Ini sebenarnya kisah lama, tapi kesan mengerikannya masih terasa hingga sekarang. Aku bersama Saide dan Kemal meninggalkan Taiwan setelah kuliah dua semester di NTUST. Kami pulang dengan membawa ijazah dan sedikit uang.

Ya sedikit uang, karena kami di Taiwan kuliah, bukan bekerja.

Momen sedih pun sempat terasa saat meninggalkan kampus. Terbukti dengan hujan yang mengiringi perjalanan kami. Waktu itu bersamaan dengan bulan puasa. Dan kami pun memilih penerbangan malam agar bisa berbuka puasa di Bandara. Kami memilih penerbangan paling murah, sehingga harus transit ke Singapura, dengan pesawat Besi Udara.

Baca Juga: Merekam Bandara Internasional Taoyuan

Kisah mengerikan itu diawali saat kami akan boarding. Seperti biasa kami mengantri dengan penumpang yang lain. Namun antrian pesawat kami ini sama seperti pesawat Singa Terbang di Indonesia. Panjang.

Sebelum pergi, kami melakukan beberapa hal agar koper kami tidak terlalu berat. Termasuk separuh diantaranya kami kirim ke Indonesia melalui jasa kurir. Trik berikutnya adalah kami memusatkan barang-barang bawaan kami ke koper kabin. Karena biasanya hanya koper bagasi yang ditimbang. Ini menjadi salah satu trik rahasia agar beban di bagasi tidak overload.

Kami bertiga sudah seperti kakak beradik yang pulang dari mengambil kitab suci dari barat. Kami pun saling menumpuk tas menjadi dua trolley, tujuannya agar tidak capek mendorong. Kami bergantian jika ada yang ingin pergi ke toilet, atau ada yang beli makanan untuk buka puasa.

Aku diminta untuk mencari makanan untuk berbuka puasa. Aku pun mencari FamilyMart di Bandara Taoyuan. Aku berkeliling, berjalan agak jauh, baru menemukannya. Aku membeli beberapa onigiri, pocari sweet untuk buka puasa dan beberapa snack untuk menunggu pesawat. Tenang, makanan di sini harganya flat, dimanapun tempatnya, sekalipun di Bandara, harganya sama.

Aku kembali ke Kemal dan Saide yang menunggu. Ternyata masih ngantri. Terpaksa, kami berbuka puasa sambil berdiri di tengah antrian. Pocari sweet dan onigiri menjadi menu buka puasa hari terakhir di Taiwan.

Hingga akhirnya, giliran kami pun tiba.

‘semua tas ditimbang’, ujar petugas. Tidak terima kami bertanya, ‘bukannya tas kabin tidak perlu ditimbang?’

‘aturannya batas maksimal tas kabin adalah 7kg, jadi tetap harus ditimbang’

Setelah dihitung, kami harus membayar 6600 NT kelebihan 11Kg. Kami berontak, berdebat, mencari segala agar tak membayar. Harga itu setara dengan dua kali harga tiket pesawat ini. Kami tetap menolak membayar dan tetap mau bernegosiasi. Kemarin berangkat naik Tiger Air, tak ada proses timbang tas kabin. Kami tetap bersikeras tidak mau bayar. Perdebatan terjadi hingga semua antrian di belakang selesai dilayani oleh loket lain.

Baca Juga: Dua Syarat Melihat Salju di Taiwan

Kekerasan kepala kami berdua sukses membuat petugas wanita itu kebakaran jenggot, eh kebakaran kumis. Nadanya naik meninggi. Sayang bahasa Inggrisnya blepotan, sehingga komunikasi kami sehingga terhambat. Mungkin juga karena sudah sore dan mbak-mbak berkumis tadi belum capek melayani antrian yang panjang, akibatnya sensi ke kami.

Kami sempat benar-benar marah ketika dia meminta untuk membuka tas dan membuang beberapa isinya jika tidak mau membayar denda. YA, MEMBUANG BEBERAPA ISINYA!

Gila aja, beberapa barang yang lain sudah dikirim via kurir dalam dua kardus besar. Artinya, yang kami bawa adalah barang terpenting selama kuliah di Taiwan. Tak mungkin untuk dikeluarkan apalagi dibuang.

Tak ingin berlama-lama apalagi sampai ketinggalan pesawat, kami harus menyatukan kekuatan agar bisa membayar kelebihan beban kabin.

Jengkel sekali rasanya. Perpisahan dengan Taiwan yang seharusnya mengharukan berubah menjadi menyebalkan. Muka kami murung dan bete. Kami tak banyak berbincang-bincang saat menunggu boarding.

Kami pun bersumpah tak akan memakai maskapai ini lagi. Seumur hidup. Bahkan sumpah kami semakin serapah ketika penerbangan ditunda 90 menit. Ingin rasanya segera sampai di Singapura, apalagi ketika masuk ke dalam pesawat ternyata ada nenek-nenek yang menyambut kami. Ehbuset, pesawat ini menggunakan pramugari yang sudah uzur. Duh Tuhan, mimpi apa kita semalam? 🙁

Pelajarannya: harus tahu aturan berapa batas maksimal tas yang dibawa kabin dan bagasi. Menimbang semua barang bawaan sebelum berangkat, pastikan timbangannya sama dengan yang tertera di tiket. Kemudian datanglah pagi-pagi atau jadilah pengantri pertama. Saat mendekat ke loket check-in, pastikan tas yang mau dibawa ke kabin digendong, buka ditaruh di trolley.

Tips di atas berjalan mulus ketika naik Tiger Air dari Singapura ke Surabaya. Aku cuma membayar kelebihan tas yang di kabin.

Dan kesedihan itu pun buyar, sirna, hilang tertinggal di langit Singapura ketika melihat keluarga menunggu di Bandara. Duh, senangnya!

ALAM

ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

2 Comments

Silviana Noerita · April 27, 2018 at 19:46

Wah belum pernah aku naik pesawat yang bahkan bawaan ke kabin juga ditimbang. Hahaha.. Harus waspada nih kalau² suatu saat kena kayak gini

    ALAM · April 30, 2018 at 09:24

    Iya, kalau pesawat low cost harus gitu katanya. Jadi harus dipersiapkan.

Berikan Komentar

*/
%d bloggers like this: