#ALAMelangkah

Surat Cinta Untuk Bapak Alam

Kelas X6Sebelum mengakhiri pelajaran sekaligus pertemuan terakhir saya dengan mereka. Saya meminta mereka untuk menulis surat cinta. Beberapa diantaranya saya tidak beri tahu tentang rencana kepergian saya. Saya hanya meminta untuk menulis pesan, kesan, saran dan kritik untuk saya agar bisa lebih baik di semester depan. Beberapa berterimakasih dan merasa senang dengan proses pembelajaran yang have fun dengan beberapa game yang saya sajikan. Juga tidak sedikit yang memprotes suara saya yang kurang keras. Guys, suara saya memang seperti ini. Putus-putus, karena (more…)

By ALAM, ago
#ALAMelangkah

Lebih Dari Sekadar E-Learning

Embedded image permalink Dalam beberapa kesempatan berbicara di beberapa SMA di Madura, saya menemukan hal menarik. Ternyata masih banyak siswa yang malu dan tidak berani menyampaikan pendapatnya, apalagi maju ke depan. Mental mereka terkunkung dalam rutinitas sehari-hari sehingga rasanya begitu takut maju ke depan ataupu sekadar berbicara mengungkapkan pendapatnya. Jelas hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi semua guru di Madura. Saya ingin semua siswa di Madura aktif dengan mempunyai mental baja. Tak satupun pernah merasakan xenophobia yang berlebihan. Berani maju ke depan dan menyampaikan pendapatnya. Presentasi ataupun sekadar menjelaskan materi yang diajarkan. Memang tidak semuanya takut berbicara ke depan. Ada beberapa yang mahir bahkan ketagihan maju presentasi dan saking seringnya sampai sulit untuk dikendalikan. Over active. Hal ini juga ingin melihatnya di tempat saya mengabdi, SMAN 4 Bangkalan. (more…)

By ALAM, ago
#ALAMelangkah

Kisah Tentang 10 Kelas

Setiap kelas berbeda. Mereka punya kelebihan dan ngga punya kekurangan. Semua kelas menyenangkan. Aku akan selalu mengingat dan rindu berada di depan mereka. Aku akan selalu mengenang masa-masa aku berada di depan mereka, menyampaikan materi dan bercerita tentang kisah-kisah inspiratif. Read more…

By ALAM, ago
#ALAMelangkah

Ikut Melunasi Janji Kemerdekaan

Hari ini kondisi kita jauh lebih maju daripada saat kita menyatakan merdeka. Saat republik berdiri, angka buta huruf adalah 95%. Saya membayangkan betapa beratnya beban para pemimpin republik muda di waktu itu. Mereka harus menggerakan kemajuan dari nol, dari nol besar. Puluhan juta rakyatnya sanggup berjuang dalam revolusi kemerdekaan, tapi tidak sanggup menuliskan namanya sendiri. Hari ini melalui kerja kolektif seluruh bangsa, kita berhasil memutarbalikan hingga tinggal 8% yang buta huruf. Tidak banyak bangsa besar di dunia yang dalam waktu 60 tahun bisa berubah sedrastis ini. Itu prestasi kolosal, dan kita boleh bangga. Tapi daftar masalah yang belum terselesaikan masih panjang. Melek huruf adalah langkah awal. Langkah berikutnya adalah akses yang merata, akses untuk setiap anak pada pendidikan berkualitas. Pendidikan berkualitas adalah kunci mengkonversi dari kemiskinan dan keterbelakangan menjadi kemajuan, menjadi bangsa yang cerdas, adil dan makmur. (more…)

By ALAM, ago