Pesona Wisata Religi Madura

Aku terkaget bangun dan seolah otomatis tangan kiriku tergerak mengarahkan jam tangan agar bisa terlihat. Terlihat pada alroji hitamku arah jarum pendek masih menyentuh angka tiga berarti masih pukul 03.00 dini hari. aku tidak bisa tidur menantikan kumandang adzan subuh segera berderu dari speaker masjid. Jam 05.00 aku harus berkumpul bersama jema’ah dhiba’an masjid Al-Kabir, Kebun untuk berziarah ke makam para penyebar agama Islam di Madura.

Kutunaikan kewajibanku sholat Subuh kemudian seragam dhiba’an yang pertama aku pakai, sedikit parfum kusemprotkan ke beberapa bagian kemeja muslim berwarna putih itu. sebuah tas hitam berisi perbekalan selama perjalanan ku gendong dan bismillahirrahmanirrahim aku melangkahkan kaki meninggalkan rumah.

Gelap sudah bertransformasi menjadi terang dan orang-orang berpakaian putih sudah berkumpul di dekat bis elf yang mengantarkan kita keliling wisata religi di Madura. Roda bis mulai berputar dengan alunan musik yang terdengar dari sebuah radio menemani pagi indah ini.

Matahari masih mulai menyemburkan cahaya kejinggaannya dari ufuk timur saat kami sampai pada tujuan pertama, yaitu Buju’ Sembilangan yang berada di kecamatan Socah, Bangkalan. Buju’ ini berada di ujung barat pulau Madura. Tepat berada di timur menara Mercusuar peninggalan Belanda di bibir pantai paling barat Kabupaten Bangkalan.

Deru bis terdengar melanjutkan perjalanan ke arah timur, tidak sampai setengah jam kami sudah disambut oleh pintu gerbang dengan patung burung Pancasila yang tertempel di atasnya. Buju’ Sara begitulah masyarakat menyebut nama tempat ini. 10 menit ke arah timur, sebuah masjid megah terhampar di hadapan rombongan ziarah wisata religi Madura. Masjid yang di bawahnya bersemayam seorang penyebar Islam tersohor di Bangkalan, Syaichona Cholil. Kusempatkan berdo’a di tempat yang selalu ramainya tidak kalah dengan makam-makam Wali Songo di daratan Jawa.
Dari kawasan Mertajasah, Bangkalan rombongan langsung meluncur ke kecamatan Geger, ya benar ada sebuah bukit Geger di tempat ini. Suasana dingin sudah menyeruak saat masuk ke kawasan ini. Meski Madura terkenal sangat panas, tapi di kawasan Geger selalu terlihat hijau. pepohonan masih sangat rindang dan hijau terlihat.

Bukit yang ada makam Potre Koneng ini merupakan awal mula terjadinya Pulau Madura ratusan tahun lalu. Dulunya pulau Madura hanyalah sebuah karang yang sekarang menjadi bukit Geger.

Meninggalkan bukit Geger kembali ke arah barat menuju kecamatan Arosbaya. di sana ada Aer Mata, tempat Raja-Raja Bangkalan dimakamkan. Ukiran-ukiran bercorak timur tengah dengan campuran jawa terlihat begitu kental di setiap sisi utara makam-makam Raja yang berkuasa jauh ratusan tahun lalu.

Butuh waktu tiga jam dari Arosbaya untuk sampai ke Buju’ Panaongan kecamatan Pasongsongan, Sumenep melintasi dua kabupaten. Deburan ombak menjadi alunan musik penyambutan rombongan yang tiba di sana. sambil berisitirahat, aku dan beberapa anggota dhiba’an mendatangi di belakang kawasan pemakaman. Hamparan pasir putih kekuningan terhampar begitu saja, sorban yang kupakai berkibar-kibar kencang tertiup angin. Laut biru yang utara Madura begitu menyejukkan jiwa dan pikiran meski terik sangat menyengat kulit. Kamera yang kupegang tidak berhenti mengabadikan tempat indah yang jarang diketahui orang ini.

Pesona Buju’ Panaongan menghantarkan kami menuju kawasan pemakaman Raja-Raja Sumenep, Asta Tinggi. Siapa yang tidak kenal dengan kawasan yang sering aku lihat di liputan televisi swasta ini. ini bukan pertama kalinya aku ke Asta Tinggi, tetapi tetap saja menjadi sebuah magnet tersendiri tempat ini untuk dikunjungi.

Selesai di Asta Tinggi, perjalanan dilanjutkan menuju ujung timur Pulau Madura, tepatnya di pelabuan Kalianget, Sumenep. Kami harus menyeberang untuk sampai cepat ke daerah Telango. Di daerah ini bersemayam Sayyid Yusuf Bin Ali Bin Abdullah Alhasani. Kami seperti rombongan haji dengan busana muslim lengkap dengan kemeja putih dan songkoh putih. Namun karena kapal feri kecil yang biasa mengangkut penumpang dari Pelabuhan Kalianget ke Pelabuhan Telango sudah berangkat, kami memutuskan naik perahu. Ongkos PP (Pulang-Pergi) kalau naik kapal hanya Rp4000,- tapi kalau naik perahu Rp5000/orang.  Dengan perahu, kami lebih bisa menikmati  pemandangan indahnya sunset dari atas perahu dengan berpakaian busana muslim.

Aku merasakan sangat damai di Sumenep ini. Benar kata orang, Sumenep merupakan “Solonya Madura”. Kami mendarat di Telango saat kumandang adzan Maghrib. Sebelum berziarah ke makam Sayyid Yusuf, kami sholat Maghrib berjema’ah terlebih dahulu.

Selesai dari Sayyid Yusuf, kami kembali naik perahu untuk kembali ke bis yang diparkir di pelabuhan Kalianget. Ini kali pertama aku naik perahu kecil di malam hari, sedikit menyeramkan tapi juga sangat menyenangkan.

Dari Sumenep kami balik kanan menuju Pamekasan, tepatnya di Kecamatan Proppo. Kawasan yang juga pegunungan ini bernama Batu Ampar. Ramainya bis-bis besar berjejer di tempat parkir kawasan ini. Disini terdapat beberapa Buju’, mulai dari Buju’ kosambi sampai buju’ lathong. Aku juga pernah ke tempat ini beberapa tahun lalu juga saat KKN Pebruari lalu. Dari Kawasan Pamekasan kami langsung balik kanan pulang ke Kamal, Bangkalan. Sebelumnya kami menuntaskan wisata religi Madura ini dengan berziarah ke makam Sunan Cendana yang berada di Kwanyar. Sunan Cendana ini merupakan keturunan ke 25 dari Nabi Muhammad SAW, cucu dari Sunan Drajat yang menyebarkan Islam di Kecamatan Kwanyar, Bangkalan.

Berikut beberapa foto tentang Pesona Wisata Religi Madura

 

ALAM

6 thoughts on “Pesona Wisata Religi Madura

    1. dari suramadu ke syaichona cholil saja dulu, terus ke arosbaya, ke pasongsongan, terus ke sumenep, kemudian ke pamekasan ke batu ampar dan pulang.

  1. Ada lagi Min yang belum dijelasin di sini, Saya tambahin ya. hehe
    Namanya Air terjun durjan atau air terjun kokop. Memang nggak banyak yang tau soalnya lokasinya rada terpencil dan aksesnya cukup sulit, tapi suasananya kerren banget. Air terjun Durjan berada di Desa Durjan Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan Madura.

Berikan Komentar