Holland: Creative Nation, Creative Peoples

Pakir sepeda di Belanda [0]

Parkir sepeda di Indonesia [1]

Browsing, siapa yang ngga suka kegiatan yang satu ini.Pertama buka browser adalah twitter.com, buka tab baru ketik facebook.com, tidak lupa gmail.com untuk cek imel apakah ada email baru. Setelah membalas mention di twitter, berkomentar di beberapa status facebook teman dan membalas baris demi baris email yang menghiasi inbox, sekarang searching dengan mesin pencari terbesar. Yak benar, “mbah Google” jawabannya.

Ketikkan kata Belanda di “kolom pencarian yang ajaib itu. Bagaikan hujan, deretan link yang menyediakan kata Belanda terhampar begitu saja di depan layar monitor. Scroll atas-scroll bawah, klik halaman 1,2, dan 3. Baca satu demi satu. Buka buku catatan, sebentar ada yang menarik, catat dulu ah!

Pasti sudah banyak yang tahu kalau dua pertiga dari daratan di Belanda berada di bawah permukaan laut, oleh karena itulah Pemerintah Belanda mengembangkan suatu konsep yang menjadikan hal tersebut bukan sebagai halangan justru sebagai peluang. Model Polder adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh pemerintah Belanda. Konsep ini memungkinkan setiap warga masyarakat boleh memberikan saran dan kritik. Dengan cara ini diharapkan bisa menyelesaikan masalah nasional. Konsep pemikiran dari masyarakat itu tidak hanya menolong Belanda dari ancaman air laut, tetapi juga menjadikan Belanda sangat piawai dan handal untuk menangani semua urusan air.

Demi urusan yang berhubungan dengan air saja, Belanda merancang sebuah model untuk mengelolanya. Indonesia patut mencontoh tuh!, kan kita negara maritim. Sangat kaya akan laut.

Tidak puas dengan satu halaman web, buka lagi tab browser Google Chrome yang berisi tentang fakta menarik negaranya Johan Cruyff ini. Kursor putihku terhenti pada satu halaman web yang identik dengan Belanda ditandai dengan backgroud oranye. Ambil pulpen dan buku, catat lagi!

Belanda membangun tanggul 17.000 km yang kira-kira sama panjang tembok Cina untuk melindungi  negeranya dari abrasi air laut. Selain itu konsep Polder itu juga menciptakan lingkungan yang subur untuk menghasilkan pelbagai temuan teknologi yang sukses dan inovatif bagi dunia modern ini.

Waw, tanggul saja hampir sama dengan tembok Cina, bisa diterapkan di Sidoarjo tuh. Untuk melindungi masyarakat Sidoarjo dari ancaman lumpur, iya kan?.

Kembali ke browser, beberapa pertanyaan seperti keluar dari kepala dan bisa terlihat. Aku buka tab Youtube.com, mesin pencari terbesar kedua ini menyajikannya dalam bentuk video. Pastinya akan lebih menarik. Tanpa disuruh langsung ketikkan kalimat “Hidup di Belanda”. Muncullah beberapa video menarik, langsung buka satu persatu. *mumpung koneksi sekencang kereta eksekutif gaya baru malam Surabaya – Jakarta*.

Eh, ternyata kalau di Belanda tidak terlalu membutuhkan mobil untuk pergi ke suatu tempat. Angkutan umum akan mengantarkan kita hampir ke semua tempat yang mau kita tuju. Kalau di Indonesia orang berlomba-lomba memiliki sepeda motor sampai-sampai susah cari tempat parkir, tapi kalau di Belanda sebagian besar orang menggunakan sepeda “onthel” tidak peduli apapun profesi atau status mereka. Kalau urusan perut, bangsa “Londo” tidak memiliki tradisi memasak. Umumnya “hot meal” hanya disajikan pada malam hari. Sarapan biasanya hanya terdiri dari roti dan keju, potongan daging atau selai. “sandwich” untuk makan siang, dengan tambahan sup, salad atau buah. Makan malam umunya kentang dan sayur dengan daging atau ikan.

***

Referensi:

  1. Buku Life and Study nuffic neso Indonesia
  2. Video studi di Belanda @ Youtube

Sumber Gambar/Foto:

[0]: http://mave.wordpress.com

[1]:  vivanews.come

ALAM

2 thoughts on “Holland: Creative Nation, Creative Peoples

  1. Budaya bersepeda di Belanda didukung dengan kondisi lingkungan mas. Di Belanda tanahnya relatif rata atau sedikit landai. Tidak ada dataran tinggi seperti di Indonesia, sehingga untuk mengayuh sepeda sejauh apapun, mereka tidak terlalu merasa capai 🙂

    1. Ini adalah excuse paling banyak dilontarkan oleh orang Indonesia, karena kontur tanah lah, panas lah, asap lah. Kalau saja pemerintah Indonesia lebih bisa memfasilitasi pengguna sepeda onthel, akan lain ceritanya.

Berikan Komentar