kebab kamalLapar di tengah malam itu tidak enak. Apalagi tinggal di desa yang jauh dari pedagang makanan. Akhirnya dengan berat hati aku keluar rumah menggunakan motor untuk mencari makan.

Makan sesuatu yang gurih dan hangat akan terasa nikmat di malam yang dingin. Dalam hati aku bergumam ingin makan Kebab yang khas. Membayangkan adegan dalam buku Api Tauhid terjadi di hadapanku. Makan Kebab asal Turki. Hangat, gurih, dan mengigit daging sapi yang diiris tipis dengan toping yang khas. Tapi mana ada penjual Kebab Turki asli di daerah terpencil seperti Kamal.

Aku terus menarik pedal gas motor melaju pelan. Menembus gelapnya malam Perumnas Kamal. Sudah lima belas menit berjalan, tidak terlihat pedagang makanan yang menjual. Ada satu penjaja sate tapi aku lagi tidak ingin makan sate. Perjalanan sampai di pom bensin Kamal, tetapi masih belum menemukan yang pas.

Hingga akhirnya mataku berbinar. Ternyata ada pedagang Kebab di Kamal. Tepatnya berada di selatannya kantor Pos Kamal. Meski yang jual bukan orang Turki, tetapi aku bersyukur ada penjual Kebab di Kamal dan kerennya lagi masih buka meski sudah mendekati tengah malam.

Ternyata penyajinya adalah teman sendiri. Mahasiswa UTM yang dahulu sempat aktif di Plat-M, sebut saja namanya Sahid. Ia mengisi waktu luang di sela-sela kuliah untuk berdagang. Pilihan yang bagus anak muda!

Ia menjadi pria di balik rombong kuning yang menyala. Di balik tulisan Kebab Pyramid, ia tangkas menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak. Tepung yang sudah dibentuk membentuk lingkaran dikeluarkan. Entah apa nama dari tepung itu, mirip seperti tepung roti maryam. Di atas tepung itu diberi bahan-bahan yang menjadi isi dari Kebab. Aku memilih isi sayur dan daging. Dagingnya ternyata sudah disiapkan dengan bentuk yang unik. Seperti tabung setengah kerucut. Dengan bentuk seperti itu, memudahkan untuk mengiris satu demi satu iris. Terlihat Sahid masih malu-malu melakukannya. Mungkin sedikit malu yang beli adalah orang keren se-Kamal. Halah.

Kemudian adonan tepung tadi digulung, di dalamnya sudah berisi sayur, daging dan toping. Lalu dipanaskan di atas wajan yang datar. Sesekali Sahid membalik-balikkan Kebab. Hingga akhirnya dibungkus dalam kemasan dengan desain yang menarik.

Dua bungkus Kebab cukup mengobati kelaparan di malam hari. Tertarik mencari Kebab di Kamal?

ALAM

ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

1 Comment

Fauzi ghozali · June 26, 2016 at 21:00

Pyramyd ini pusatnya dimana ya ? Saya lagi order yg dipangeranan bangkalalan saat ini. Buka puasa ronde ke 2.

Berikan Komentar

*/
%d bloggers like this: