Iftar Farewell Party di Kunming Islamic Restaurant

wahyualam.com - Kunming Islamic Restaurant - NTUST Lab

“Kita ngga apa-apa kan makan di tempat ini? Kalau oke, aku buatkan event di Facebook!” kata Zoe.

Aku langsung menyetujui karena restoran yang mereka pilih ada restoran halal. Tidak mudah mencari restoran halal di Taiwan. Hampir semua restoran menyajikan berbagai olahan daging babi.

Zoe membuat event di Facebook. Chen membuat chat khusus untuk mendiskusikan tentang agenda ini. Mereka dengan cepat mengeksekusi apa yang sudah menjadi kesepatan. Hsiao-Yun Tseng merangkum kembali hasil diskusi kemudian kembali ke meja kerjanya.

***

Minggu sore, langit Taipei cerah dengan awan yang menggumpal. Aku keluar dari dormitory dengan menggunakan batik Madura berwarna hijau. Aku hanya ingin tampil beda.

Aku berangkat dengan Zoe, Hsien-Kuo, Ano dan Prytania dari kampus. Sedangkan teman-teman yang lain langsung menuju restoran. Kami harus naik bis dari kampus menuju stasiun Liuzhangli, stasiun terdekat menuju Nanjing Fujing. Tidak sampai 20 menit, bis nomor 1 sudah sampai di halte bis Liuzhangli. Kami menempelkan easy card dan keluar dari bis. Saat turun, aku memperhatikan bis ternyata miring ke arah trotoar, baru kembali ke bentuk semua saat sopir mengangkat tuas pegasnya. Canggih.

Kemudian kami masuk ke stasiun Liuzhangli dan naik MRT jurusan Taipei Nangang Exhibition Center. Karena ini jalur cokelat, maka kami harus naik MRT edisi tanpa masinis.

Butuh waktu perjalanan hampir 30 menit, sebelum akhirnya kami sampai di stasiun Nanjing Fuxing. Sesuai petunjuk Google Maps, kami menuju pintu Exit 5 kemudian berjalan kaki menuju Kunming Islamic Restaurant.

Di depan restoran sudah ada Chen menunggu di atas motornya.

“Welcome to Taipei!” aku menyapa Chen sambil bercanda.

Kunming Islami Restaurant 2

Saat kami masuk ke restoran, kesan Timur Tengah langsung terasa. Ornamen-ornamen di dalamnya didesain dengan kreatif agar kita merasa sedang berada di Arab Saudi. Temboknya dicat dengan warna yang cerah. Foto Ka’bah berada di langit-langit bersinar terkena lampu, foto raksasa Masjidil Haram dan Masjid Madinah pun terpasang di salah satu suduh ruangan. Semakin unik dengan meja yang dipenuhi oleh lembaran uang dari berbagai negara. Meja dilapisi kaca sehingga kita bisa melihat dengan jelas lembaran-lembaran mata uang tersebut. Aku juga melihat uang sepuluh ribu Rupiah, Dolar Amerika, Yen China dan tentu Dolar Taiwan. Tidak lupa sentuhan kaligrafi Arab menambah kesan Islami restoran ini.

Kuming Islamic Restaurant 3

Kami diberikan ruangan khusus yang terpisah dengan pengunjung lain. Kami duduk tepat di bawah foto Masjid Nabawi Madihah. Foto raksasa itu dilengkapi dengan lafadz Allah. Tak pelak membuat teman-teman bertanya, itu foto apa dan apa arti dari tulisan itu. Aku menjelaskan singkat kepada mereka.

Kami masih terpesona dengan suasana restoran. Aku beberapa kali mengambil gambar setiap sudut restoran. Teman-teman pun terlihat melakukan hal yang sama. Tak lama kemudian Tseng dan Jhen datang bergabung bersama kami.

Kunming Islamic Restaurant

Untuk menu makanannya, restoran ini menyediakan berbagai menu seperti nasi briyani, chana masala, opor ayam, daging bumbu, arabian salad, roti chapati, hingga aneka seafood. Untuk minumnya bisa memilih aneka teh, jus atau air putih.

Mereka menyerahkan kepadaku sepenuhnya, apa saja yang harus perlu dipesan. Aku memilih nasi briyani, lauk ayam, daging, ikan dan Arabian salad. Aku pesan beberapa agar bisa dimakan bersama-sama, tidak lupa roti chapati dan Arabic Milk Tea menjadi menu penutup.

“Xiexie, Thank you, Terima kasih, Sukron!” kata pelayan sambil mengambil buku menu dan meninggalkan kami.

Sambil menunggu pesanan, kami terlibat berbagai perbicangan.

Kuming Islamic Restaurant 1

Pelayan kembali datang menghentikan perbincangan kami. Ia terlihat diskusi serius dengan Tseng. Dari bahasa tubuhnya, sepertinya ia menanyakan siapa yang berpuasa hari ini. Tseng dan teman-teman yang lain menunjuk ke aku. Pelayan itu mengangguk sambil meninggalkan kami seperti mau mengambil sesuatu. Tak lama, pelayan kembali dengan membawa beberapa biji kurma yang disajikan di mangkok kecil. Semua teman terkaget, kecuali Prytania dan Tseng yang tidak kaget karena sudah tahu tentang kurma.

“Sir, remember. Six fifty!” Pelayan mengingatkan sambil menepuk pundakku.

“Xiexie. Sukron. Terima kasih!” aku menjawab menirukan gayanya.

Kemudian perbincangan kembali ke topik puasa. Pelayan kembali dengan membawa cerek dan gelas khas India. Si pelayan dengan ramah melayani kami. Bahkan ia sabar menjawab satu persatu saat mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari teman-teman Taiwan. Mereka terlibat diskusi tentang Islam, puasa, Allah dan Muhammad. Setidaknya kata itu yang aku dengar dari perbincangan mereka. Aku senang bapak yang juga Muslim asal Myanmar ini juga mengenalkan Islam kepada teman-teman lab.

Kunming Islamic Restaurant Taipei Taiwan

“Alam, be patient, three minutes later!” kata Tseng.

“You don’t hungry, Alam?” kata Hsien-Kuo.

Aku tersenyum mendapat perhatian dari mereka.

Waktu sudah menunjukkan 6.50, aku membaca doa berbuka puasa dilanjut menyantap kurma dan air putih. Mereka pun baru ikut makan kurma saat aku sudah berbuka puasa. Dari raut mukanya, mereka sepertinya belum pernah makan kurma sebelumnya.

Tak lama berselang, Michael datang hampir bersamaan dengan kedatangan menu yang sudah kami pesan. Kedatangan Michael semakin menambah kehangatan suasana.

“Michael, kamu pesan apa?” Tanyaku.

“Don’t worry, I trust you, boss!” Jawab Michael yang selalu membuat kami tertawa.

Menu sudah siap. Kami pun larut dalam berbuka puasa bersama. Satu per satu menu berpindah ke piring masing-masing. Aku melihat raut muka mereka. Beberapa diantara mereka baru pertama kali makan masakan khas India dan Timur Tengah seperti ini.

Usai makan aku tanya dimana Mushola ke pelayan. Ia memintaku untuk sholat di dekat meja kosong, persis berada sebelah tempat kami duduk. Aku pun mengambil wudhu dan bersiap sholat Maghrib.

Saat aku keluar dari kamar mandi dan melihat kompas di ponsel. Tiba-tiba pelayan menaruh sajadah sesuai arah kiblat dan mempersilahkanku sholat Maghrib. Teman-teman lab melihat dan kebingungan melihat aku mau beribadah.

Kunming Islamic Restaurant Taipei

Aku larut dalam ruku’ dan sujud Sholat Maghrib. Ini pertama kalinya aku sholat di depan teman-teman lab. Langsung di depan mereka. Aku tak bermaksud pamer, karena waktu sholat Maghrib memang singkat. Sudah tak memungkinkan lagi. Tak ada pilihan, aku harus sholat di restoran ini.

Aku juga senang karena sangat dimudahkan dengan adanya tempat wudhu di dalam kamar mandi. Sesuatu yang jarang terjadi jika masuk ke toilet umum di Taiwan.

Usai sholat, aku kembali ke meja makan. Melihat aku selesai sholat, topik pembicaraan mereka beralih tentang agama. Kami semua terbuka dan ngga ada yang ditutup-tutupi. Tawa canda menghiasi Kunming Islamic Restaurant.

“Alam, kami menyiapkan hadiah kecil untuk kamu” Kata Tseng sambil memberi aba-aba ke Zoe.

Zoe mengeluarkan papan ucapan kecil yang terbuat dari kayu berukuran 20×10 cm. Papan ucapan itu sudah tertulis pesan-pesan terakhir dari semua teman lab. Aku terharu menerimanya. Ngga hanya itu. Aku tidak boleh ikut sumbangan. Mereka semua yang mentraktir aku hari ini.

“Kali ini kami yang traktir. Kamu ngga perlu bayar. Tapi jika kami berkunjung ke Indonesia, kamu harus gantian mentraktir kami. Harus.” Kata Tseng yang diamini oleh teman-teman yang lain.

Kami menunggu Yin-Jhen selesai menulis PR-nya. Tak salah rasanya, jika kami menjuluki Yin-Jhen sebagai wanita paling sibuk di dunia. Saat makan malam bersama pun di masih sempat-sempatnya menulis PR. Acara iftar dan farewell party pun ditutup dengan berfoto bersama-sama.

Terharu, senang dan sedih adalah rasa yang pas menggambarkan suasana malam itu. Terima kasih semua teman-teman. Aku tunggu kedatangan kalian di Indonesia!

ALAM

2 thoughts on “Iftar Farewell Party di Kunming Islamic Restaurant

Berikan Komentar