Meditasi: Penghubung Hati dan Penciptanya

Menjalani kehidupan ini ibaratkan kita ini mengarungi sungai dengan berbagai halangan di depannya. Halangan beranekaragam, mulai dari batu kecil, hingga batu besar yang bisa menjungkalkan perahu yang sedang kita tumpangi. Apalagi menjalani kehidupan penuh dengan algoritma komputer yang kompleks. Kalau sudah begini amarah di hati terkadang susah dikontrol, semua orang disekitar menjadi salah. Pikiranpun tidak fokus, melayang terbawa angin siang. Rambut mulai berguguran karena seringnya kepala digaruk-garuk, segala yang ada di dunia ini seolah sudah tak berarti lagi.

Hal-hal seperti itu sering membuat kita kehilangan arah, melupakan bahwa sebenarnya kita punya batin yang sangat tahu apa yang sebenarnya kita perlukan. Dalam sebuah buku yang mengungkap untaian hikmah Ibnu ‘Athailah; Al-Hikam mengatakan Bila ada lima kali shalat, berarti lima kali pula engkau mandi di dalamnya. Apakah dengan jumlah sebanyak itu engkau masih belum bersih? Ini pasti bukan tentang sungai(air)nya, tetapi tentang caramu mandi. Perbaikilah caramu shalat agar engkau merasakan sentuhan keindahan-Nya.

Karena terlalu sering berkutat dengan kesibukan keseharian dari pagi hingga malam berdampak kepada kondisi psikologis kita. Kalau sudah begini cobalah sejenak untuk menghindari sejenak dari kesibukan sehari-hari. Manfaatkan akhir pekan untuk sekedar bermeditasi. Aku sangat sering terjangkit semua penyakit yang sudah aku tulis di atas. Tapi beberapa kejadian yang membuatkan seoleh bermeditasi dan seketika melupakan sejenak apa yang ada di dunia. Pikiranpun terpusat ke satu arah yaitu sang Pencipta yang sangat paham dan mengerti segala isi dari hati dan pikiranku. Beberapa kejadian dan peristiwa di bawah ini merupakan contoh ketika aku bermeditasi dengan sengaja maupun yang tidak disengaja.

Meditasi saat pertama kali naik pesawat

September 2011 yang lalu, aku berkesempatan untuk pertama kalinya menaiki burung raksasa untuk menuju Jakarta karena urusan komunitas. Sejak perjalanan dari rumah aku sudah membayangkan bagaimana merasakan terbang untuk pertamakalinya. Setiap momen di bandara aku sangat memperhatikan karena ini adalah pertamakalinya aku menaiki pesawat. Deruan pesawat mulai mengusik telinga dan begitu keras. Aku pasang headset di telinga, musik-musik Maher Zain memberikan suasana berbeda. Mungkin karena lagi memang menggugah hati, tapi juga ketika posisi take-off aku benar-benar melayang dan terbang di angkasa. Burung raksasa ini mengepakkan sayapnya. Beberapa lampu di bawah terlihat semakin mengecil, saat itulah aku bermeditasi melupakan segala apa yang ada di dunia. Yang ada di pikiranku hanya ucapan rasa syukur kepada sang Maha Pencipta. Sampai akhirnya kaki ini turun dan mengijakkan kaki di Jakarta.

Buku dan Musik adalah perpaduan yang sangat tepat

Meditasi saat mendengarkan musik

Target, jadwal, sampai unpredictable schedule yang memberikan pressure begitu luar biasa terkadang membuat hati dan pikiran kacau balau. Kita berjalan dan melakukan aktivitas seolah seperti di alam mimpi, melayang tanpa arah yang jelas. Untuk mengembalikan ke kondisi normal, aku biasanya menggunakan musik yang ada di ponselku untuk didengarkan. Beberapa lagu sudah aku set untuk menangani apabila penyakit ini kambuh. Lagu itu sudah aku simpan di playlist media player ponsel dengan nama relaxing songs. Beberapa lagu Kenny G, Iwan Fals, Ebiet G Ade, sampai lagu-lagu instrument semua mencampur jadi suatu ramuan yang manjur untuk mengembalikan pikiran. Lebih manjur ketika mendengar lagu-lagu religi, sampai air mata tidak tertahankan untuk segera membawa kita kembali ke titik nol di mana semangat terbarukan dengan pikiran yang jernih. Dalam perjalanan ke sebuah tempat baru biasanya aku selalu menyiapkan musik sesuai dengan tempatnya, saat mendengarkan musik itu sepanjang perjalanan, saat itulah aku bermeditasi menenangkan sejenak pikiran dan hati, yang teringat hanya Sang Penguasa Hati ini. Kondisi seperti inilah yang mampu membuat kita bekerja lebih keras lagi, mencapai target apa yang ingin kita capai.

Meditasi di toko buku

Usahakan sebulan sekali, atau paling tidak tiga bulan sekali untuk mengunjungi toko buku. Aku selalu berada di sebuah dimensi yang berbeda ketika berada di toko buku. Memasuki toko buku seorang diri seolah aku bertransformasi semakin kecil, semakin kecil dan mengecil seperti semut di tengah kerumunan banyaknya manusia. Aku seolah tenggelam di tengah samudra ilmu pengetahuan yang masih banyak belum aku ketahui. Relaxing songs tidak jarang terdengar dari speaker yang terpasang dari berbagai penjuru ruangan menelusuk setiap rak hingga sampai ke kupingku. Saat seperti itulah aku bermeditasi, aku tarik nafas dalam-dalam dan merasakan begitu Agungnya Tuhan menciptakan ilmu pengetahuan, dan ternyata begitu bodohnya diriku yang selama ini penuh dengan kesombongan dan keangkuhan di dunia, padahal masih banyak yang belum aku ketahui selama ini.

Meditasi saat berada di ketinggian di Bali

Mengunjungi sebuah tempat yang baru merupakan sebuah perjalanan yang syarat akan makna. Nopember 2011 lalu aku berkesempatan mendatangi pulau Dewata Bali. Saat berada di atas pesawat, aku sebenarnya mulai bermeditasi, melihat gumpalan awan yang menjulang tinggi seperti bangunan di St. Petersburg, Rusia memberikan sebuah relaxing hati dan pikiran. Terlebih ketika mengunjungi objek wisata Garuda Wisnu Kencana, saat teman-teman rombongan yang lain sibuk foto-foto, aku menepi sejenak duduk bersila di sebuah gazebo. Karena letaknya yang berada di atas ketinggian, angin semilir berhempus lembut masuk ke hidungku, di bawah patung Dewa Wisnu aku melakukan gerakan semedi seperti yang ada di film Kera Sakti. Aku tarik nafas dalam-dalam, aku lepaskan semua pengat dan beban yang ada di tempat ini, aku biarkan angin membawa semua permasalahan yang ada padaku. Alunan musik khas Bali terdengar sayu dari kejauhan. Meskipun tidak lama, tapi aku merasakan meditasi di Bali merupakan sesuatu yang harus dikenang sepanjang 2011 ini.

Meditasi saat berada merayakan Hari Ulang Tahun

Meditasi yang paling istimewa adalah ketika berada di depan tumpeng perayaan HUT Plat-M kedua, 23 Desember kemarin. Waktu itu aku berada di dalam kondisi yang kurang nyaman. Kepercayaan diriku menghilang terbawa derasnya hujan kala itu. Meski rasa bahagia kedatangan orang-orang terdekat Plat-M, saat itu aku tidak bisa menyembunyikan kelelahan yang ada di wajah, pikiran dan hatiku. Aku masih berusaha sekuat tenaga melebur jadi satu bersama-sama nak-kanak Plat-M yang lain untuk menyiapkan acara bahagia hari jadi Plat-M yang kedua. Aku nyaris menitikan air mata ketika semua teman-teman undangan dan peserta yang hadir menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun mengikuti suara Jamrud di soundsystem. Sambil berdiri semuanya bertepuk tangan, perhatian tertuju menjadi satu yaitu Plat-M. Sebuah tumpeng sederhana terhidang di tengah-tengah ruangan. Sebagai Klebun, aku dipersilahkan memotong tumpeng itu, sebelum memotong aku minta ijin untuk berdo’a di depan tumpeng itu. Saat inilah aku bermeditasi, aku tidak menghiraukan beberapa teman-teman yang memotret mengabadikan momen itu, yang ada di pikiranku hanyalah Tuhan dan Plat-M. Aku memohon kepada Sang Maha Mengetahui agar Plat-M diberikan kesuksesan di masa depan. Plat-M bisa lebih Menduniakan Madura.

Lima kejadian peristiwa itu semakin mendekatkanku dengan sang Khaliq, sang Maha Mengetahui, sang Maha Penyayang. Karena aku sangat yakin Kehidupan alam semesta yang tampa oleh penglihatan kita sebenarnya ada sebab penghidupanNya.

ALAM

2 thoughts on “Meditasi: Penghubung Hati dan Penciptanya

  1. Begitu bermanfaat bagi kita semua jikalau kita lagi kebingungan serta lagi resah memikirkan sesuatu, hendaknya terlebih dahulu bermeditasi sejenak untuk memohon dan berdo’a kepada sang Khalik agar bisa menjalani semuanya itu dengan lancar. Didalam bermeditasi, lagu Instrument pun juga sangat membantu karena bisa membuat pikiran kita lebih enjoy dan relax… Semoga apa yang kita kerjakan dan apa yang kita perbuat mendapatkan pahala dan ridho dari Allah SWT. Serta dimudahkan dan dilancarkan didalam menjalaninya. Amin…

Berikan Komentar