Minggu yang terik. Seperti diperhatikan oleh matahari yang bersinar sempurna, aku menghidupkan motor dan bergerak menuju kampus UTM. Melewati jembatan suramadu dengan latar kabut dan perbukitan Madura.Aku sempat mampir rumah Kamal untuk berganti pakaian dan menunggu asisten pribadi, namanya Toni. Tak lama berselang, Toni datang dan kami pun menuju kampus UTM yang ditempuh dalam waktu 10 menit saja.

Acara seminar teknologi dan entreprenurship ini digelar di auditorium lantai 10 gedung rektorat. Inilah pertama kali aku bakal mengisi seminar di gedung tertinggi di Madura. Saat kami tiba di gedung rektorat, kami sudah disambut beberapa panitia yang mengantarkan ke pintu lift. Kemudian di ruangan, kami disambut oleh Jefri, sang ketua pelaksana gelaran saat itu.

Kami tiba saat acara baru saja selesai menyanyikan lagu Indonesia Raya. Aku pun dipersilahkan duduk di baris depan. Tak lama berselang Pak Rachmat Hidayat, Dekan Fakultas Teknik UTM datang menemani. Aku berbisik kepada Pak Dekan: “Pak, ini bukan seminar, melainkan ngajar di hari Minggu”. Pak Dekan pun tersenyum dan menghiburku dengan kalimat: “Kalau bukan mas Wahyu, siapa lagi?”.

Acara resmi di buka oleh Pak Dekan dengan memukul gong tiga kali. Sayang Pak Dekan tidak bisa berlama-lama, beliau harus segera meninggalkan ruangan karena ada acara yang lain.

Aku dibisiki oleh panitia, kalau bakal mengisi yang pertama. Topiknya sebenarnya teknologi. Namun aku kaitkan dengan kehidupan kids zaman now yang berubah karena ada internet. Makanya presentasiku diberi judul: Kids Zaman Now di Era Digital.

Ada lima pesan yang setidaknya aku berikan kepada sekitar 100 peserta yang hadir. Pertama adalah schedule it and it will happen. Pesan ini berawal dari keresahan anak-anak sekarang lebih suka bermain ponsel daripada kreatif membuat karya. Pesan kedua adalah Lakonah, Lakoneh, Kennangah, Kennengeh. Pesan kedua ini berasal dari pepatah Madura yang artinya kerjaannya, kerjakan, tempatnya, tempati. Hal ini menjawab maraknya anak muda yang tiba-tiba menjadi ahli politik, tiba-tiba menjadi ahli budaya, tiba-tiba menjadi ahli kesehatan di saat isu-isu politik, budaya, dan kesehatan menjadi trending. Budaya sok tahu, sok paling tahu membabi buta di zaman sekarang.

Pesan ketiga adalah bertanyalah karena bisa. Hari ini anak muda semakin manja. Apa saja ditanyakan, remeh temeh ditanyakan, dikit-dikit bertanya, padahal semua pertanyaan tersebut sebenarnya sudah seabrek tersedia di internet. Teknologi dapat membuat kita malas dan ingin serba instant. Malu bertanya memang dapat menyebabkan sesat di jalan, namun banyak bertanya itu memalukan.

Pesan keempat adalah jangan sombong, teruslah belajar. Ini pesan sederhana namun banyak terjadi di kalangan muda. Mentang-mentang sudah punya startup dengan omzet ratusan juga menjadi sombong, segalanya serba ada, tidak mau belajar karena merasa dirinya paling hebat. Jika sudah begitu, maka tunggulah kehancuranmu. Ke depan, akan banyak sekali masa-masa yang tidak menentu, maka terus belajar, terus berinovasi adalah kunci agar tetap bisa bertahan hidup di era yang semakin tak menentu.

Pesan kelima adalah aktif berorganisasi. Karena kemampuan softskills, leadership dan open-minded hanya bisa didapat dengan berorganisasi. Kata Pak Anies Baswedan, IPK hanya mengantarmu hingga fase wawancara, tapi leadership yang akan membawamu ke masa depan.

Semoga kelima pesan di atas dapat memberikan gambaran kepada kids zaman now, bahwa masa depan kalian masih panjang. Tak ada waktu untuk bermalas-malasan, bekerja keraslah, karena manisnya hidup akan terasa setelah bekerja keras.

Selamat bekerja keras, guys!


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

Berikan Komentar