topa ladha tajin campur madura dan kobbhu khas desa Kebun kamal Bangkalan madura

Minggu pagi yang sibuk. Setidaknya ada empat jadwal yang datang bersamaan. Dengan segala pertimbangan yang jelas, entah bagaimana jadinya, akhirnya aku memutuskan menyambut Arie Parikesit menjadi pilihan. Agenda ke Lamongan tiba-tiba aku batalkan, bahkan dua acara pernikahan teman pun tak bisa kudatangi. Demi menyambut dan mengagungkan tamu.

***

Mobil Innova hitam melaju pelan memasuki gang sempit di timur perumahan Taloon Permai. Setelah melewati jalan Sumber Sari, mobil belok ke arah utara menuju suatu pedesaan bernama Desa Kebun Dusun Labang Laok. Benar, itu adalah nama desaku.

Ini adalah kali ketiga Arie Parikesit bertandang ke rumahku. Semoga kali ini tidak membosankan meski yang disantap adalah makanan yang sama dengan sebelumnya. Pertengahan 2013, aku ajak ia bersama tim warisan kuliner nusantara ke rumah, usai berkeliling menikmati warisan kuliner Madura. Kemudian yang kedua, ia mampir usai acara di Surabaya. Saat itu bersama wartawan dari Jakarta dan beberapa blogger Jawa Timur. Siapakah tamu yang akan diajak kali ini oleh Om Arie –begitu aku memanggilnya-?

Sempat kaget ketika yang keluar dari mobil adalah bule. Semacam acara di televisi: bule masuk desa. Adalah Eduard Roesdi dan keluarga besarnya yang datang jauh-jauh dari Belanda untuk berkeliling Jawa Timur. Bersyukur rumahku bisa dikunjungi chef terkenal dari kota Leiden, Belanda.

Keluarga di rumah sudah menyiapkan menu yang menurut kami sederhana. Tapi menu ini yang sudah biasa kami sajikan saat Arie Parikesit main ke Madura.

Sebagai pembuka, aku menyodorkan bungkusan nasi Serpang. Makanan khas Bangkalan ini hanya ada di pagi hari. Beruntung, Raden mau membelikan di Bangkalan kota sekaligus mengantarkannya ke rumah. Sayang Raden ngga bisa bertamu lebih lama, karena ia harus datang ke pesta pernikahan temannya yang sekaligus juga temanku.

Om Eduard langsung membuka bungkusan nasi Serpang. Ia menggeser-geser setiap komponen di dalamnya. Ada banyak komposisi di dalamnya. Ia mengintrograsiku dan Om Arie apa saja isinya. Om Arie lebih detil menjelaskan daripada aku. Senang rasanya melihat kedua ahli kuliner Indonesia – Belanda ini berdiskusi tentang masakan Madura.

Kobbhu’ menjadi makanan pembuka. Minuman yang terbuat dari campuran gula merah, serai, daun pandan dan dicampur dengan kelapa muda ini menyihir keluarga. Kedua anak Om Eduard langsung menyatakan minuman ini enak. Begitu juga dengan Renu Lubis, istri Om Eduard. Belum selesai mengunyah nasi Serpang, aku ajak mereka untuk ke dapur. Melihat proses memasak Topa’ Ladha khas Kamal dan Tajin (Bubur) Campur Madura.

Sebenarnya kurang percaya diri mengajak mereka memasak di dapurku yang tradisional. Berlantaikan tanah dengan genteng yang menghitam, serta peralatan yang digunakan ala orang Desa seperti Tomang (Tungku dalam bahasa Madura), Cobhik (Ulekan dalam Madura Madura), dsb.

Mungkin kesan vintage inilah yang sebenarnya membuat mereka tertarik.

memasak di dapur vintage desa kebun bangkalan

Keluargaku sibuk. Begitu juga dengan keluarga Om Eduard. Yang satu berbahasa Madura, yang satu berbahasa Belanda. Roaming pun tak bisa dihindari. Tiba-tiba dapurku serasa seperti Bandara. Ada berbagai bahasa di dalamnya. Yang satu sibuk mengomentari setiap sisi dan barang di dapur dalam bahasa Belanda, yang satu sibuk mengatur api dan proses memasak agar tidak mengubah rasa. Komunikasi pun terjadi, Om Eduard menanyakan dengan detil setiap bumbu yang kami pakai. Ia bahkan duduk jongkok untuk melihat apa saja yang ada di Chobik, memastikan tidak ada satu bumbu pun yang terlupakan. Tidak lupa beberapa gambar ia abadikan. Aku hanya memantau seperti supervisor suatu perusahaan saja.

topa ladha dan tajin

Kayu bakar mengeluarkan api di Tomang. Adonan demi adonan sudah memasuki tahap akhir. Memang yang dipilih adalah menu yang tidak butuh waktu lama untuk memasaknya. Kedua menu terakhir pun siap disajikan. Topa’ Ladha dan Tajin Campur Madura.

Keluarga dengan siap membawa kedua menu tersebut ke teras rumah. Beralaskan tikar yang sederhana Om Eduard mencicipi kedua menu tersebut. Tak lupa sebelum dimakan difoto terlebih dahulu. Dari cara menyajikan saja, sudah terlihat kalau Om Eduard sudah biasa melakukan platting. Ngga beda jauh lah, aku pun bisa kalau sekadar menaruh makanan di atas piring.

Enak. Begitu kata Tante Renu. Ia seperti ngga percaya adonan Ladha yang begitu sederhana bisa enak seperti itu. Bagiku ya rasanya biasa. Tak ada bedanya. Makanan itu kan cuma ada dua rasa: enak dan enak sekali.

Usai menyantap Tajin Campur Madura, dessert ala Desa Kebun, keluarga Om Eduard bercengkerama dengan keluargaku. Keponakan-keponakan yang berkumpul menjalin tawa bersama anak-anak Om Eduard. Meski mereka berbeda bahasa, tetapi tawa canda menghiasi Minggu siang.

Acara berkunjung usai. Mereka harus melanjutkan perjalanan untuk menikmati wisata kuliner yang lain. Bebek songkem menjadi pilihan berikutnya.

Selamat jalan Om Eduard dan Om Arie. Jangan bosen main ke Madura. Ditunggu kedatangannya lagi. Makan-makan lagi dan bersenang-senang di Madura.


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

3 Comments

Fahmi (catperku) · August 4, 2015 at 16:53

wah, pengen coba masakan madura juga :9 belom pernah coba masakan khas sana 😀

Fendi Chovi · August 5, 2015 at 11:05

Kok rasanya enak banget kemarin mas alam. sungguh aku ketagihan lagi. padahal saat itu benar2 kenyang …

Indah Susanti · August 5, 2015 at 16:37

Aku jadi lapar baca ini 🙂 kelihatan lezat banget 🙂

Berikan Komentar

%d bloggers like this: