Kata yang Hilang

suasana malam gongguan, taipei
Gemerlap malam di Gongguan, Taipei

Cepat. Dinamis. Fokus. Komitmen. Rendah hati.

Begitu kaki ini menginjak tanah Taiwan, aku melihat manusia berjalan lebih cepat. Langkah mereka pasti dan dinamis. Tatapan mata mereka menggambarkan fokus dan punya komitmen tinggi pada pekerjaannya. Meski begitu, jika aku menghentikan mereka dan bertanya sesuatu hal, mereka dengan rendah hati dan sabar memberi tahu apa yang kita tanyakan. Secepat apapun mereka, sefokus bagaimanapun, jika ada orang butuh bantuan, mereka akan membantu sampai urusannya selesai. Mereka bahkan tidak segan mengantarkan ke tempat yang ditanyakan, tak peduli seberapa jauh tempat itu. Begitulah manusia Taiwan: paling tidak suka mengurusi urusan orang lain, tetapi paling peduli jika ada yang memerlukannya.

Aku seperti merasakan ada kata yang hilang dari dalam pikiran mereka. Entah bagaimana awal mulanya sehingga mereka menghapus kata ini. Mungkin jika kita buka kamus hidup mereka, ada satu kata yang hilang. Mereka tidak punya kata ini. Ya, kata ini bernama: MALAS!

Apapun pekerjaan mereka. Dimanapun mereka bekerja. Malas tidak pernah sekali terlihat dari cara berjalan, tatapan mata,  hingga cara menyelesaikan setiap pekerjaan.

Kita mulai dari yang paling dekat.

Usai shalat Subuh, membaca beberapa lembar Al-Quran, beberapa bab buku dan menulis blog, aku biasanya pergi ke kamar mandi. Setiap pagi, mulai jam 9 pagi, ada dua orang petugas pembersih kamar mandi. Ada empat bagian: Kamar mandi, toilet, tempat sampah dan tempat cuci piring atau semacam wastafel. Wajah dua petugas ini terlihat tersenyum. Mereka begitu ramah, bahkan menunduk saat aku bertatap muka dengannya. Aku selalu membalas senyum dan ikut menunduk seperti yang mereka lakukan. Tak ada wajah cemberut apalagi sembarangan dalam bekerja. Totalitas sudah terlihat dari cara mereka berpakaian. Tangan mereka selalu terbungkus pelindung plastik. Begitu  juga dengan pinggang mereka. Bekerja di dalam toilet, bukan berarti tidak memperhatikan kebersihan dirinya. Tangannya begitu cekatan mengumpulkan sampah berdasarkan jenisnya, mengganti kantong plastik di dalam kotak sampah, hingga memastikan semua area di kamar mandi bersih dan rapi. Seperti biasanya, jika ada barang tertinggal, mereka akan membiarkan di tempat yang sama. Aku pernah sengaja menaruh sampo yang penuh di dalam kamar mandi, hingga sebulan sampo itu masih ada di tempat yang sama, bahkan isinya masih sama.

kantin ntust
Suasana kantin di kampus NTUST

Usai bekerja di dalam toilet, mereka membersihkan area di luar toilet. Kegiatan seperti menyapu halaman belakang dormitory sering aku lihat dari balik jendela kamar. Saat angin Typhoon datang, mereka berdua cekatan membersihkan satu demi satu ranting dan daun yang berserakan. Hal yang sama juga terlihat dari semua orang yang bekerja di dalam kampus. Baik penjual makanan, petugas keamanan, petugas sampah, bagian tata usaha, hingga dosen pengajar, semuanya begitu semangat menjalankan tugasnya masing-masing.

Mereka sudah menghapus kata malas di kepala mereka.

Hal serupa juga tergambar jelas di luar kampus. Mulai dari sopir bis, kurir jasa pengiriman barang, hingga petugas kesehatan, semuanya bekerja sesuai kapasitas masing-masing dengan penuh totalitas. Sekali lagi: penuh totalitas.

Pernah suatu waktu, aku ingin menguji kelayakan suatu fasilitas umum di kampus. Saat itu, aku mengalami cidera otot ligamen usai bermain bola. Saat itulah aku datang pertama kali ke klinik kesehatan yang ada di dalam kampus. Aku bawa kartu pelajar, karena aku pikir bakal mengurus pendataan terlebih dahulu. Namun rupanya prediksiku salah. Aku langsung diobati, dikasi saran macam-macam, dan diberi banyak rekomendasi. Bahkan hal kecil seperti mengambil es batu gratis pun diberi tahu dengan begitu semangat, meski dengan bahasa Inggris seadanya. Usai diperiksa, diberi krim Voren-G dan es batu, baru aku ditanya kartu pelajar.

Aku ingin mengetes jam pelayanan mereka. Sebelumnya mereka mengatakan boleh mengambil es batu di tempatnya, gratis mulai hari Senin hingga Jum’at pukul 9 AM – 9.30 PM. Aku sempat kaget, karena biasanya pelayanan untuk mahasiswa akan tutup pada pukul 5 PM. Entah ini namanya uji kelayakan pelayanan mereka, atau aku yang malas mengeluarkan uang untuk membeli es batu.

Karena ada kelas malam, aku pergi ke klinik pada pukul 9.20 PM. Katanya es batu harus ditempelkan di lutut saat tidur agar bengkaknya berkurang. Aku mengambil es batu di last minute, sekaligus ingin mengetahui: mereka disiplin apa tidak. Ternyata ruangannya masih terang benderang. Padahal beberapa ruang di sekitarnya sudah gelap bahkan terkunci rapat. Mereka masih bekerja. Tak ada bedanya, mereka masih seperti di pagi hari, berapa di depan komputer, ada juga yang menulis di buku. Tak ada raut wajah lesu, apalagi ngobrol hal yang tidak penting. Semuanya masih fokus dengan pekerjaannya.

Melihat aku masuk ke ruangan dengan terpincang, mereka langsung mendatangiku. Sekali lagi, ia memberikan perawatan di lutut kiri. Kali aku krim Salonpas disemprotkan di bagian lutut yang membengkak. Beberapa saran juga terlontar kembali. Jika begini, rasanya tak masalah jika harus ke klinik terus. Haha.

Hal inilah yang membuatku betah tinggal di Taiwan. Tingkat individualismenya sangat rendah. Bahkan menurut data yang disampaikan Profesor di kelas, Taiwan merupakan negara dengan tingkat individualisme yang paling rendah di dunia.

Cara mereka bekerja, memperlakukan orang, seperti terpendar menular kepada siapa saja di dekatnya. Semoga aku bisa tertular sikap mereka yang menghapus satu kata di kamus. Aku juga akan berusaha menghapus kata malas di kamus hidupku. Meskipun tidak akan semudah yang kita lihat. Terima kasih, Taiwanese!

ALAM

2 thoughts on “Kata yang Hilang

  1. keren ya! ternyata segitu detail, rapi dan rajinnya mereka.
    mereka begitu tau mana yang prioritas, mana yang bukan. kalau disini mungkin yang ditanyakan pertama adalah kartu pelajar baru kemudian dirawat yaa >.<

    1. Masih banyak cerita lucu dan unik ttg manusia Taiwan. Hal yang paling aku suka adalah: ngga suka ngurusi urusan orang lain. Kalau masalah pelayanan, jgn ditanya. Ngurus birokrasi rasanya nagih. Hehe. Jangan suka membandingkan dg negara kita kak. Masing-masing punya kelebihan sendiri-sendiri..

Berikan Komentar