Resensi Buku Rangperang Laok

Akhirnya setelah ada ide dan waktu yang tepat, akhirnya aku dengan teman sekelompok KKN bisa mempunyai sebuah buku yang diterbitkan dan bisa dibaca oleh orang se-antero Indonesia. Ya, meski tidak setebal novel, tetapi jujur aku sangat senang bisa menerbitkan buku yang ditulis oleh 13 mahasiswa ini.

Rangperang Laok, sebuah judul buku yang juga sebuah nama desa kecil di kecamatan Proppo, kabupaten Pamekasan. Meski banyak yang mengkritik judul buku karena tidak menjual *katanya* namun aku lebih suka judul buku ini Rangperang Loak sesuai isi dari buku yang ditulis karena berawal dari tugas kuliah ini. jadi begini ceritanya *sambil singsingkan lengan baru*. Saat menjalani masa KKN, aku dan ke-12 teman kelompok yang lain dibagi beberapa kelompok untuk menyelesaikan tanggung jawab dan tugas selama berada di desa Rangperang Laok. Membuat buku monografi desa adalah salah satu tugas wajib dalam menjalani 27 hari masa KKN di pedalaman kabupaten Pamekasan.

Pada awal-awal KKN, aku rajin posting blog tentang cerita selama menjalani hari demi hari di Rangperang Laok. Teman-teman melihatku ketika aku menulis. Kemudian disaat rapat, kami kebingungan. Kita ingin membuat sebuah kenang-kenangan untuk 13 anggota kelompok sehingga ketika kita melihat benda itu kita akan teringat kembali wajah-wajah ke-13 teman. Ide mulai kaos, vandel, sampai jaketpun sempat terlintas. Tetapi semuanya tidak ada yang cocok dihati. Kita ingin something different. “kita buat buku saja, itu adalah tulisan si kordes dan nanti ditambah tulisan dari kita” lontar Azizi memecah keheningan ketika berpikir. “Oke, jadi begini. Silahkan setiap orang membuat sebuah artikel tentang kisah paling menarik selama KKN, kemudian di setor ke aku. Nanti aku yang menyusun jadi sebuah buku.” Sambutku. “iya betul, jadi nanti kita bisa membaca kisah-kisah selama KKN ini ketika sudah dewasa dan bisa dibaca anak-anak cucu kita” jawab Opang dengan bijak. Akhirnya kita sepakat membuat buku.

Di perjalanannya membuat buku aku teringat nulisbuku.com, selain bisa di cetak untuk ke-13 orang anggota kelompok, buku ini juga bisa dijual. Barangkali ada orang yang tertarik untuk membacanya. Buku ini menceritakan tentang monografi desa dan bagaiman kisah ke-13 mahasiswa, berikut sinopsisnya:

Setiap universitas di negeri ini bertanggung jawab untuk pemberdayaan masyarakat yang berada di daerah sekitar kampusnya. Program pemberdayaan masyakarat ini bahkan dijadikan mata kuliah wajib bagi mahasiswa yang sudah menginjak semester akhir. Mata kuliah itu bernama Kuliah Kerja Nyata (KKN). Memasuki semester akhir ini, giliran untuk kami menjalani kuliah yang benar-benar nyata. Argumen tentang kehidupan dan pengalaman kakak kelas selama KKN cukup membuat bulu kudu merinding. Banyak yang menceritakan betapa susahnya hidup di pedalaman dengan segala kekurangan fasilitas yang ada di desa tempat KKN, semua keterbatasan itu disebutkan satu demi satu. Diantaranya adalah ketika kita harus mandi di tempat umum seperti sungai, keterbatasan sinyal jaringan ponsel, jarak tempuh yang jauh nan susah dijangkau dari kota, terpelosok ke sebuah desa terpencil, semua cerita itu bagai horor di siang hari.

Ketika diundi pada pembekalan KKN Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang ditempatkan di Kabupaten Pamekasan, kelompok 14 mendapatkan secarik kertas bertuliskan desa Rangperang Laok. Nama desa yang asing di telinga 13 mahasiswa anggota kelompok 14. Desa ini akan menjadi sebuah kanvas untuk sebuah lukisan kisah dan berbagai cerita selama 27 hari bagi ke-13 anggota kelompok 14.

Buku ini menceritakan kondisi monografi desa Rangperang Laok dengan disertai kisah 13 mahasiswa berbeda latarbelakang jurusan dan keahlian yang menetap selama 27 hari. Lebih dari memperjuangkan sebuah nilai mata kuliah. Sebuah kisah, pengalaman, pelajaran, kekompakan, kesetiaan, persaudaraan, canda, tawa, tangis beradu dengan intelektualitas seorang mahasiswa menjadi sebuah racikan bumbu yang siap disantap bersama makanan bernama masyarakat desa Rangperang Laok. Apa benar kondisi Rangperang Laok seperti desa pedalaman yang susah dijangkau? Bagaimana kisah 13 mahasiswa yang banyak dari kota menjalani masa KKN selama 27 hari? Apa benar perpisahan KKN selalu diakhiri dengan tangisan mahasiswa dan warga desa?

Semuanya tertuang dalam sebuah tulisan sederhana di buku ini!

Pesan buku ini!

ALAM

12 thoughts on “Resensi Buku Rangperang Laok

    1. selamat menunggu. *tak tahu sampai kapan* πŸ™‚ #yangSabar ya, Mas. πŸ™‚ *ini juga penulis pemula yang masih amatiran*

Berikan Komentar