Mulai dari Berbagai Musium, sampai KRI Dewaruci

Berpose di atas KRI Dewaruci

Pengalaman baru banyak saya dapatkan ketika mengikuti acara peringatan Hari Ulang Tahun Komunitas Blogger Surabaya (TPC) pada 11-12 Desember 2010 yang lalu. Datang dengan rombongan 23 orang bersama teman-teman Plat-M berangkat dari Madura Sabtu pagi, seperti biasa si sempuxz Darul menemani saya di belakang motor yang akan mengantarkan kita ke tempat penginapan sekaligus tempat start perjalanan kita di daerah sekitar Waru – Surabaya Selatan. Saya memimpin perjalanan dikawal kabut pagi hari terlihat ketika rombongan melintasi Suramadu, dari kaca spion terlihat berjejer teman-teman yang mengekor seperti ular yang sangat panjang.

Setelah sekitar setengah jam melewati kemacetan di jantung kota Surabaya, akhirnya kita sampai di penginapan kita selama acara di daerah Surabaya selatan. Nasi kotak bertuliskan daun pandan menyambut kita, setelah mendapat perintah dari Bang Nopy untuk mempersilahkan kita untuk mengambil menu sarapan pagi itu bersama teman-teman dari komunitas lain yang sudah datang terlebih dahulu.

Teman-teman Plat-M antusias mengikuti acara TPC

Awan berwarna putih agak abu-abu membuat kita terlindungi dari panasnya matahari Sabtu pagi itu. Bang Nopy memberikan sedikit wejangan untuk menyambut para tamu dari berbagai komunitas di Surabaya dan sekitarnya. Setelah itu kita menuju dua bis pariwisata berwarna hijau yang telah menunggu kita dari pagi hari. Tempat pertama yang dikunjungi adalah Museum Kesehatan Dr. Adhyatma, MH atau lebih dikenal dengan museum santet yang beralamat Jl. Indrapura No.47 – Surabaya. Memasuki ruangan museum, kita diajak kembali ke zaman awal ilmu kesehatan ditemukan, mulai dari bedah pertama kali di dunia, tidak hanya alat-alat kesehatan, tapi ada juga peninggalan teknologi yang digunakan untuk ilmu kesehatan mulai miskroskop jadul sebuah laptop uzur buatan IBM yang tersimpan rapi di salah satu meja museum. Setelah menyelesaikan ruangan pertama, kita diajak masuk ke ruangan yang orang-orang sebut sebagai museum santet, benar saja disini banyak sekali alat-alat yang penuh dengan kemistikan dipajang di berbagai sudut ruangan. Banyak sekali barang-barang yang “kurang masuk akal” dipamerkan mulai dari sebatang paku yang keluar dari perut, sampai alat yang digunakan untuk permainan jailangkung.

Sepeda tua yang dulu digunakan para dokter untuk menjalankan tugasnya

Setelah sport jantung di museum santet, bis menyusuri jalan-jalan Surabaya ke arah utara, sampailah kita di depan Akademi Angkatan Laut yang ada di daerah perak – Surabaya Utara. Setelah disambut oleh seorang perwira berpakaian loreng lengkap, kita diajak ke planetarium untuk mempelajari benda-benda ruang angkasa. Untuk memasuki ruangan Planetarium kita diwajibkan untuk membuka alas kaki dan dilarang membawa tas. Di dalam kita sudah ditunggu Pelda Muslih yang bertugas memeragakan sebuah alat yang konon buatan Jerman. “Alat ini nantinya yang akan memberikan kita pengetahuan tentang benda-benda luar angkasa”, jelas Pak Muslih. “Oke, sekarang hari mulai sore dan matahari akan kembali ke peraduannya”, terang Pak Muslih sambil memutar alat. Pak Muslih memberi peringatan kepada kita agar tidak memotret segala kegiatan yang akan diperagakannya, karena tidak akan menghasilkan apa-apa.

Pak Muslih sedang memberikan penjelasan kepada Netizen yang hadir

“Hari mulai gelap, dan sekarang waktunya Shalat Maghrib dan bintang-bintang mulai menampakkan diri”, jelas Pak Muslih. Secara perlahan, ruangan menjadi gelap gulita dan dihiasai bintang-bintang kecil yang sangat indah. Berada di ruangan tersebut seperti berada di atas kapal di tengah Samudra luas, yang terlihat hanya hamparan bintang yang menghiasi kegelapan langit. Seperti sudah terlatih Pak Muslih memberi keterangan kepada para Blogger yang hadir tentang nama dan letak bintang yang ada yang terkenal dan mempunyai nama, karena menurut Pak Muslih ada ratusan milyar bintang yang ada di Jagat raya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Ruangan Planetarium mirip seperti Stellarium, sebuah software yang ada di dunia OpenSource seperti Ubuntu. Setelah sekitar setengah jam, Pak Muslih mengakhiri pertunjukannya dengan berfoto-foto dengan para Blogger dan Netizen yang hadir di Akademin Angkatan Laut. Sebelum melanjutkan ke tempat selanjutnya kita sempat melihat beberapa ruangan museum yang ada di tempat tersebut.

“Para Blogger dan Netizen yang masih ada di Akademi Angkatan Laut, diharap segera menuju ke Bis, karena kita akan melanjutkan perjalanan ke ARMATIM”, sebuah pengumuman yang terdengar dari speaker yang berbunyi dari ruangan informasi. Kita melanjutkan ke ARMATIM ditemani gerimis di kota Surabaya. Di perjalanan, panitia memberikan nasi kotak untuk disantap karena sudah waktunya makan siang, begitu indah rasanya makan bersama di dalam bis sambil melihat butiran air yang menjatuhi kaca-kaca bis sehingga pemandangan kota Surabaya dari dalam bis sedikit terlihat kabur.

Tidak lama kemudian kita berada di depan pintu gerbang ARMATIM (Komanda Armada Wilayah Timur), bis meneruskan perjalanan memasuki area yang tidak semua orang bisa masuk, kita harus melewati beberapa kali pemeriksaan untuk masuk sampai ke tempat yang telah panitia sepakati dengan pihak ARMATIM, tidak lama kemudian bis berhenti, dan karena hujan turun cukup deras membuat kita harus sambil berlari menuju ruangan mirip aula yang biasanya digunakan untuk ruang pertemuan. Di depan ruangan kita disambut seseorang dengan tubuh kira berpostur 170 cm, berkumis dan memakai baju hijau sedikit silver khas Angkatan Laut, dengan tulisan Yayan Sugiana di atas kantong baju seragam sebelah kanan.

Di dalam aula di beri penjelasan sekilas ARMATIM yang armada yang dipunya sampai saat ini. “Indonesia ini negara maritim, 2/3 dari wilayah Indonesia adalah perairan, oleh karena itu kita wajib menjaga perairan Indonesia yang sangat luas ini.” terang Pak Yayan kepada semua netizen yang hadir di dalam ruangan, meski tanpa pengeras suara seperti mik dan speker, tapi suara Pak Yayan cukup lantang. Sesekali beliua memberikan judge yang membuat kita tertawa, selain itu juga beliau juga mengikuti perkembangan dunia Internet, menurutnya beliau sering membaca artikel dari Kompasiana.

Setelah sambutan hangat itu, rombongan di ajak untuk mengunjungi ke Monjaya, patung yang terlihat dari Pulau Madura itu gagah berdiri tinggi besar dan menjadi patung selamat datang sekaligus batas utara kota Surabaya dengan Selat Madura. Menurut Pak Yayan patung ini dibangun sejak tahun 1990, tapi baru diresmikan tahun 1996 karena masih dibuat secara terpisah di Bandung. Biasanya kalau saya naik kapal feri menuju Surabaya, patung ini menjadi ajang tebak-tebakan oleh Ayah kepada Anaknya, “Nak, kamu tahu gak patung itu, patung siapa?” tanya Seorang Ayah di atas kapal feri. Sambil memperhatikan patung Anaknya menjawab “itu kan patungnya Pak Ahmad Yani, Pahlawan Nasional itu”. “Salah, itu patungnya Yos Sudarso, pahlawan Indonesia yang gugur di laut Arafuru”. Sejak melihat percakapan itu saya beranggapan bahwa patung yang lebih cocok kalau disebut monumen itu adalah monumen Yos Sudarso. Tapi ketika saya datang langsung ke kaki monumen itu dan bertanya kepada Pak Yayan, ternyata itu bukan patung atau monumen A. Yani ataupun Yos Sudarso, tetapi itu patung seorang perwira yang tidak ada namanya. Patung itu menggambarkan posisi siap seorang perwira ketika sedang upacara. Artinya ARMATIM selalu siap kapanpun membela ibu pertiwi ini.

Foto bareng di kaki MONJAYA

Matahari belum bisa bersinar, karena tertutupi tebalnya awan yang mendung. Pak Yayan terlihat setia menemani kita meski hujan rintik-rintik membasahi seragam abu-abu-nya, setelah berfoto-foto Pak Yayan mengajak rombongan untuk berpindah ke KRI Dewaruci. Kapal yang sangat terkenal ini baru saja datang dari keliling dunia dengan menempuh waktu perjalanan selama 8 bulan 11 hari. Kami semua tidak sabar sampai ke KRI Dewaruci yang letaknya tidak jauh dari posisi patung, kita hanya perlu berjalan kaki sebentar untuk memasuki KRI Dewaruci.

Saya sudah tahu kehebatan KRI Dewaruci dalam membelah samudera dari pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ketika masih SD, tapi baru kali ini saya bisa menaiki kapal yang syarat akan sejarah dan mempunyai misi mengenalkan budaya Indonesia ke seluruh dunia. Ketika di atas, saya terpesona dengan bentuk Kapal yang terlihat seperti dari Kayu yang sangat kuat dengan warna kecokelatan, selain itu tali tambang yang biasanya digunakan untuk mengembangkan layarnya juga terpasang tanpa layar yang sudah dilepas sebelumnya. Tanpa mengambil waktu lama-lama kita lanjut menghidupkan Kamera Digital Sony kami, dan langsung berfoto ria. Seluruh Netizen yang hadir juga tidak menyia-nyiakan waktu, mereka mengambil foto menggunakan kamera digital, ataupun kamera dari ponsel mereka masing-masing.

Suasana di dalam bagian bawah KRI Dewaruci

Seorang petugas KRI Dewaruci bernama Supardjono mengajak kita untuk masuk ke bagian bawah KRI Dewaruci, Pka Supadjono menjelaskan bagian dalam Dewaruci satu persatu, semakin masuk ke dalam semakin menambah kekaguman kita terhadap KRI Dewaruci, terlihat di dinding kapal menempel penghargaan dari berbagai Negara, saya sempat membaca salah satu penghargaan datang dari Pemerintah Jepang dengan bertuliskan huruf kanji, pada bagian bawah, kita tidak seperti berada di dalam KRI Dewaruci yang kalau dari jauh seperti perahu kayu yang tidak ada sesuatu yang spesial, tetapi ketika berada di bagian bawah kapal, kita semua terkesima dengan tatanan ruangannya mirip sebuah rumah kos, terdiri dari beberapa kasur tingkat yang berjejer rapi, jumlahnya lumayan banyak, sehingga cukup untuk digunakan semua perwira yang ikut keliling dunia dengan kapal ini, saya pribadi kaget, ternyata di ruangan bawah ini dilengkapi AC sehingga ruangannya cukup dingin. Pak Supardjono dengan antusian ditemani Pak Yayan menceritakan satu demi satu barang-baran yang ada di dalamnya, mulai dari tempat istirahat perwira sampai tempat menaruh bekal mereka selama di perjalanan. “Semua perwira baru yang ikut menjadi salah satu bagian dari perjalanan KRI wajib mengenal semua jajaran mulai dari atasan sampai perwira dalam waktu 48 jam, selain itu mereka wajib mengetahui semua lelak barang-barang vital seperti alat pemadam api, bukan begitu Mas?” tanyanya kepada perwira baru yang ada di dalam Kapal.

Bang Nopy terlihat seperti kapten KRI Dewaruci yang sedang mengemudikan mengarungi Samudera

Setelah mengenalkan bagian bawah, Pak Supardjono mengajak kita beranjak ke lantai 1 dimana ada sebuah kamar bertuliskan Lounge Room di atas pintunya, kami terkesima dengan fasilitas yang ada dalam ruangan tersebut, mirip seperti ruangan di dalam apartemen mewah, ruangannya dingin karena di lengkapi AC, selain itu sebuah sofa empuk, LCD TV 32″ terpajang mewah, lukisan dan ukiran khas Indonesia juga menambah kesan mewah ruangan ini, saya beruntung bisa masuk ke dalam ruangan ini, karena tidak semua orang bisa masuk. Selain itu di samping Lounge Room ada satu ruangan yang bertuliskan VVIP Room, menurutnya ruangan ini dikhususkan apabila Presiden berkunjung atau mengikuti pelayaran KRI Dewaruci, sayang kita tidak bisa masuk, alhasil saya cuma bisa mengamati sekilas kemewahan ruangan yang dilengkapi foto Presiden dan Wakil Presiden dengan lambang Garuda di tengah-tengahnya.

Foto bersama Netizen se Jatim di atas KRI Dewaruci

Tidak terasa hampir 90 menit kita menjelajah KRI Dewaruci, kami akhiri kunjungan ke KRI Dewaruci dengan berfoto ria di bagian atas Kapal dengan Pak Yayan dan Pak Supardjono juga, sungguh pengalaman baru yang tidak akan pernah terlupakan, sekarang saatnya kembali ke Penginapan untuk shalat dan mandi. Setelah semuanya rapi kita kembali menaiki bis untuk mengadakan kopdar akbar dengan beberapa komunitas di Telkom Margoyoso yang berada tepat di samping Tunjungan Plaza. Di sana kita sharing-sharing dengan beberapa pegiat dunia online, termasuk sharing antar komunitas juga. Hal ini menjadikan suasana hangat dan penuh persahabatan. Puncaknya kita disuguhkan atraksi Hipnotis, setelah diseleksi akhirnya teman kita Joko terpilih menjadi orang yang dihipnotis, kami menjadi tertawa seolah tidak percaya, apa yang biasanya kita lihat di televisi, kini terjadi terhadap teman kita sendiri. Tidak lupa saya juga mengabadikan kejadian lucu dan aneh ini dengan merekamnya menggunakan ponsel.

Joko, teman saya yang tak berdaya dihipnotis

Sebuah acara yang sangat manis dari saudara kita TuguPahlawan.Com (TPC) terima kasih saudara. Banyak hal dan pengalaman baru yang tidak akan pernah terlupakan, semoga acara ini menambah erat tali persaudaraan antar komunitas di Jawa Timur.

ALAM

2 thoughts on “Mulai dari Berbagai Musium, sampai KRI Dewaruci

Berikan Komentar