ntust imsa welcome party

Masjid Al-Kabir sudah menjadi tempat favorit untuk menghabiskan waktu malamku. Jika di malam hari aku tidak ada di rumah, maka carilah di Masjid. Aku pasti berada di sana bersama teman-teman Remas yang lain. 

Selama di Taiwan, aku akan kehilangan semua kegiatan bersama Remas di Masjid. Sempat terlintas di pikiran, semoga ada dhibaan, muqodeman dan munaqiban di Taiwan.

Beberapa hari sebelum berangkat ke Taiwan, beberapa email berdatangan, mampir menghiasi folder inbox Gmail. Salah satunya adalah dari International Muslim Student Association (IMSA) on NTUST.

Bahkan IMSA sudah memberikan panduan makanan halal, aplikasi penyedia informasi lokasi makanan halal, hingga waktu sholat di Taipei, padahal orang yang membacanya, masih berada di atas ferry ingin menyeberang ke Surabaya. Tidak hanya itu, IMSA akan mengadakan acara khusus menyambut kedatangan mahasiswa muslim internasional yang belajar di NTUST.

Setiba di Taiwan, berbagai acara berdatangan. Setelah pengarahan dari International Office, IMSA menjadi acara kedua bagi mahasiswa baru Fall 104. Acara Welcome Party NTUST-IMSA, dikhususkan untuk mahasiswa baru yang Muslim.

Meski sebenarnya kurang nyaman dengan nama acaranya yang terkesan melakukan pesta, tetapi aku begitu semangat menyambut acara ini. Aku sudah sangat rindu kegiatan keagamaan. Aku ingin menjadikan kegiatan IMSA sama seperti ketika berada di Madura. Aku akan pakai sarung dan peci hitam. Salah satu tradisi muslim Madura yang begitu lekat. Anggap saja sedang menghadiri acara dhibaan setiap Kamis malam.

Melalui acara itu, aku ingin menduniakan budaya sarungan yang telah menjadi tradisi masyarakat muslim Nusantara. Bukan berarti berada di negeri orang lantas melupakan tradisi tanah kelahirannya.

Dengan sarung dan kemeja berwarna cokelat lengkap dengan peci hitam aku berangkat dari dormitory menuju auditorium. Sudah serasa pergi ke dhibaan saja. Aku melihat beberapa mahasiswa lokal sempat melirik. Namun seperti biasa mereka tidak suka mengurusi dan membicarakan orang lain. Aku terus melangkahkan kaki menuju ruang auditorium.

Beberapa peserta sempat memperhatikanku yang memakai peci hitam tinggi. Sebenarnya aku lebih mirip Klebun (kepala desa) daripada mahasiswa. Sekali lagi, aku mencoba cuek saja. Sepanjang mata melihat semuanya memakai celana dan hanya ada satu orang yang pakai peci. I don’t care!

Sebelum acara dimulai, aku menyibukkan diri dengan membuka Facebook. Aku sempat kaget, ketika fotoku sudah menjadi meme di grup IMSA. Ternyata ada peserta yang memotretku secara diam-diam. Bahasa kekiniannya: candid. Aku hanya senyum dan melihat ke arah Pak Nas, teman yang motret. Bukannya marah, aku justru senang di foto. “Foto yang banyak Pak Nas,” gumamku dalam hati.

Bagaimana isi acara pesta penyambutan ini?

Ada dua sesi yang paling aku suka. Pertama saat pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan yang kedua adalah saat sesi sharing kondisi masyarakat Islam di Taiwan.

Baru kali ini melihat pembacaan Al-Qur’an dibaca dalam tiga bahasa: Arab, Inggris dan Mandarin. Ngga ada bahasa Indonesia apalagi Madura. Ada tiga orang yang maju ke atas panggung, orang pertama yang berasal dari Indonesia membaca Al-Quran dengan bahasa Arab, orang kedua berasal dari Timur Tengah membaca maknanya dengan bahasa Inggris dan yang terakhir, warga lokal Taiwan yang membaca maknanya dengan bahasa Mandarin. Kombinasi yang menarik. Menunjukkan perkumpulan ini memang berisikan mahasiswa internasional.

Sesi yang aku suka di urutan kedua adalah saat sharing kondisi masyarakat Muslim in Taiwan. Kali ini ada tiga mahasiswa lokal Taiwan yang sharing bagaimana mereka tetap bangga beragama Islam meski berada dalam kelompok minoritas di tanah kelahirannya sendiri.

Satu orang mahasiswa dan dua mahasiswi berkerudung maju ke atas panggung. Wajah khas mereka sempat ngga percaya kalau mereka Muslim. Namun balutan kerudung yang dipakai kedua mahasiswi membuat kami percaya dan yakin, mereka adalah saudara sesama muslim.

Aku baru tersadar, bahwa aku harus bersyukur karena lahir dan hidup di lingkungan mayoritas Islam. Entah bagaimana rasanya jika aku seperti mereka. Rasa haru pun menyeruak di setiap dada mahasiswa yang hadir. Rasa persaudaraan sesama Muslim pun sangat bisa dirasakan. Jika biasanya persaudaraan itu hadir antar desa, sekarang aku merasakan bagaimana bisa menjadi saudara sesama Muslim internasional.

selfie wahyu alam ntust imsa

Kalau sudah begini, aku semakin merindukan remas Al-Kabir. Tempat aku menimba ilmu agama dan beraktivitas positif setiap hari tanpa harus merasa jadi minoritas


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

Berikan Komentar