wahyualam.com - station MRT Taipei

Sabtu pagi yang mendung menghiasi perjalanan kami dari dormitory menuju stasiun Gonggun. Kami berangkat saat sebagian besar penghuni kamar 125 dormitory II tertidur. Perlu waktu kurang dari 10 menit dan melewati kampus NTU untuk sampai di stasiun Gongguan. Stasiun starting-point bagi mahasiswa NTU dan NTUST.

“Ayo lari cepetan”, Saide memanggil sambil setengah berlari. Baru dua tangga dituruni, pintu MRT ke Songshan sudah ditutup dan berangkat.

” Yaah, kita harus menunggu lima menit, Yu!”,
Saide sepertinya sudah paham jadwal MRT dari stasiun Gongguan.

Ternyata benar, dari papan elektronik terlihat angka 5.55. MRT selanjutnya akan datang lima menit lebih lima puluh lima detik. Sambil menunggu aku menuangkan susu low fat ke botol Starbucks yang sudah berisi teh Dilmah.

Waktu lima menit habis hanya dengan membuang sampah, memasukkan botol Starbucks ke dalam tas, mendengarkan satu lagu. Belum selesai lagu pertama yang aku putar di smartphone, lampu merah di pagar menyala-nyala, ini bertanda MRT jurusan Songshan datang.

Kami bangun dari tempat duduk, bergerak masuk ke dalam MRT yang sudah penuh tapi tidak padat. Kami berdiri dan menunggu nama CKS (Chiang Kai-Shek) Memorial Hall dipanggil.

http://web.metro.taipei/img/E/metrotaipeimap.jpg

Tiba di stasiun CKS Memorial Hall, langsung berlari menuju MRT jurusan Tamsui yang datang bersamaan. Sedikit berlari, karena jika telat ya harus menunggu beberapa menit untuk kereta berikutnya. Sepertinya MRT jurusan Sangshui ini ‘ditakdirkan’ untuk berjumpa dengan kereta jurusan Tamsui di stasiun CKS Memorial Hall. Sehingga memudahkan penumpang yang mau ke TMS (Taipei Main Stasion), Zhongshan, Shuangliang, Minquan W. Rd, Yuanshan, hingga Tamsui. Pertemuan jalur hijau dan merah bertemu di stasiun CKS Memorial Hall.

Dari stasiun CKS Memorial Hall, kami hanya perlu melewati satu stasiun untuk sampai di TMS. Aku diajak Saide ke tempat kerjanya di dekat pintu keluar M7. Kami berpisah menjalankan tugas masing-masing. Saide bekerja, aku juga bekerja. Bedanya pekerjaanku: jalan-jalan. Hahaha.

Mau masuk ke dalam Mall, kepagian. Tak ada yang bisa dibanggakan bagi seorang traveler berkunjung ke Mall. Aku berjalan kaki mengikuti sandal Eiger melangkah. Aku melihat suatu gang yang sepertinya ramai sekali. Aku ingin ke sana. Baliho-baliho besar bertuliskan huruf Chinese menarik untuk sekadar menghiasi galeri smartphone.

Aku terhenti di ujung jalan, aku tidak bisa menyeberang lewat bawah seperti biasanya. Aku harus menaiki tangga untuk menyeberanginya. Matahari bersinar cerah saat aku menuruni tangga.

Kaki terus melangkah, tangan sesekali mengangkat smartphone untuk menyimpan beberapa momen, hingga akhirnya aku berada di ujung gang yang bernama Gongyuan Rd. Sepintas mirip salah satu gang ramai di Blok M di Jakarta.

Tangan masih memegang ponsel. Aku melihat di ujung gang sepertinya ada taman. Terlihat beberapa bule juga berjalan memasuki area taman. Entah taman apa itu. Aku mempercepat langkah kaki. Ternyata ini adalah 2/28 Peace Park. Taman kedamaian yang di salamnya juga terdapat museum yang menceritakan tentang perjuangan masa lalu negeri Formosa.

Seperti taman-taman lain di dunia, taman ini begitu hijau. Terlihat ada kegiatan komunitas, aku baca peta untuk mengetahui ada apa saja di dalam taman ini.

Oke, sekali lagi, akhir pekan kali ini, aku akan habiskan di taman ini. Buku Hatta dan sebotol teh Dilmah siap disantap.


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

3 Comments

jarwadi · April 21, 2016 at 06:52

wuiiih dari Madura jalan jalan ke Korea. di kereta ketemu sama girl band ngga mas

    ALAM · April 21, 2016 at 07:53

    Mas.mas. itu Taiwan, bukan Korea. Hehe.
    Wajah orang sini semuanya girl band semua. Hahaha

      jarwadi · April 21, 2016 at 09:26

      haiss, saya tadi salah ketik hihi, harusnya Taiwan

Berikan Komentar

%d bloggers like this: