Melihat Keindahan Batu Cangghe di Pulau Giliyang

Ini tentang perjalanan ke timur. Menjelajah bibir utara Madura, menyeberang ke pulau, hingga melihat pesona bebatuan dengan panorama tak ada duanya.

Ini adalah trip yang sesungguhnya. Kalau minggu depan itu kita bekerja, bukan jalan-jalan. Begitulah yang aku katakan di dalam mobil. Aku, Raden, Aldi, Eko, Vicky dan Riska melakukan perjalanan empat kabupaten. Menyisir Bangkalan, Sampang, Pamekasan hingga Sumenep. Perjalanan ini dalam rangka melakukan survei sebelum acara Menduniakan Madura yang akan dihadiri sekitar 50 blogger dari pelosok negeri.

Berbagai hal perlu kami pastikan. Setidaknya ada tiga unsur lembaga yang akan kita temui: SKPD, Polres dan masyarakat.

Aku tak akan banyak banyak bicara tentang persiapan Menduniakan Madura ini, karena sudah ada di postingan sebelumnya. Aku ingin bercerita tentang destinasi yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Destinasi itu bernama ‘Batu Cangghe’.

Setelah memastikan segala persiapan di Bangkalan dan Sampang, kami langsung menancap pedal gas menuju Sumenep. Pemandangan laut di sisi utara Madura sempat menyihir kami. Saking bagusnya, kami putuskan berhenti untuk sekadar berselfie, sebelum akhirnya kami bermalam di salah satu hotel di Sumenep. Agar esok hari lebih fresh dan dapat memastikan segala persiapan di Kabupaten Sumenep.

Ditemani pegiat wisata Sumenep, Fadel, kami berkunjung ke Polres Sumenep. Selesainya urusan kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Giliyang. Hujan sempat menghambat penyeberangan kami. Karena kami tidak menyewa, terpaksa harus menunggu penumpang lainnya hingga akhirnya berangkat ke arah timur melalui Pelabuhan Dungkek.

Cuaca perairan timur Sumenep tenang dan tak berombak. Matahari kembali muncul setelah hujan reda. Pemandangan di sekitarnya pun begitu asri. Beberapa pulau bergantian terlihat muncul dari kejauhan. Memang sebenarnya ada banyak pulau di timur Sumenep ini. Coba saja gugling.

Hanya dengan ongkos Rp10.000 per orang, ditambah Rp2.000 untuk perahu kecil menuju ke darat cukup mengantarkan kami sampai di Giliyang. Seperti biasa dorkas yang sudah kami sewa menyambut kedatangan kami. Ini kali kedua aku sampai di Giliyang. Dan Minggu depan akan ketiga kalinya.

| Baca Juga: Mandi Oksigen Giliyang

Kami beristirahat sejenak di titik oksigen untuk menghirup udara segar alami. Pulau ini kaya akan oksigen, maka rugi jika tak dimanfaatkan.

Kemudian kami galau menentukan tujuan berikutnya: langsung menemui Kyai Ropet atau berkunjung ke Batu Cangghe. Semua orang yang ikut sudah pernah sampai, kecuali aku seorang. Pernyataan Fadel yang mengtakan: “Sama saja tak sampai di Giliyang, jika tak melihat Batu Cangghe”

Okay. Kita harus ke sana.

Teman-teman terpaksa mengantarkan diriku pergi ke Batu Cangghe. Perjalanan ke sana tidak bisa ditempuh dengan dorkas. Kami harus menyusuri ladang-ladang warga untuk bisa sampai ke sana. Hingga akhirnya kami tiba di medan yang terjal. Menuruni tangga seadanya dan berjalan di bebatuan tajam membuatku menyesal tak membawa sepatu sneakers yang kutinggal di hotel. Sandal hotel yang aku bawa pun sudah putus sejak turun di perahu. Akibatnya, aku menelusuri Batu Cangghe dengan berjalan tanpa alas kaki.

Cukup sulit untuk menggambarkan bagaimana keadaan di sana. Kata keren pun tak bisa mewakili keindahan panoramanya. Saat kita berada di bibir ujung timur Pulau Giliyang, pemandangan laut biru dengan latar pulau yang samar-samar tampak sangat anggun. Pulau-pulau itu seperti memanggil-manggil meminta untuk dikunjungi.

Situasinya begitu tenang, karena di pulau ini tak banyak kendaraan. Tak ada polusi udara ataupun polusi klakson. Yang ada hanyalah suara deburan ombak yang membentur karang. Suaranya memberikan relaksasi tersendiri bagi tubuh. Tempat yang pas untuk menyepi dari rutinitas sehari-hari.

Ketika menuruni tangga, kita akan melihat bebatuan yang membentuk setengah lingkaran dengan bentuk tak beraturan. Mirip seperti goa yang terpotong. Satu sisi bebatuan, sisi satunya langsung berbatasan dengan laut. Sangat berbahaya karena belum ada pembatas antara daratan dan jurang. Jika terjatuh, sudah pasti akan jatuh ke laut dan sulit untuk diberikan bantuan penyelematan.

Di sebelah selatan, terlihat satu batu berbentuk seperti tiang yang seolah-olah menyangga berbatuan setengah lingkaran tadi, hal ini lah kenapa tempat ini dinamai Batu Cangghe; batu penyangga dalam Bahasa Indonesia.

Kami harus terus berhati-hati untuk berjalan menyusuri bebatuan. Vicky yang mempunyai berat badan berlebih tidak berani mendekat ke Batu Cangghe. Ia takut tidak kuat dan jatuh.

Aku ingin berpose seperti meditasi. Aku menemukan spot yang menarik. Meski harus berhati-hati, aku naik ke bebatuan yang lebih tinggi. Ada batu yang bisa ditempati untuk sekadar duduk. Aku memanjat untuk dapat duduk bersila sambil kemudian melakukan meditasi sebentar. Tak pelak, aku menjadi obyek foto yang menarik bagi Aldi dan Raden. Keasyikan meditasi aku nyaris ditinggal teman-teman. Saat membuka mata pemandangan laut terhampar begitu saja di depan mata. Ingin rasanya berlama-lama di sini, namun kami harus segera ke atas dan menemui Kyai Ropet.

Batu Cangghe. Satu lagi keindahan yang tak ada duanya di Madura. Berada di ujung timur Pulau Giliyang, tempat ini menjadi destinasi rahasia yang tak banyak orang tahu. Keindahan panorama yang ditawarkan dapat dikunjungi untuk menyepi.

Terakhir, jangan lupa memakai sandal gunung atau sepatu jika ingin berkunjung ke tempat ini.

Tertarik untuk datang ke Batu Cangghe?

ALAM

Berikan Komentar