Linimassa 2 Dalam Tulisan

“When ordinary INDONESIANS doing extraordinary action”

Indonesia. Negeri yang kaya akan suku, bahasa, budaya, sosial dan keberagaman yang begitu luar biasa. Setiap daerah mempunyai perbedaan yang membuat keberagaman begitu indah. Jangankan berbeda pulau, seperti perbedaan Aceh dengan Papua, tetapi perbedaan itu sudah ada, meski masih dalam satu kabupaten.

Dahulu, di negeri yang merdeka dari Jepang ini, arus informasi datang dari pemilik radio dan televisi milik pemerintah. Negeri ini dilahirkan dan dibesarkan dengan arus informasi dan teknologi. Radio menjadi media sensasional saat menyiarkan secara langsung pembacaan teks Proklamasi 17 Agustus 1945.

Hari ini, teknologi tidak bisa lepas dari negeri ini. Media salah satu yang memanfaatkan kedigdayaan teknologi untuk menyebarkan informasi ke seluruh pelosok negeri.

Dahulu kita sangat takut pada dinas Penerangan untuk mengabarkan ataupun menuliskan sebuah fakta. Kini, saat media mainstream semakin banyak, kita tidak perlu takut kepada departemen Penerangan. Sebab, musuh terbesar media adalah diri sendiri. musuh yang seharusnya diajak damai. Berdamai dengan persaingan, berdamai dengan rating dan iklan, berdamai dengan ujung jari yang ingin mengetik kata ricuh atau rusuh, untuk sebuah peristiwa di bekas daerah konflik seperti Ambon.

Teknologi memang bisa menjadi berkah atau bencana. Tetapi seorang pemuda bernama Almascatie bersama teman-teman komunitas sosial media di Ambon memilih teknologi sebagai berkah. Almascatie dan kawan-kawan resah dengan media mainstream yang memberitakan konflik di Ambon dengan terlalu berlebihan. Ambon diberitakan di televisi seperti sangat mencekam seperti terjadi pembakaran di mana-mana, sampai sudah ada korban dalam kerusuhan itu, padahal berita-berita itu justru menimbulkan kepanikan, bahkan seorang ibu begitu takut dan resah, karena anaknya belum pulang, kecemasan itu muncul akibat melihat berita di televisi, padahal kondisi di Ambon sudah tenang.

Almas dkk mengklarifikasi tentang dominasi berita di media mainstream lewat media sosial. Twitter adalah salah satu media yang digunakan untuk mengklarifikasi bahwa di Ambon itu tidak terjadi “peperangan”

ALAM

One thought on “Linimassa 2 Dalam Tulisan

Berikan Komentar