Kami Datang, Melunasi Janji Tahun Lalu

Bila kau merasa sedih
Ingatlah bahwa kau tak sendiri
Tanpamu tak akan sama, tanpamu semua berbeda
Kisahmu juga kisahku, selalu bersama
(Nidji – Di atas awan)

Setahun itu waktu yang tidak sebentar. Setahun itu pula geng Rangers berkumpul bersama. Makan bersama, menghabiskan waktu bersama, diujung status menjadi mahasiswa. Aku masih ingat betul, saat kamu datang dan menghampiriku, Joko, Rendra dan Linda yang sudah memakai toga lebih dulu. Kamu menangis dan air matamu tak terbentung. Diantara senang dan sedih. Egie, maaf kami harus wisuda sekarang. Kami yakin, bahwa kamu akan segera menyusul. Kami berjanji kepadamu, dikeramaian wisudawan yang lain, di gedung cakra ini, kita akan bertemu lagi untuk melihatmu memakai toga, waktu itu akan segera tiba. Semangat ya!

Rangers 2

Itulah peristiwa tepat tahun lalu, dan setahun kemudian, kamu melunasi janjimu untuk wisuda dan memakai topi paling didambakan semua mahasiswa, yaitu toga.

Aku sudah dihubungi oleh Linda dua bulan sebelum hari wisudamu. Keempat Rangers berkonspirasi untuk memberikan kejutan kepadamu. Kami bersekongkol. Aku, Linda, Joko dan Rendra sudah sepakat untuk menjawab “tidak akan hadir” jika kamu bertanya, tentang kedatangan kami di hari wisudamu, Egie.

Dua hari sebelum hari wisuda, Linda sudah telpon aku. Linda mengatakan bahwa Egie sedang galau tingkat akut karena kami tidak bisa datang. Saking galaunya Egie menulis di Facebook: Wisuda, Wis Uda. Kami ketawa melihat status itu muncul di beranda kami. Untung saja Egie ngga tanya kepadaku. Aku akan jawab lebih kejam dari Linda. 😀

Hari wisuda-pun tiba, keempat Rangers sudah bersiap untuk berkumpul lagi di kampus. Aku ijin untuk pulang lebih awal dari sekolah, Linda rela menempuh jalan Tuban-Surabaya-Madura selama 3 jam demi janji kita. Rendra terpaksa tidak fokus saat menunaikan kewajiban medical check up dari kantornya, Joko harus meluangkan waktu weekend bersama calon istrinya untuk datang ke wisudanya Egie, demi janji kita, janji Rangers.

Pagi hari, saat aku berada di atas motor menuju sekolah, aku mencari ide, agar pertemuan yang dirahasiakan ini lebih berkesan. Dan sepertinya, ide itu lewat begitu saja, secepat hembusan udara yang kuhadapi. Oke, aku yakin ide ini pasti spesial dan tidak akan terlupakan sepanjang hidupnya Egie. Ah, ngga sabar berada di tribun gedung cakra melihat Egie memakai Toga.

Setelah menunaikan kewajibanku mengajar, aku kembali ke rumah dan bergegas rapi berangkat ke kampus. Ini adalah pertemuan pertama kami dengan geng Rangers. Ah, rindu rasanya berkumpul dan bercanda denganmu, Rangers!

Kampus sudah berubah menjadi lahan parkir raksasa, tidak peduli tanah tak beraspal, semuanya rata dengan mobil yang parkir. Sudah mirip dengan parkir mall di Surabaya. Ruangan fakultas dan RKB sudah seperti halaman rumah sakit. Keluarga wisudawan/wisudawati sudah menunggu, bahkan sampai ada yang menggelar tikar sambil tidur-tiduran. Jelas, ini adalah momen yang tidak akan dilupakan oleh semua wisudawan/wisudawati.

Ponselku berdering, Linda sudah beri sinyal berada di lokasi. Sekelebat mata, Joko datang dari balik tembok toilet. Cyntia, calon istri Joko mengekor setelahnya. Ngga lama giliran si Rendra yang sudah siap dengan kamera DSLR menyapa kami dari parkiran motor. Lengkap empat Rangers dan Cyntia.

Guys, aku punya kejutan buat Egie. Ayo kita ke atas dan tunjukkan kejutan itu. Lets Go!

Ruangan cakra berubah seperti lautan manusia dengan toga di kepala. Warna-warna membedakan setiap fakultas. Biru adalah warna kebanggaan bagi fakultas teknik. Beberapa keluarga yang ingin melihat anaknya, juga terlihat begitu santai duduk di tribun. Rasanya bangunan ini sudah tidak muat. Penuh sesak.

Kami berempat tidak menampak diri kepada Egie. Aku mengeluarkan kejutan itu. Aku keluarkan empat kertas putih yang sudah bertuliskan huruf E-G-I-E. Joko, Rendra, Linda dan aku memegang satu kertas. Dan berjalan ke tempat yang menjadi titik yang dapat dilihat semua wisudawan/wisudawati. Semua penonton dari segala penjuru tertuju kepada aksi kita. Aksi keempat Rangers mengundang kameramen yang bertugas mengabadikan momen, mengarahkan kameranya ke arah kami berempat. Ya, kami di-shoot. Kami tambah semangat sambil memerhatikan satu demi satu, dimanakah Egie berada.

Egie, kami datang untukmu. Menepati janji kami setahun yang lalu, gumamku dalam hati. Akhirnya, kami berempat melihat Egie. Dia memakai kerudung pink, duduk diantara lautan wisudawan dan wisudawati yang memakai jubah dengan strip biru. Egie melambaikan tangannya. Dia tak kuasa untuk menahan tangis, air matanya deras mengucur saat kami membalas lambaian tangannya. Dia pasti ngga bakal menyangka bahwa kami berempat bakal datang ke wisudanya. Sebuah pesan WhatApps darinya menuliskan bahwa kami telah merusak make-up-nya. Dia menangis, dan kejutan kami berhasil!

Rangers

Usai acara sakral itu, kami habiskan waktu untuk berfoto, dan makan rujak Mbak Yam bersama. Asli, saat kami beriringan naik motor melewati jalanan kampus yang sempit, serasa kembali ke 18 bulan yang lalu, kala kami masih menuntut ilmu di tempat ini, kampus tercinta ini, Universitas Trunojoyo Madura. Aku membonceng Egie, Rendra bersama Linda dan Joko bersama tunangannya, Cyntia. Persis kala kami pulang kuliah di RKB A.

Kami, geng Rangers, kini sudah lengkap. Semuanya sudah sarjana. Menuntaskan tugas menjadi seorang mahasiswa. Acara temu kangen kami dilanjutkan dengan makan rujak, dan bercanda gurau, melepas rindu dan bercerita ria di pantai Jagat, di Jalagatra, Kamal.

Keep moving ON, Egie. Kisahmu juga kisahku. Kisah kita. Dan kita akan selalu bersama.

 

ALAM

2 thoughts on “Kami Datang, Melunasi Janji Tahun Lalu

  1. :)) subhanallah.. saya bacanya senenh deg deg an dan akhirnya nangis dengan tersenyum :))
    mbak egie keren, sampean punya sahabat yang keren2 :))

Berikan Komentar