Entah apa jadinya hidup di Taiwan tanpa adanya Ko Erwin.

Itu mungkin ungkapan yang diamini oleh semua mahasiswa baru Fall 104. Satu nama yang menjadi pertama kali dicari setiba di Taiwan. Satu nama yang aku hubungi pertama kali sesaat setelah turun dari pesawat. Namanya adalah Erwin Kwok. Akrab dipanggil Ko Erwin.

wahyu alam bersama ko erwinIa langsung menyambut kedatangan kami setibanya di kampus. Ngga pakai lama, usai menitipkan koper ke dormitory wanita, Ko Erwin mengajak kami berkeliling kampus dengan berlari. Ngga percaya? Aku bilang sekali lagi ya: BERLARI!

Coba dibayangkan, baru tiba, jiwa masih seperti tertinggal di angkasa antara Singapura-Taiwan, aku pakai celana jeans ketat, bersepatu pantofel, berkemeja lengan panjang, diajak berlari mengelilingi kampus. Mengurus satu demi satu administrasi.

“Wah, jalan kalian masih di Indonesia, nih!” Ejeknya. Iya meminta kami mengikutinya. Karena kami ngga paham apa yang harus diurus dan kemana mengurusnya, mau ngga mau, kami harus mengikutinya berlari menuju gedung satu ke gedung yang lain. Mengisi satu form ke form lainnya.

Form pertama yang aku isi adalah form asuransi. Ngga ada yang kami mengerti dari form itu kecuali angka 3000. Kalau begini caranya, kan kita ngga ngerti ini form apa. Kalau kita ditipu gimana? Seperti sudah hidup di dunia lain. Tulisan di form pun, kini kami tidak bisa mengerti apa artinya, tetapi kami harus mengisi dan menandatanganinya. Tapi kami percaya Ko Erwin sepenuhnya. Ia ngga mungkin menipu saudara sebangsanya.

Meski begitu, Ko Erwin tetap melanjutkan aksi berlarinya. Sampai-sampai ada mahasiswi yang bertubuh besar tersengal-sengal nafasnya, ditambah ia memakai rok, menuntutnya kerja keras. Jika tidak, ia akan ketinggalan dari teman-teman yang lain. Dibalik kekejaman Ko Erwin, ada makna tersirat di dalamnya. Ia sepertinya sedang mengajari kami untuk berjalan lebih cepat. Agar nanti terbiasa hidup di Taiwan yang manusianya berjalan cepat. Ini cara dia ‘mendiklat’ kami yang baru datang.

wahyu alam in taiwanBelakangan, ia diketahui sebagai divisi caring and sharing di NTUST-ISA. Indonesia Student Association, semacam kumpulan mahasiswa Indonesia di NTUST. wahyu alam in ntust Di acara welcome party yang diadakan ISA, kami datang dan dihibur penampilan kakak kelas yang memukau. Mulai dari pertunjukan musik, sulap, hingga tarian saman dihadirkan. Demi siapa? Demi kita, mahasiswa baru Fall 104. Di akhir acara, gantian. Kami, mahasiswa baru Fall 104 yang maju ke depan, menyanyikan lagu daerah dan kebangsaan. Lagu Cublak-Cublak Suweng dan Tanah Airku kami sajikan untuk keluarga besar sebangsa dan setanah air. ntust isa
Kami larut dalam kebersamaan. Dada bergetar saat mendengar lagu Tanah Airku bergema memenuhi relung hati setiap mahasiswa yang hadir. Sepintas, aku melihat ada kakak kelas yang wajahnya memerah, sesekali ia mengusap matanya, ada yang disembunyikan, tapi aku melihatnya. Ia menangis. Ia pasti rindu bercampur bangga saat mendengar lagu Tanah Airku.

“Biarpun saya, pergi jauh, tidak kan hilang, dari kalbu, tanah ku tak kulupakan, engkau ku banggakan.”

Lagu ciptaan Ibu Sud ini mengakhiri penyambutan ISA untuk mahasiswa baru Fall 104.

Welcome to Taiwan, Welcome to NTUST, Welcome to NTUST-ISA!
indonesian in ntust


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

2 Comments

Akhmad Muhaimin Azzet · October 20, 2015 at 10:24

Menyanyikan lagu Tanah Air di sana, hmm… kebayang rasa syahdunya ya, Mas 🙂

    Wahyu Alam · October 23, 2015 at 04:38

    Bener beda rasanya. coba dah.

Berikan Komentar

%d bloggers like this: