Pesona Kecantikan Abadi Kota Solo

Mata airmu dari Solo
Terkurung Gunung Seribu
Air mengalir sampai jauh
Akhirnya ke laut

***

Aku terlahir jauh setelah lagu Bengawan Solo bergema di Jepang dan Uni Soviet. Namun, gemerlap lagu itu masih terasa hingga sekarang, bahkan selamanya akan tetap merasuki jiwa yang mengunjungi kota Bengawan Solo. Aku membayangkan Gesang menciptakannya dengan menatap nanar sungai terpanjang di tanah Jawa. Kata demi kata dirangkanya membentuk sebuah penggalan lirik penuh makna tentang Solo dengan nada berjiwa Jawa Tengah. Sedangkan aku baru singgah pertama kali di Solo saat lagu ini berusia 70 tahun. Berkunjung ketika lagunya sudah hadir dengan banyak versi.

Bengawan Solo
Wajah sungai bengawan Solo dari dekat

Namun Solo tidak hanya sekadar soal lagu. Ada banyak hal yang tidak aku temui di kota lain saat mengunjungi kota ini. Ya, aroma Jawa begitu kental menyeruak seketika pertama kali menginjak tanahnya. Dengan slogan The Spirit of Java, kota ini ingin menjadi pusat kebudayaan Jawa. Keraton Surakarta dan Keraton Mangkunegaran menjadi magnet berdaya tinggi menarik wisatawan asing maupun lokal. Mereka dibuat takjub dengan pagelaran seni dan budaya yang diadakan secara rutin dengan jadwal tersusun rapi setiap tahun, setidaknya terlihat dari pamflet, poster, hingga buku panduan wisata yang dicetak dengan desain elegan dan konstruktif. Tidak hanya dicetak offline, namun juga “dicetak” online.

https://twitter.com/wahyualam/status/404921286062657536

Budaya dan Sejarah: Tidak Ada Habisnya!

Aku menjadi satu dari ratusan atau bahkan jutaan turis yang terpukau dengan pertunjukkan seni dan budaya di dua keraton. Mei lalu, menginap di hotel Kusuma Sahid memberiku kesempatan datang ke keraton Mangkunegaran yang terletak tidak jauh dari hotel. Dengan berjalan kaki aku melangkah menuju keraton. Dari jauh, suara gending yang ditabuh dengan hati sayup-sayup terdengar oleh telinga dan secara perlahan merasuki setiap mili liter darah Jawaku.

Tari pembuka: Tari Kupu

https://twitter.com/wahyualam/status/404922299087736832

Di joglo dengan empat saka guru ini diadakan pertunjukan tari. Beberapa orang terlihat sudah berkumpul saat aku datang. Lampu menyorot begitu terang ke panggung. Layar lebar disediakan untuk penonton yang tidak bisa melihat lebih dekat. Tidak lama kemudian aku mendekat. Tarian pertamapun dimulai. Tari Kupu menjadi pembuka. Alunan musik gending dengan dominasi gamelan yang dibawakan langsung menambah kesan magis malam itu. Aku tak mampu lagi berkata, aku terdiam, tanganku seolah tidak mampu lagi mengangkat tablet untuk sekadar ngetweet ataupun update status di Facebook. Aku tenggelam bersama ratusan penonton melihat lenggak lenggok para penari. Penari di depanku itu adalah gambaran tentang begitu anggun dan cantiknya perempuan Indonesia. Begitu ramah. Alunan instrumen gending dari gamelan semakin membuat jiwaku bergetar. Seperti meniupkan kembali desiran-desiran darah jawaku. Aku masih teringat saat mbahku, menidurkanku dengan cara menyanyikannya lagu jawa yang aku sendiri tak tahu artinya. Namun, lagu itu begitu bermakna. Pasti. Kini di depan penari itu, aku mencoba terdiam dalam keramaian menikmati detik demi detik, sudut demi sudut hingga gerakan demi gerakan untuk melihat bahwa Indonesia itu begitu kaya akan budaya. Dan pertujukan drama musikal dengan judul Timun Emas menutup malam yang dingin di keraton Mangkunegaran.

Legenda timun emas

https://twitter.com/wahyualam/status/404922000210030592

Tidak hanya di keraton Mangkunegaran, aku juga dibuat terpukau dengan beberapa tarian dan perlakuan ketika mengikuti acara penutupan ASEAN Blogger Festival yang diadakan langsung di keraton Surakarta. Menyaksikan seni tari di tempat istimewa seperti keraton akan membuat kita seperti kembali ke masa kerajaan. Itulah pertunjukan-pertunjukan di dua keraton yang berhasil membuatku rindu untuk kembali ke Solo.

Pertunjukan yang aku lihat ini adalah sekain dari 56 agenda budaya yang telah digelar tahun ini. Bahkan di tahun depan sudah ada jadwal dan beberapa agenda telah tertulis rapi. Setidaknya akan ada 20 agenda budaya utama menunggu kehadiranku dan wisatawan yang lain sepanjang tahun depan. Sementara 28 agenda budaya lainnya, bakal menjadi agenda pendukung gelaran utama. Selain itu, masih ada sejumlah gelaran budaya baru juga akan mewarnai Calender of Cultural Event Solo 2014 antara lain Konser Gamelan Akbar, Vastenburg Festival, dan Indonesian Mask Festival (semula diusulkan bernama Solo International Mask and Dance Festival). Sedangkan sejumlah agenda yang sudah “mapan” digelar dan mampu menyelenggarakan kegiatan secara mandiri seperti Solo Batik Carnival, Solo Batik Fashion, Solo City Jazz, Solo Keroncong Festival, hingga Rock In Solo bakal kembali digelar dan masuk dalam agenda budaya utama Kota Solo. Jelas, ini membuatku bingung harus memilih mana yang akan aku kunjungi tahun depan.

Memang, tak ada habisnya bicara tentang Solo. Bersama Yogyakarta, Solo menjadi pusat kehidupan masyarakat Jawa. Jika ingin mengetahui cara orang Jawa menjalani kehidupan datanglah ke dua kota ini. Dengan aneka budaya, kearifikan lokal masyarakatnya, adat istiadat, unggah-ungguh, sejarah dan segala peninggalan masa lalu masih tersimpan begitu menakjubkan. Keraton hingga musium seolah menjadi saksi, bahwa kehidupan masa lalu masih tertinggal hingga sekarang. Kita masih bisa merasakan bagaimana budaya Jawa bergelayut dengan kehidupan masyarakat hingga kini. Gaya berbicara, bertindak, hingga berkehidupan ala orang Jawa yang patut kita contoh.

Wisata Alam Bernafaskan Sejarah

Berkunjung ke kota yang termahsyur dengan batiknya ini, akan sangat menyesal jika tidak sempat mengunjungi objek wisata yang lain, wisata sejarah dan alam menarik untuk kita lihat dari dekat. Lihat saja, secara geografis Solo dilindungi oleh empat gunung tinggi nan gagah. Gunung Merapi, Merbabu, Lawu dan Pegunungan Sewu seperti menjadi tembok pembatas menyambut siapa saja yang datang berlabuh di Solo. Tanahnya begitu subur dengan aliran sungai Bengawan Solo di sekitar kota. Aku bersyukur, bisa merasakan aliran sungai itu, langsung menyentuhnya dengan tangan, dengan dipandu tim Basarnas Solo, aku dan teman-teman blogger dari berbagai daerah melintasinya selama dua jam. Hal ini terjadi saat mengikuti acara Sharing Online Lan Offline yang digelar oleh Blogger Bengawan, Juni 2010 silam.

Tidak jauh dari sungai Bengawan Solo, tepatnya di kaki Gunung Lawu terdapat wisata alam berkolaborasi apik dengan wisata sejarah. Ada candi yang konon menjadi candi terakhir yang dibangun di pulau Jawa. Saat aku tiba di sana, bunyi serangga khas pegunungan menyambut kedatangan kami. Setelah dua jam perjalanan dari Solo, kami melihat candi yang tidak kalah menakjubkan dengan candi Prambanan bernama Candi Sukuh.

Foto bersama peserta ASEAN Blogger Festival di Candi Sukuh

Candi ini merupakan salah satu yang paling menarik di Asia Tenggara. Tidak hanya dari segi arsitektur yang menyerupai piramida terpancung Suku Maya di Amerika Tengah, namun yang paling unik adalah ada salah satu ornamennya yang erotis.

Selain itu, tata letak candi ini bangunan memanjang ke belakang dan berunduk tiga teras, yaitu Jaba, Jaba Tengah dan Jeron. Untuk memasuki Jaba harus melewati gapura Cangapit, gapura yang terkenal dengan Lingga-Yoni yang terlukiskan pada lantai gapura. Menuju Jaba Tengah dan  Jeron, harus melalui Sela Setangkep yang terdapat profil candi yang berada di depan candi induk dengan arstitek piramida terpancung.

Pada halaman candi ini banyak relief menggambarkan cerita Sudamala, Garudeya, dan Dewa Ruci. Ada banyak pelajaran terpahat, salah satunya tentang seksualitas Candi Sukuh. Kuatnya aroma kisah percintaan di candi sukuh tergambar dari relief-relief yang ada seperti relief kidung Sudamala dan keberadaan Lingga Yoni sebagai lambang maskulinitas dan feminitas. Sudamala mengisahkan tentang pembebasan atau ruwatan Ranini dari wujud Durga menjadi Uma yang cantik. Aku baru mengerti bahwa Cuddha itu berarti bersih dan Mala itu berarti Dosa. Sadewa yang telah berhasil membebaskan wujud jahat durga diberi gelar Suda Mala (menghapus wujud jahat). Begitulah penjelasan tour guide kepada kami.

Candi Sukuh dengan ornamennya yang memukau.

Candi Sukuh ini, lanjut tour guide, termasuk candi Hindu yang diperkirakan berdiri pada abad XV, berfungsi sebagai tempat pemujaan, ditemukan oleh Johnson seorang penduduk yang hidup pada masa pemerintahan Gubernur Raffles tahun 1815. Candi yang banyak menyimpan misteri ini, berada pada ketinggian 910 mdpl. terletak di Dusun Sukuh desa Berjo kecamatan Ngargoyaso, berdekatan dengan objek Grojogan Jumog.

Keberadaan candi ini menjadi bukti tingginya peradaban Indonesia di masa lalu. Berkunjung ke Candi ini kita tidak hanya diajak jauh ke lorong waktu masa silam. Dari ketinggian candi Sukuh, kita akan mendapatkan pemandangan yang tepat untuk menikmati hamparan hijau kebuh teh kemuning.

Solo, Kota Penuh Keunikan

Wisata alam, budaya, dan sejarah di kota yang mengangkat nama Jokowi ini ngga akan habis dibahas dalam satu lembar tulisan saja. Disamping memukaunya objek wisatanya, Solo mempunyai keunikan yang membuat setiap turis yang datang mendapatkan kesan yang berbeda.

Keunikan pertama datang dari aturan tata kelola kotanya. Jika di Madura, tempat aku tinggal, nyaris berjejeran mini market warlaba sangat mudah ditemui, bahkan berjejer di setiap kecamatan. Sedangkan di Surabaya, mudah sekali menemukan mini market di dalam kota. Bahkan tidak jarang bersebelahan langsung dengan pasar tradisional.

Hal seperti ini tidak aku temui di Solo. Di dalam kota, sama sekali aku tidak melihat mini market dengan warna mencolok itu. Hal ini membuat kesan tua akan kotanya tetap terjaga. Usut punya usut ternyata ini diatur oleh pemerintah. Perda Solo No.5/2011 tentang Penataan Pembinaan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern menegaskan bahwa pembangunan mini market wajib berjarak minimal 500 meter dari pasar tradisional. Ini yang sebenarnya harus ditiru oleh semua pemerintah di Indonesia. Semua kota di negeri ini harus memerhatikan kesan sejarah kotanya masing-masing. Karena yang membedakan setiap kota di dunia ini hanya sejarah dan budayanya.

Keunikan kedua hadir saat kita bermalam di salah satu penginapan di Solo, baik hotel ataupun tempat penginapan yang lain. Kita akan tenggelam ke dalam suasana Jawa saat secara tidak sadar kita didengarkan gending dari speaker yang dipasang di setiap sudut hotel. Aku merasakan hal ini ketika aku menginap di hotel Kusuma Sahid di Jalan Sugiyopranoto. Waktu itu aku sedang mengikuti acara ASEAN Blogger Festival. Setiap hari, baik di dalam ataupun di luar hotel, aku mendengar sayup-sayup suara gending diputar. Bahkan saat berada di tempat makan sekalipun.

Aku juga baru tahu kalau ternyata ide cemerlang ini berasal dari surat edaran resmi dari pemerintah kota Solo yang dalam hal ini dilakukan oleh Dinas Pariwisata di tahun 2011. Kebijakan memperdengarkan instrumen gending-gending gamelan Jawa ini tidak diperuntukkan untuk hotel berbintang saja, namun semua pengusaha penginapan kecil di Solo. Lagi, peran pemerintah yang aktif sangat diharapkan dalam setiap kebijakan yang berujung pada peningkatan wisatawan untuk mau dan kembali berkunjung ke kota tersebut.

Musik gending memang punya daya magis yang luar biasa. Musik seperti ini tidak ada di negara manapun kecuali Indonesia. Hal inilah yang selalu membuat kita rindu dan ingin kembali lagi.

https://twitter.com/wahyualam/status/404970081534238720

Solo, kota dengan latar belakang keraton, kaya akan budaya dan pertunjukan seni, tak pernah lupa untuk selalu menghormati sejarahnya. Engkau tahu betul bagaimana menjadi pesona bagi Jawa bahkan untuk Indonesia di mata Internasional. Begitu mahir memoles kemolekannya sehingga membuat setiap jiwa rindu berkunjung dan kembali lagi. Menikmati betapa mempesonanya kota Solo yang cantik abadi

.

ALAM

11 thoughts on “Pesona Kecantikan Abadi Kota Solo

  1. Ngebaca ini jadi pengen jalan-jalan lagi bersama istri tercinta.
    Kemarin baru saja dari Solo. Kota ini memang indah dan romantis. Terasa sekali Jawanya.
    Jadi pengen ke sana lageee.

Berikan Komentar