak dan menghipnotis siapa saja di gedung Cakra.

Lagu yang atinya “Karenanya marilah kita bergembira” adalah lagu berbahasa Latin yang merupakan lagu komersium akademik dan sering dinyanyikan di berbagai negara Eropa. Di negara-negara Barat, lagu ini dinyanyikan sebagai anthemdalam upacara kelulusan. Melodi lagu ini terinspirasi oleh lagu abad pertengahan, bishop of Bologna ciptaan Strada. Liriknya sendiri mencerminkan semangat para pelajar yang tetap semangat meskipun dengan pengetahuan bahwa pada suatu hari nanti kita semua akan mati, seperti terangkum dalam bait pertama pada baris ke-4 dan yang lebih diperjelas lagi pada isi bait ketiga, yang mengandung arti kesadaran akan dekatnya kematian dengankehidupan manusia di bumi ini.

Meskipun sering dipakai sebagai ‘lagu pembuka’ acara sebelum bersulang, sebagai sebuah kebiasaan di negara-negara Barat untuk merayakan sesuatu dengan minum bir, anggur, atau sampanye sebagai penghangat diri, lagu ini sendiri bukan dimaksudkan untuk mabuk-mabukan namun lebih kepada perayaan atas segala keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang, misalnya berhasil menyelesaikan pendidikan. Itulah sebabnya Gaudeamus igitur banyak dipakai di hampir seluruh universitas di dunia dalam acara wisuda.

Nyaris saja air mata ini menetes membasahi pipi saat aku dan 489 wisudawan-wisudawati yang hadir bersama-sama melantunkan lagu kebesaran Indonesia Raya. Patung Pancasila berwarna emas menatapku, aku jadi teringat saat-saat perjuanganku menyelesaikan tugas demi tugas kuliah, menarik pedal gas motor lebih kencang hanya untuk ingin datang tepat waktu. Berbagi waktu antar kuliah dengan kambingku yang juga perlu makan. Aku hanya bisa terdiam membisu menatap wajah foto Presiden SBY dan Wakil Presiden Boediono. Pak Rektor tenggelam dalam haru bercampur bangga melihat anak-anak didiknya di depannya memakai Toga.

“Nurwahyu Alamsyah Sarjana Komputer, dengan predikat sangat memuaskan”. Aku yakin nama ini yang ditunggu-tunggu keluargaku yang sudah menunggu di tribun.

Dengan iringan lagu Gaudeamus igitur dari paduan suara, kakiku melangkah menerima penghargaan dari Dekan Fakultas Teknik yang berjubah biru. Kemudian aku datangi Rektor. Aku tatap mukanya. Boleh saja beliau memikirkan bagaimana gedung-gedung baru di UTM ini bisa selesai tepat waktu, merancang sistem pendidikan untuk sekitar 5000 mahasiswa, akreditasi kampus, sampai masalah kegiatan mahasiswa. Tapi kali ini, saat ini, dengan memakai Toga dan berselendang logo UTM berwarna emas, lima detik ini waktu beliau hanya untuk aku dan mengucapkan “Selamat!” sambil berjabat erat tanganku. Aku mencoba berjabat tangan agak lama seraya mengatakan “mohon do’a restu, Pak!”. Wajahnya memerah dengan senyuman khasnya seolah memberikan do’a untukku dan juga semua anak didiknya. Aku turun dari podium, resmi sudah aku menjadi seorang Sarjana.

Panggung Senat Universitas Trunojoyo Madura menjadi background yang sangat mahal sepertinya, semua wisudawan bergantian berfoto di depannya. Aku sampai bingung menghadap ke kamera yang banyak memotret.

Terlihat Bapak, Ibu dan Adik turun dari tribun menghampiriku. Tiba-tiba ibu memelukku dan air matanya tidak tertahan. Wajahnya memerah. Begitu juga dengan Bapak. Aku peluk Bapak agak lama sampai Togaku mau lepas. Terlihat air matanya menghiasi pipinya. Aku ngga tau harus gimana. Aku benar-benar speechless. Bapak adalah orang terkasar yang pernah aku temui. Tangguh dalam mencari rumput, tenaganya sangat kuat, tangannya sangat kasar nyaris seperti tempelas kasar, Bapak sangat tegas, apalagi kalau anaknya bertingkah yang macam-macam, tidak segan untuk memberi peringatan, tapi baru sekarang  ini aku melihat Bapak menangis, saat aku menghadapnya dengan jubah hitam dan toga.

Semoga masih bisa dua kali wisuda lagi. Dream it!

ALAM

10 thoughts on “Haru Wisuda

    1. huuuumt indahnya merasakan kelulusan aku juga pernah mengalami hal tersebut hanya saja bukan sarjana cuman d1 saja, tapi ya seenggaknya sudah pernah merasakan hal tersebut. thx sharingnya mas bro, bahasa penggambaranmu akan perasaaan senang sungguh sangatlah bagus.

  1. Jadi inget pada saat dulu hampir ndak bisa kuliah hanya gara2 dana dan tidak menyangka sekarang bisa menjadi seperti ini sungguh2 Fabiayyiaala irobbikuma Tukadziban 🙂

    Selamat untuk Nur Wahyu Alamsyah.,S.Kom

Berikan Komentar