Shogun ’94 Jalan-Jalan ke Sampang

view pantai Camplong

Minggu, 20 Maret 2011 menjadi sangat istimewa bagiku dan Nak-kanak Blogger Plat-M. Ini akan menjadi hari diadakannya Len-jelen Bareng Plat-M yang kedua, setelah yang pertama mengekplorasi keindahan Mercusuar Bergoyang Bangkalan.

Pagi itu terlihat lebih segar dari biasanya, karena semalaman hujan turun begitu deras dan paginya Matahari bergantian mengguyur bumi Madura dengan cahaya panas yang menambah keindahan pagi. Butir air hujan tampak belum jatuh dari dedaunan hijau di pinggir jalan. Wangi tanah yang masih lembut terkena aliran air hujan menambah suasana khas musim hujan di Madura.

Sesuai dengan janjian via sms, kita akan berkumpul di halte bus depan SMAN 1 Kamal. Setelah rampung, kita menarik gas motor masing-masing, ban motor mulai berputar dan akan mengantarkan kita ke Kota Sampang. Menurut mbak Erna yang asli Sampang, perjalanan ke sana akan memakan waktu 90 120 menit tergantung kecepatan motor berlari menuju kota di barat Bangkalan ini. Dengan menunggangi kuda besi tuaku bernama shogun 94 melucur bersama 6 motor lainnya berjejer di jalanan Bangkalan Sampang seperti semut yang berjalan di tembok.

Jalanan yang naik turun membuat motor tuaku harus bekerja keras untuk menaklukkan segala macam rintangan mulai dari tanjakan, jalan berlubang dan jalan yang meliku. Laju motorku yang lebih lambat dari motor-motor yang lain, membuatku tertinggal di belakang. Sampai ketika motorku sedang berusaha melewati jalan tanjakan aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam motorku. motorku sepertinya mulai tidak beres khawatirku ke Darul yang boncengan denganku. Belum semenit aku mengatakannya motorku langsung berteriak krreeeeekkk bersamaan dengan itu tiba-tiba mesinnya mati mendadak. Gawat, perjalanan ke Sampang baru seperempat kutempuh, tapi motorku sudahmengeluh kecapaian sepertinya. Aku pergi ke pinggir jalan, kemudian berusaha men-starter motor tuaku. Alhamdulillah..! motorku kembali hidup dan bersiap melanjutkan perjalanan.

Dengan rasa khawatir di dalam hati aku tarik gasnya pelan-pelan untuk perlahan menyusuri jalan-jalan yang beberapa berlubang, tapi pemandangan di pinggir jalan membuatku sedikit rileks dan berusaha menarik gas lebih dalam, motorku semakin kencang berlari dan akhirnya aku bisa berkumpul bersama rombongan lain yang sempat meninggalkanku di depan. Rasanya tempat duduk motorku seperti ada bara apinya, terasa panas ketika menduduki berlama-lama. Alun-alun Sampang menjadi tempat perisitirahatan kita sambil minum dan makan snack yang kita beli di mini market depan Alun-alun.

Puas istirahat kita melanjutkan perjalanan ke selatan kota Sampang menuju tujuan pertama kita yaitu Pantai Camplong. Meski orang Madura, ini adalah pertama kalinya aku pergi ke pantai yang hanya aku dengar ceritanya dari teman dan saudara *dasar Madura Swasta!*. untuk sampai ke Pantai Camplong, kita menyusuri jalan-jalan yang berada di pinggir laut, pemandangan Selat Madura dapat lihat di sepanjang jalan menuju pantai Camplong. Sebuah tanda arah panah membawa kita masuk ke kawasan Pantai Camplong. Di sini sudah dilengkapi dengan restoran, hotel dan parkir yang luas. Untuk masuk ke kawasan pantai kita harus membayar uang parkir dan uang masuk masing-masing Rp2000. Total kita harus merogoh kocek Rp4000 untuk masuk ke kawasan pantai ini.

Tawa canda Nak-kanak Blogger Plat-M

Semakin masuk ke pantai, seolah kita tidak sedang berada di Pantai, lebih mirip hutan kecil karena rindangnya pepohonan yang berada di sekitar pantai. Deburan ombak sedikit menyentil telinga kita seolah menyambut kedatangan rombongan Plat-M. tanpa disuruh kita langsung mengambil posisi untuk berpose di tempat pertama Len-jelen Bareng jilid 2 ini. Beberapa Nak-kanak yang dari Jawa menyanakan kenapa pantai ini bernama pantai Camplong kepadaku yang notabene aku orang Madura Asli. Tanpa referensi yang jelas, aku jawab mungkin karena disini banyak pohon Camplong, jadi pantai ini dinamanakan pantai Camplong. Sepiring rujak pantai mengakhiri perjalanan kita di Pantai ini. Setelah ini, kita akan melanjutkan perjalanan ke Gua Lebar. Meluncurlah kita ke Gua Lebar.

Motor shogun 94 harus aku tarik gasnya lebih dalam karena jalan akses menuju Gua Lebar menanjak. Aku merasakan sesuatu telah terjadi di ban belakang motorku ini. Untunglah sudah mau sampai di atas bukit Gua Lebar. Betul perkiraanku, ban belakang motorku bocor. Ya Tuhan, cobaan apalagi ini, setelah tadi sempat mogok, sekarang giliran ban belakang motorku yang ngambek. Tanpa menghiraukan ban motor yang bocor, sekarang saatku dan teman-teman mengeksplorasi Gua Lebar ini. Waw, dari atas bukit ini kita bisa melihat pemandangan kota sampang dari atas. Keren dan begitu cantik. Jurang-jurang besar menganga menyambut kedatangan kita. Seperti biasa, Darul, Joko dan aku berlagak seperti repoter gadungan di depan kamera Sony-nya slamet melaporkan kegiatan di Gua Lebar.

Di pintu gerbang Gua Lebar, sebuah patung Hulk berdiri gagah berwarna hijau dan hanya memakai celana biru seperti di filmnya. Hanya saja wajahnya lebih mirip orang Madura hehehe..patung ini menjadi objek yang menarik untuk dijadikan background dari foto kita. Blitz dari kamera Sony lagi-lagi dengan setia mengabadikan perjalanan kita di Gua Lebar.

Berpose di depan patung Hulk Madura

Capai foto-foto kita akhirnya bercengkrama dengan teman-teman yang lain di Gazebo yang dibangung secara cantik di atas bukit. Terik matahari membuat kita menunda niat turun ke bawah dengan bermalas-malasan di Gazebo. Obrolan sangat menarik ketika teman-teman dari Jawa bertukar pikiran dengan teman-teman dari Madura. Cerita lucunya membuat semuanya larut dalam gelak tawa. Sharing ini sangat bermanfaat untuk bertukar pikiran antara orang Madura dan Orang Jawa.

Keakraban di Gazebo ini menjadi bagian akhir dari perjalanan kita di Gua Lebar, aku harus turun lebih awal untuk menambal ban motorku yang bocor dan kempes. Teman-temanku menunggu di Masjid Agung.

Terima kasih, mas!, ucapku ke Mas yang telah menambal ban sambil memberikan tujuh lembar uang pecahan seribu sebagai pembayaran jasa yang ditawarkan. Shogun 94ku kini melanjutkan mengantarkanku ke Masjid Agung Sampang. Ini adalah kedua kalinya aku shalat di Masjid megah ini, kemegahannya membuatku tidak tahan untuk mengabadikan di kamera ponselku.

Arsitektur Masjid Agung Sampang

Perut teman-teman sudah keroncongan,sebelum balik kanan pulang, saatnya mencari makan khas Sampang untuk sekedar mengisi blog kita masing-masing nantinya. Nasi Kobel dipilih, karena selain harganya murah, nasi ini cukup populer selain bebek songkem. Sebenarnya tidak ada istimewanya dari hidangan yang satu ini, kalau di Bangkalan namanya nasi campur. Tapi makan bersama inilah yang membuat makanan ini istimewa. Kebersamaan ini tidak akan bisa bisa dibayar dengan apapun. Setelah melahap habis nasi Kobel, hari sudah menjelang sore, badan sudah terasa lemas dan lelah. Sekarang saatnya pulang dengan kenangan yang indah tertinggal di kota Sampang. Shogun ’94ku dengan senang hati mengantarku pulang ke Kamal.

Nasi Kobel khas Sampang
ALAM

9 thoughts on “Shogun ’94 Jalan-Jalan ke Sampang

  1. no comment… hahay…
    nice .. gakpopo daripada sepedae mas bom2,, bocoran tia 1kilo… 😀
    nice pic..

  2. no comment… hahay…
    nice .. gakpopo daripada sepedae mas bom2,, bocoran tiap 1kilo… 😀
    nice pic..

Berikan Komentar