KKN Hari 1: Hidup di 10 Tahun Yang Lalu

Sabtu pagi itu suasana di depan kantor pusat Universitas Trunojoyo Madura terlihat berbeda. Biasanya akhir pekan suasananya sepi karena tidak ada aktivitas kuliah di kampus ini. Kumpulan mahasiswa berjaket hitam bertuliskan KKN UTM 2012 tersebar di depan kantor pusat dan berkumpul menjadi satu seperti mau mengikuti upacara bendera, berbaris mengingatkan saat upacara bendera di masa-masa SMA. Kertas putih bertuliskan Rangperang Laok  tertempel di aspal untuk mengatur posisi sesuai dengan nama desa masing-masing. Ya karena waktu itu adalah waktu pelepasan mahasiswa KKN semester ganjil 2012. Saya bergabung dengan 379 mahasiswa yang lain berbaur menjadi satu dan berkumpul dengan kelompok 14. Setelah laporan dari ketua Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) tentang penyelenggaran KKN kali ini dilanjutkan dengan pelepasan yang langsung dilepas oleh Pembantu Rektor 1 mewakili Rektor yang berhalangan hadir karena alasan kesehatan. “Pesan saya, libatkanlah masyarakat untuk menjalani program kerja Anda!” begitulah pesan yang saya ingat dari PR 1 sekaligus melepas kita semua ke desa masing-masing.

Kendaraan L300 berwarna merah yang sudah tertempel kertas bertuliskan Rangperang Laok di depan mobilnya. Teman-teman Kelompok 14 memasukkan barang satu persatu ke mobil. Kalau melihat barang bawaan persis seperti akan pindah ke Amerika. Mulai dari tas kecil, tas sedang, koper sampai koper besar tertimbun rapi di dalam mobil ini. Barang-barang pendukung seperti galon, kipas angin, sampai printer menjadi barang pelengkap untuk menemani 27 hari kelompok ini tinggal di desa yang terletak di Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan.

Sekitar tiga jam perjalanan dari Bangkalan, akhirnya kita sampai di kantor kecamatan Proppo. Di balai kota sudah tertulis Selamat Datang Peserta KKN UNIJOYO Bangkalan di Kecamatan Proppo. Padahal kampusku ini sudah berganti “julukan” menjadi UTM bukan lagi UNIJOYO tapi, ah. sudahlah!

Bapak Sekretaris Kecamatan, Perwakilan LPPM, ketua Kecataman dan perwakilan dari TNI duduk berdampingan menyambut teman-teman yang sudah rapi memakai atribut KKN berwana hitam. Beliau berempat bergantian menyampaikan sambutannya kepada peserta KKN yang akan menempati 10 desa di Kecamatan Proppo ini. Kecamatan ini adalah kecamatan terbesar di Pamekasan dengan 27 desanya.

Selesai penyambutan di kantor kecamatan Proppo, mobil L300 merah bergerak membawa kita ke desa Rangperang Laok. Sepanjang perjalanan yang terlihat adalah hijaunya pepohonan, beberapa rumah terlihat menyelinap dari balik hijaunya pohon. Pak Klebun menyambut kita dengan senyuman, Saya sebenarnya sedikit sungkan melihat barang bawaan kami yang sepertinya terlalu banyak, mirip seperti orang mau pindah rumah. Bapak dan Ibu Klebun seperti menahan tertawa melihat aktivitas kita memindahkan barang yang sangat banyak dari mobil ke teras rumah Klebun. Seperti yang saya sudah ceritakan sebelumnya, desa ini tidak terlalu jauh kondisinya seperti Desa Kebun Dusun Labang Laok.

Kita memanfaatkan waktu luang sampai Maghrib untuk berinteraksi dengan masyarakat yang ada di sekitar rumah tempat kita tinggal. Bagi teman-teman yang cowok disiapkan sebuah ruangan sekitar 4×6 m yang sudah terpenuhi dengan barang bawaan kami. Sedangkan yang cewek tinggal di salah satu ruangan di rumah Pak Klebun. Beberapa yang unik dari desa ini adalah adanya tower di setiap rumah masyarakat untuk digunakan antenna TV. Karena sinyal televisi tidak bisa terjangkau jika hanya dengan menggunakan antenna biasa. Keluarga Klebun tempat kami tinggal selama 27 hari menyambutnya dengan sangat hangat, mereka menyambut kami dengan tangan terbuka. Senyumnya membuat kami tenang. Sampai akhirnya masuk waktu shalat Maghrib.

Saat adzan Maghrib kami semua cowok-cowok pergi bersama-sama ke masjid yang letaknya sekitar 100 m dari rumah Pak Klebun dengan berpakaian sarung dan kemeja muslim. Di perjalanan kami melihat aktivitas anak-anak di sekitar masjid yang bermain mainan tradisional dengan menggunakan busana muslim sambil menunggu iqomah. Kami berhenti sejenak untuk melihat permainan yang sempat kita mainkan 10 tahun yang lalu. Saat memasuki area masjid ini kami disambut dengan bunyi speaker TOA yang mengeluarkan suara seorang bapak yang membaca shalawat dengan asyiknya. Setelah berwudhu’, kami mengikuti bacaan shalawat yang biasanya dibaca setelah Adzan dan sebelum iqomah tepat di belakang bapak berambut uban pembaca shalawat ini. Bapak itu terlihat sangat menikmati untuk memuliakan nama Nabi Muhammad dengan khusyu’ membaca shalawat sampai tanpa terasa kepalanya menggangguk-angguk seperti sangat menikmati. Kami hanya tersenyum sipu dan berusaha mengikuti membaca shalawat sambil mengikuti gerakan anggukan kepala dan goyangan bahu ke kanan ke kiri. Sebuah kehangatan tersendiri terjadi di masjid saat hari pertama KKN. Meski cuma ada 13 orang yang berjama’ah, tapi kami sangat khusyu’ ruku’ sujud menghadap-Nya.

Selesai sholat disaat perjalanan pulang, saya sangat kagum ketika melihat anak-anak desa ini berkumpul di langgar-langgar (musholla) untuk mengaji. Bahkan terlihat satu langgar terisi penuh dengan anak-anak yang sedang selesai sholat dan bersiap mengaji. Dibanding dengan kondisi di masyarakat di desa saya sendiri, kalau maghrib begini mereka sangat asyik untuk melihat televisi memandangi sinetron setiap hari. Meninggalkan aktivitas yang dulu sebenarnya pernah mereka lalukan, tapi perkembangan teknologi sudah sedikit berdampak pada kebiasaan masyarakat kota saat ini.

Kami sudah janji untuk ikut ngaji di langgar yang ada di dekat rumah Pak Klebun bergabung dengan anak-anak yang sudah berkumpul untuk membaca Al-Qur’an. Saya terkejut dengan masih banyaknya anak-anak yang mengaji di desa ini. Suara mereka ketika melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’a sempat membuat batin saya bergetar. Saya langsung mengingat ketika Saya masih kecil di desa seperti mereka setiap habis maghrib berkumpul di langgar untuk mengaji. Sayang cara mengajar ngaji di tempat ini menggunakan bentakan untuk metode pembelajarannya. Sama seperti yang saya alami ketika mengaji di masjid beberapa tahun yang lalu. Guru ngajinya menggunakan bentakan untuk memberitahukan kepada murid-murid yang mengaji. Meski menurut mereka ini efektif, tapi menurut saya pribadi di zaman saat ini cara mengajar ngaji dengan bentakan yang mungkin dahulu dipercaya mujarab untuk mengajar murid tapi kurang cocok untuk zaman sekarang. Saya justru sangat kasihan ke anak-anak yang semangat belajar mengaji ini. Mereka pasti justru merasa tertekan sampai akhirnyaada yang sudah sesenggukan mengalirkan air mata. Saya berusaha mendekati untuk melihat cara mereka mengaji berusaha menenangkan perasaan mereka. Sayang waktu saya tidak lama karena dipanggi Pak Klebun untuk makan malam.

Setelah makan malam dan sholat isya’ berjema’ah kami mengisi waktu malam pertama di desa ini dengna berbaur dengan warga menonton pertandingan sepakbola antara Liverpool dan Manchester United. Meski tim kesayanganku kalah 2-1 tapi tidak mengurangi kesan malam pertama di desa ini. Semoga berlanjut di 26 hari selanjutnya. Melihat aktivitas masyarakat hari pertama ini dan kondisi desanya serasa hidup di 10 tahun yang lalu di desa saya Desa Kebun Dusung Labang Laok.

ALAM

4 thoughts on “KKN Hari 1: Hidup di 10 Tahun Yang Lalu

    1. Engghi. Enak dikenang, tapi juga hmmm enak gak ya kalau di ulang. enak juga sepertinya.

Berikan Komentar