Man of the Class

Hari ini, adalah saatnya memberikan materi aplikasi perkantoran: aplikasi pengolah kata. Aplikasi yang kami pakai untuk proses pembelajaran adalah aplikasi kepunyaan Microsoft. Setelah introduction tentang apa dan nama-nama toolbar di Microsoft Office Word, aku mencoba langsung mempraktekkan mengetik. Kali ini mengetik 10 jari. Menggunakan Microsoft Office Word di depan siswa, disaksisakan siswa menggunakan LCD projector, aku mempraktikkan cara mengetik dengan tidak lagi melihat keyboard. Semua siswa sangat tertarik mendengarnya. Aku bingung mau menulis apa, akhirnya aku menulis sebuah cerita yang aku beri judul Man of the class.

Pertama masuk ke dalam kelasnya, dia adalah murid pertama yang datang ke depan mejaku mencium tanganku. Sedikit kurang biasa melihat tingkah laku hampir semua siswa yang mencium tanganku. Aku merasa belum pantas tanganku dicium. Namun aku hanya mengikuti aliran kebiasaan saja. Aku ingin tenggelam dalam sebuah dinamika instansi pendidikan yang alami yang letaknya jauh dari Ibukota negara ini.

Parasnya tidak ada yang berbeda dari teman-teman yang lain, bahkan aku belum kenal namanya. Ketika aku absen satu persatu, aku hanya membaca. Keesokan harinya: lupa lagi. Bahkan aku baru mengenal dan bisa menghafal namanya setelah tiga kali tatap muka dengan kelasnya.

Dia orangnya berkulit cokelat, dia selalu duduk di pinggir ruangan. Dia paling aktif dari teman-temannya yang lain. Dia selalu masuk pada waktu kelas TIK. Saya senang melihatnya. Saya selalu mengatakan, bahwa nakal itu boleh, asalkan tidak kurang ajar. Nah, si man of the class ini selalu menjadi yang paling ramai namun tetap berada dalam garis norma. Jika dia tidak masuk, kelas berubah menjadi sepi. Sikapnya di luar kelas juga sangat sopan.

Awalnya, aku mengira, dia (sama seperti kebanyakan teman-temannya) suka urakan. Celometan dan berbahasa Madura kasar, bertanda dia tidak hormat terkesan kurang ajar. Aku tidak pernah marah kepada (semua) siswa yang kurang ajar. Sebenarnya, mereka ini hanya “korban” dari kerasnya kehidupan di lingkungannya, tanpa ada sebuah filter yang membuatnya seperti orang yang tidak berpendidikan. Tapi, tidak dengan siswa yang satu ini. Dia siswa kelas X4. Sama seperti kelas-kelas yang lain, aku selalu rindu masuk dan berada di depan kelas, sharing ilmu tentang teknologi dalam sebuah sesi pelajaran teknologi informasi komunikasi. Dengan berbagai aturan seperti tata tertib sekolah dan rencana proses pembelajaran untuk acuan guru mengajar di depan kelas. Meski terkesan nakal, ternyata ketika aku melontarkan beberapa pertanyaan tentang materi TIK. Hanya dia, ya cuma dia yang bisa menjawab. Tidak sering tetapi selalu. Semakin yakin, anak ini punya potensi. Aku suka typical anak seperti ini. Aktif, meski nakal, tetapi juga cerdas, berpengetahuan luas. Siapakah dia?

***

Aku tidak melanjutkan cerita itu. Aku berhenti mengetik dan kembali ke pelajaran bagaimana mengolah paragraf menggunakan Microsoft Word.

Namun, sampai pelajaran berakhir, ternyata semua siswa penasaran dengan siapakah tokoh yang aku tulis itu. Aku berjanji untuk menuliskannya dalam blog. Lebih dari seminggu, aku belum menuliskannya. Aku sibuk. Tapi ada sedikit luang, aku tuangkan saja dan mengakhiri cerita yang aku ketik di depan siswa kelas X4 ini.

Dia itu bernama Alianka. Ya. Salah satu siswa kebangganku ini bahkan paling aktif bertanya-tanya dan mengaku sering melihat blog secara rutin, menunggu-nunggu tulisan ini di-posting. Alianka, tulisan ini spesial untuk kamu, Mas. Tetap semangat belajar, tingkatkan terus. Jangan sampai kendor, hindari pergaulan yang tidak baik. Raihlah cita-citamu setinggi langit, Mas. Aku akan sangat bangga jika suatu saat nanti, ya waktu kamu dewasa aku ingin melihatmu sudah menjadi orang besar yang berpengaruh tidak hanya untuk Madura, tetapi untuk negeri ini. Bangsa ini, Indonesia.

ALAM

2 thoughts on “Man of the Class

Berikan Komentar