KKN Hari 4: FGD : “Malang Dijajah Madura”

Kami melaksanakan FGD (Focus Group Discussion) di teras rumah Pak Klebun, Pak Ach. Fadili pada Selasa malam (31/1) ba’dha Maghrib. Beberapa Pamong –istilah aparatur desa di Madura- sudah hadir. Mulai dari Carek –Sekretaris Desa- sampai Kepala Dusun berdatangan. Dengan beralaskan karpet sederhana dengan suguhan kopi dan snack ala Mahasiswa kita berdiskusi. Aku di plot untuk memulai acara oleh Pak Klebun. Ya, jabatanku sebagai Kordes harus bisa memimpin rapat. Ini adalah pengalaman pertamaku memimpin rapat dengan aparatur Desa. Deg-degan sudah menjadi teman yang pasti menghampiri ketika mau mengawali rapat ini. Sedikit sambutan dari aku yang berisi tentang ucapan syukur, terimakasih dan agenda rapat malam ini, kemudian aku suruh Sekretrasi Kordes untuk membacakan beberapa program kerja yang mau kita jalani di Desa ini.

Akrab: Para Aparatur Desa ditemani aku sebagai Koordinator Desa.

Musyawarah berlangsung menarik, diskusi berjalan dua arah. Tidak lupa Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kami memberikan sambutan yang sedikit panjang. Intinya berterimakasih telah menerima kami melakukan kegiatan KKN di sini. Tidak lupa menjelaskan tujuan utama dari kegiatan KKN. Meminta maaf jika kelompok 14 melakukan kesalahan dan beberapa informasi penting lainnya. Carek dan Kepala Dusun juga beberapa kali bercerita tentang kehidupan masyarakat Rangperang Laok. Mulai dari topik mayoritas pekerjaan masyarakat di sini yang bekerja sebagai tukang becak hingga sebagian yang merantau di Malang. Setelah beberapa kali ditanya tentang kenapa alasan masyarakat Rangperang Laok merantau ke Malang, akhirnya didapatkan fakta yang unik kalau beberapa bagian di Malang itu banyak yang dikuasai orang Madura mulai dari kawasan Kasin, Ngaglik, Pasar Besar, Pasar Gedung dan beberapa kawasan lainnya di Malang. Aku langsung menyamber dengan kalimat menarik yaitu “bisa diartikan, Malang itu dijajah Madura, ya?”. Seontak forum tertawa bersamaan.

Program kerja kami yang lebih fokus ke pendidikan bagi masyarakat disambut baik oleh aparatur desa. Bahkan mereka berkomitmen siap membantu kami jika memang ada yang harus dibantu. Suasana begitu akrab dengan ditemani rintik-rintik hujan, kacang dipadu dengan kopi menjadi penghangat suasana malam itu. Tidak lupa beberapa blitz kamera mengagetkan kami untuk keperluan dokumentasi. Tanpa terasa sudah sejam kami berdiskusi, karena beberapa poin-poin penting sudah tercapai pak Klebun menginstruksikan aku untuk menutup acara takut aparatur pemerintah yang lain ada acara. Aku sangat senang bisa berdiskusi seperti ini. Pengalaman baru yang fantastis!.

ALAM

Berikan Komentar