KKN Hari 6: Bapak Presiden dan Surat Cinta

Surat cinta dari siswa

Setelah tinggal enam hari di desa Rangperang Laok, akhirnya aku ditugaskan untuk mengajar SD Rangperang Laok 1 yang ada di dekat rumah Pak Klebun markas kelompok 14 selama menjalani masa KKN. Aku diberi tugas mengajar kelas 6 pada jam ketiga setelah istirahat.  Berbeda dengan ketika mengajar MTs dan MA, kali ini murid-muridnya lebih bervariatif. Jumlah laki-laki dan perempuan lumayan seimbang meski masih tetap lebih banyak yang perempuan. Kalau di MTs dan MA seluruh muridnya wajib memakai seragam seperti busana muslim, di kelas 6 SD Rangperang Laok 1 ini kondisi kelasnya tidak berbeda jauh seperti kelas 6 SD di kota. Hanya saja ada beberapa hal yang membuatku terkejut yaitu beberapa murid tidak memakai sepatu ke sekolah. Setelah ditanyakan alasannya “Leddhu’” atau becek dalam bahasa Indonesia, kedua yang tidak kalah kagetnya adalah ada satu siswa kelas 6 yang belum bisa baca tulis. Lha kok bisa naik kelas ya?

Hari ini pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Sedikit terbantukan dengan adanya buku yang dijadikan acuan untuk belajar. Tapi sebelum memulai aksi mengajar, aku memperkenalkan diri terlebih dahulu. Aku sempat terdiam beberapa saat karena berpikir mau diapakan kelas ini agar kondisinya hidup. Karena ketika aku diam tidak mengucapkan apa-apa, mereka juga ikut diam. Tidak ada pertanyaan yang terlontar berbeda seperti ketika mengajar di MTs dan MA. Akhirnya aku punya ide untuk memberikan permainan dalam kelas ini. Permainan ini aku beri nama “Tok-kotok” atau dalam bahasa Indonesia berbisik-bisik. Alurnya seperti ini, aku bagi siswa kelas 6 menjadi lima kelompok. Kemudian aku berikan mereka kalimat yang agak rumit untuk diingat tentunya tentang mata pelajarannya, PKn.

Bersama "Bapak Presiden"

Lumayan permainan ini sedikit membuat adik-adik kelas 6 tidak lagi malu-malu kepadaku. Kemudian aku memberika game kecil lagi yaitu mengingat 5 sila Pancasila dengan acak. Setiap siswa yang ditunjuk secara tiba-tiba olehku harus bisa menjawab tentang isi sila dari yang aku tanyakan. Cukup menghibur dan efektif untuk menanamkan pentingnya menghafal dasar Negara ini. Sampai akhirnya aku suruh ketua kelas yang aku beri julukan “Bapak Presiden” untuk memimpin rakyatnya membaca Pancasila secara bersama-sama. Bapak Presiden itu bernama Fauzan. Anak itu merupakan satu dari dua siswa yang memakai sepatu ketika pergi ke sekolah.

Mengajar 2,5 jam ternyata tidak mudah. Aku sempat kehabisan akal, mau diisi apa setelah ini. Akhirnya aku mendikte mereka untuk mencatat sejarah lahirnya Pancasila tentunya dengan sedikit berdongeng di depan kelas akhirnya sampai juga di waktu akhir jam pelajaran. Di akhir sesi aku meminta murid kelas 6 ini menulis surat kepadaku. “Surat cinta boleh, surat saran dan kritik boleh, apa saja. Yang penting ditujukan kepadaku” teriakku di depan kelas ketika suasana kelas bergerumuh dengan berbagai pertanyaan tentang tugas menulis surat itu. Aku mengancam mereka tidak bisa pulang kalau tidak menulis surat.

Sesampainya di markas, aku membaca semua surat cinta dari murid-murid kelas 6 bersama dengan teman-teman seperjuangan satu kelompok. Banyak yang menanyakanku punya pacar berapa?, ada yang mengeluhkan cepatnya ketika aku berbicara, banyak juga yang berterimakasih karena aku mengajar mereka, bahkan ada meminta aku mengajarnya lagi esok hari. Tapi dari semua surat itu, ada satu yang aku suka dan ambil gambarnya untuk diupload di blog ini. Isi suratnya seperti yang ada di foto di postingan ini.

ALAM

2 thoughts on “KKN Hari 6: Bapak Presiden dan Surat Cinta

  1. Anak yang nulis surat itu pasti sambil senyum-senyum membayangkanmu seperti Unyil :))
    Btw, dulu aku sekolah dua kali. Pagi sekolah biasa di sekolah swasta, siang sekitar jam 2 sekolah madrasah. Sekolah biasa jauh dari rumah, sekolah madrasah dekat rumah.
    Yang seru di sekolah madrasah, nggak wajib pakai sepatu, boleh pakai sendal. Malah ada yang nggak pakai alas kaki, di jakarta loh itu :)))

Berikan Komentar