6th Plat-M

23 Desember selalu menjadi hari sibuk bagiku. Sejak lima tahun belakangan, di tanggal dan hari yang sama, selalu ada agenda kegiatan perayaan. Kemarin, 23 Desember 2015, pertama kali aku tidak ikut dalam perayaan. Tidak ikut hadir secara fisik, berjabat tangan, memadu kebersamaan bersama mereka.

Kali ini aku tidak bisa ikut hadir di perayaan hari ulang tahun Plat-M yang keenam. Di social media kami merayakan dengan hashtag #6thPlatM. Meski begitu, sebenarnya aku selalu hadir, kapan saja, dimana saja, meski kali ini harus secara virtual.

Tak terasa Plat-M sudah berusia enam tahun. Perayaan enam tahun Plat-M berlangsung sederhana. Tapi penuh akan syarat makna. Aku tetap ingin ikut merayakan kebersamaan, walau hanya dari layar laptop dengan bantuan Skype.

Aku bersiap dari pagi. Mengosongkan jadwal. Mengucapkan selamat di media sosial hingga mengaktifkan Skype. Di Bangkalan sudah berkumpul sekitar sepuluh orang melingkar menghadap layar. Di pagi yang cerah, dengan tumpeng dan segala macam lauk pauk, menghiasi rumah Kak Raden.

Aku hanya bisa menelan ludah dan berharap makanan itu bisa dikirim ke Taipei. Apalah artinya teknologi, yang tidak mampu mengirimkan makanan dari sekejap! Bahkan baunya pun tak bisa aku rasakan. Secanggih-canggihnya teknologi, tak akan dapat mengalahkan pertemuan secara fisik.

Skype sudah ON. Akun si Klebun Anam juga sudah terlihat ON. Aku siap, merapikan rambut dan tempat duduk. Tombol bergambar kamera ditekan dan suasana di markas Plat-M pun terlihat. Kami akhirnya terhubung melalui jaringan Skype.

6th Plat-M skype

Tiba-tiba aku ditodong untuk memulai ceramah hari itu. Sempat bingung mau bicara apa, karena pikiranku masih penuh sesak dengan paper dan tesis. Lama juga tidak berbicara di depan Nak-kanak Plat-M. Setelah mencoba perlahan, akhirnya aku bisa kembali fokus mengompori mereka untuk tetap menduniakan Madura dan terus mengedukasi masyarakat.

Aku menyampaikan sedikit pesan buat teman-teman Plat-M. Pesan langsun dari dalam kamar dormitory kampus NTUST. Dengan microphone headset aku berbicara dan mereka sesekali memotong pembicaraanku. Meski berjauhan, suasananya, membuatku sudah seperti berada di depan mereka.

Kak Raden memotong pembicaraanku, untuk segera dilanjutkan ke prosesi pembacaan doa dan pemotongan tumpeng. Aku sempat terkaget dan mengiyakan saja. Aku manut apa kata mereka saja.

“Siapa yang baca doa? Jangan bilang aku?” tanyaku.

“Nggak! Sudah ada.” Jawab Kak Raden singkat.

“Sudah ada?” gumamku dalam hati.

Suara asing tiba-tiba melantunkan surah Al-Fatihah dan membacakan doa untuk Plat-M. Aku pun ikut larut bersama mereka. Kami larut dalam doa yang dibaca dalam bahasa Arab itu. Kami semua menundukkan kepala dan mengangkat kedua tangan. Sesekali mulut mengamini. Doaku sederhana: semoga Plat-M terus eksis sampai kapanpun. Kekhusyu’an doa terjalin antara Bangkalan dan Taipei.

Sesi pembacaan doa selesai. Aku membuat browser dan mengirim WhatsApp ke grup Plat-M.

“Siapa yang baca doa tadi?”

“Ra Syarif.” Tulis Kak Raden.

Sial. Mereka merahasiakan kepadaku kalau ada Ra Syarif.

Kata ‘Ra’ di depan nama itu merupakan identitas untuk seorang anaknya Kyai. Pasti Ra Syarif ini adalah tokoh/kyai/ustadz atau orang yang spesial di mata masyarakat sekitar. Aku langsung mengingat-ingat kata demi kata yang sampaikan ke teman-teman semua. Semoga tidak ada kalimat jelek yang didengar Ra Syarif.

Ra Syarif langsung meninggalkan tempat usai membacakan doa. Meski sempat merasa kurang enak, tetapi bersyukur bisa didoakan oleh beliau. Seorang tokoh dari pesantren yang tinggal tidak jauh dari markasnya Plat-M.

6th PlatM

Acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dan ramah tamah. Potongan pertama secara spesial Klebun Anam diberikan kepadaku. Bukannya senang, aku justru menderita. Karena hanya bisa menyaksikan piring yang penuh dengan nasi tumpeng, sayur urap, tomat dan ayam goreng dari layar ponsel.

Mereka sukses membuatku iri dan lapar.

Darul dan Jullev meminta untuk ikut bergabung melalui Skype. Meski hanya sebentar, tetapi kebersamaan dari Jakarta (Darul), Jember (Jullev), Taipei (aku), dan Bangkalan terasa istimewa. Semoga kebersamaan seperti ini terus berlangsung sampai kapanpun.

Jayalah terus, Plat-M!

Blogger Maduraaaa? Plat-M!


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

Berikan Komentar