Ikut Melunasi Janji Kemerdekaan

Hari ini kondisi kita jauh lebih maju daripada saat kita menyatakan merdeka. Saat republik berdiri, angka buta huruf adalah 95%. Saya membayangkan betapa beratnya beban para pemimpin republik muda di waktu itu. Mereka harus menggerakan kemajuan dari nol, dari nol besar. Puluhan juta rakyatnya sanggup berjuang dalam revolusi kemerdekaan, tapi tidak sanggup menuliskan namanya sendiri. Hari ini melalui kerja kolektif seluruh bangsa, kita berhasil memutarbalikan hingga tinggal 8% yang buta huruf. Tidak banyak bangsa besar di dunia yang dalam waktu 60 tahun bisa berubah sedrastis ini.

Itu prestasi kolosal, dan kita boleh bangga. Tapi daftar masalah yang belum terselesaikan masih panjang. Melek huruf adalah langkah awal. Langkah berikutnya adalah akses yang merata, akses untuk setiap anak pada pendidikan berkualitas. Pendidikan berkualitas adalah kunci mengkonversi dari kemiskinan dan keterbelakangan menjadi kemajuan, menjadi bangsa yang cerdas, adil dan makmur.

Garda terdepan dalam soal pendidikan ini adalah guru. Di balik kompleksitas perdebatan yang rumit dan panjang soal sistem pendidikan, soal kurikulum, soal ujian dan semacamnya, berdiri para guru. Mereka bersahaja, berdiri di depan anak didiknya; mereka mendidik, merangsang dan menginspirasi. Dalam himpitan tekanan ekonomi, mereka hadir di hati anak-anak Indonesia. Hati mereka bergetar setiap melihat anak-anak itu menjadi orang di kemudian hari. Setiap ucapan terima kasih adalah tanda atas pahala guru-guru ini. Mereka adalah profesi terpercaya, pada pundak guru-guru ini kita titipkan persiapan masa depan republik ini.

Hari ini kita berhadapan dengan masalah: variasi kualitas guru dan distribusi guru. Menghadapi masalah ini kita bisa berkeluh kesah, menyalahkan negara dan menuding pemerintah. Atau kita gulungkan lengan baju dan berbuat sesuatu. Saya mengajak kita semua untuk turun tangan. Libatkan diri kita untuk mempersiapkan masa depan republik. Untuk kita, untuk masa depan anak-anak kita dan untuk melunasi janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa. – Anies Baswedan

__kelas X1 SMAN 4 Bangkalan
Siswaku, kelas X1, SMAN 4 Bangkalan

Jiwaku langsung bergetar dan seolah berontak. Aku langsung membulatkan tekad untuk mengajar. Aku tertarik saat usai membaca pengantar Anies Baswedan di buku Indonesia Mengajar edisi pertama. Buku inilah yang membuat jiwaku tergerak untuk mengajar.

Awalnya, aku berniat untuk mendaftar menjadi pengajar muda di Indonesia Mengajar. Namun, jemariku berhenti mengetik dan seolah menolak untuk melanjutkan. Aku takut diterima dan lolos. Jika begitu, aku pasti akan dikirim ke pelosok negeri ini mengajar murid SD. Dikirim ke wilayah tertinggal dengan fasilitas yang sangat minim, bahkan tanpa listrik.

Ketakutan itu aku balik, tiba-tiba muncul pertanyaan: kenapa tidak mengajar di Bangkalan saja? toh, daerah ini masih bisa dikatakan daerah tertinggal daripada daerah-daerah atau kota-kota yang lain. Ya, daripada aku mengajar di pelosok negeri yang tidak pernah kusinggahi, kenapa aku tidak mengabdi untuk Madura, untuk Bangkalan, tanah yang baunya aku cium sejak aku lahir. Baiklah, aku putuskan untuk mengajar di Bangkalan.

Tekadku sudah bulat, aku melupakan iming-iming  gaji tinggi dari beberapa perusahaan. Aku lupakan lowongan pekerjaan dengan gaji memikat. Bahkan tawaran dari Jakarta aku tolak, demi satu hal: aku ingin ikut melunasi janji kemerdekaan, ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.

Lantas, apakah aku harus jadi guru selamanya? TIDAK! aku ingin sama seperti Indonesia Mengajar. Hanya satu tahun. Ya, satu tahun cukup untuk mengabdikan diri untuk Madura, untuk anak-anak Madura. Aku ingin berdiri di depan mereka. Melihat lugunya wajah-wajah mereka. Memberikan motivasi kepada mereka, melakukan diluar kebiasaan guru-guru senior. Dan aku akan berbuat sesuatu yang jarang ada di RPP ataupun Silabus guru-guru. Aku akan tanamkan pelajaran TIK dengan berbau motivasi dan agama dengan media pembelajaran yang interaktif. Aku siapkan video-video tentang TIK, aku siapkan video-video animasi, aku siapkan cerita-cerita menarik, juga tidak lupa aku beli speaker kecil untuk mendukung aktivitas pembelajaran. Aku ingin tampil beda. Berbeda dari kebanyakan orang.

Namun, aku tidak mau menjadi guru. Ini bukan berarti aku benci profesi guru. Bukan berarti guru profesi yang buruk, bukan. Guru itu sangat mulia dan perannya begitu dahsyat. Namun, ada “sesuatu” yang salah di tempatku tinggal, sesuatu itu tidak bisa kami ubah. Karena pada dasarnya: bekerja itu dibayar bukan membayar!

Lepas dari ada yang salah di tempatku lahir, aku tetap bangga pernah menjadi guru. Pernah memberikan inspirasi dan sedikit ilmu yang kupunya langsung ke anak-anak Madura. Menyentuh tangannya, menepuk pundaknya, hingga menyentuh hatinya yang paling dalam. Aku bangga akan semua itu, setidaknya, aku ikut melunasi janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa.

***
Note:
Tulisan ini saya persembahkan untuk SMA Negeri 4 Bangkalan (Januari – Desember 2013) dan SMA Muhammadiyah 1 Bangkalan (Agustus 2012 – Desember 2013), sekolah dimana saya pernah mengajar disana. Saya memang mengajar di sana, tetapi sebenarnya sayalah yang belajar banyak dari mereka.

 

ALAM

Berikan Komentar