Sesaat sholat Subuh, aku melihat ada mobil Carry putih mendekat dan parkir di belakang rumah. Benar saja, aku akan dihantar dua mobil Carry ke Bandara. Menurutku sebenarnya berlebihan, tapi beginilah orang Madura. Sangat menghargai sanak keluarganya. Sama halnya jika ada anggota keluarga yang menginap di rumah sakit, alhasil akan ada rombongan pikap yang berisi puluhan orang menyerbu ke rumah sakit. Bukan untuk tawuran, tetapi mereka ingin membesuk dan mengetahui kabar saudaranya yang dirawat di rumah sakit.

Jangan kaget jika melihat rombongan di Madura yang lebih sering menggunakan pikap atau bahkan truk. Tradisi yang sebegitu kuat, peraturan lalu lintas pun tak dihiraukan. Jangan tiru adegan ini di rumah anda!

Dua mobil Carry sudah berangkat saat jemaah sholat Subuh belum turun dari Masjid. Hari masih gelap saat aku berpamitan ke semua anggota yang tidak bisa mengantar ke bandara.

Dan iring-iringan dua mobil Carry pun mulai bergerak. Meninggalkan desa Kebun.

Di mobil carry hijau, ada Bapak sebagai ‘pilot’, di samping bapak ada aku sebagai ‘co-pilot’, dengan empat penumpang lainnya di belakang: ibu, adik, kakek dan nenek yang datang jauh-jauh dari Lamongan.

Dari tempat dudukku, aku melihat Carry putih dengan nomor kendaraan M 1847 GC melaju menyisiri jembatan Suramadu. Lampu-lampu di Suramadu masih menyala saat kami melintas. Kami berangkat pagi demi menghindari kejamnya kemacetan Surabaya di pagi hari.

Keputusan kami tepat, perjalanan kami ngga ada rintangan berarti. Tepat pada pukul 5.59, mobil kami berjalan melewati tol dengan latar Masjid Agung Al Akbar. Matahari mulai memijarkan cahaya jingga menyinari kota Surabaya yang terlihat berawan. Aku lihat dua bungkus rokok di dasbor mobil bapak: Dji Sam Soe dan Surya Gudang Garam. Di samping kananku, sebagai pilot Carry hijau sedang fokus meliuk-liuk menyalip truk dan tronton besar, masih dengan rokok Aroma di tangannya, ia mengenakan batik cokelat khas Madura.

Gantengnya meningkat saat memakai batik berlengan panjang. Merokok sambil nyetirnya jangan ditiru!

Karena tahu, penerbangan ke luar negeri berada di terminal 2 bandara internasional Juanda, mobil Carry putih sebagai petunjuk jalan berusaha mencari jalan pintas. Ia keluar dari tol dan lewat di pertigaan Medaeng kemudian lurus ke timur menuju ke arah terminal Purabaya. Aku bisa membaca pikiran sopir Carry putih di depanku, usai pertigaan Terminal Purabaya cukup belok kanan, maka sebentar lagi sudah pintu gerbang Sidoarja dan bandara Juanda pun di depan mata.

Sayang, rencana dan keputusan si sopir Carry putih, melewati jalur ini sepertinya kurang tepat. Jalur ini begitu padat di pagi hari. Kami harus berbaur menjadi satu dengan warga Surabaya yang berangkat kerja dan mengantarkan anaknya sekolah. Kemacetan pun tak bisa dihindari. Mobil yang awalnya melaju kencang, kini harus begitu pelan. Maju sebentar, berhenti sebentar. Terlihat sepeda motor dengan boncengan anak berseragam sekolah menghiasi pemandangan pagi. Daripada galau, aku selfie dulu!

Kemacetan membuat rencana sopir Carry putih gagal. Ia harus belok kiri dan memutar di Cito Mall sebelum akhirnya sampai di pintu gerbang bandara Juanda terminal 2.

Inilah kali pertama aku masuk ke terminal dua bandara internasional Juanda sebagai penumpang. Beberapa kali sempat mampir sekadar jalan-jalan saja.Tiba-tiba bandara internasional Juanda terminal 2 dipenuhi keluargaku. Mungkin aku memecah rekor hari itu: penumpang dengan pengantar terbanyak!

Kawan sekelas (dari kiri): Kemal, aku, Saide

Kawan sekelas (dari kiri): Kemal, aku, Saide

Setelah berpamitan, tanpa menceritakan adegan sedih-sedihan di bandara, aku masuk untuk check-in. Saat masuk, kami cukup menunjukkan tiket dan paspor kepada petugas dan melenggang ke konter check-in.

Personel sudah lengkap, lima orang mahasiswa bersiap memulai petualangan barunya. Kalau penerbangan internasional, ngga pakai ada acara bayar airport tax seperti penerbangan domestik beberapa tahun lalu.

Dan perjalanan ke Taipei via Singapura pun dimulai. ‘Macan udara’ akan membawa kami ke Singapura juga ke Taipe. Tiger Air dengan nomor penerbangan TR 2261 mulai bergerak pukul 10.29, terlambat 20 menit dari jadwal yang tertera di boarding pass.

Di atas pesawat, aku melihat jembatan Suramadu dari atas. Aku berusaha mencari mobil bapak yang belum sampai rumah, namun tak terlihat. Beberapa simbol bangkalan terlihat jelas dari atas: kampus UTM, kolam renang Jeddih, hingga Stadion Gelora Bangkalan.

See you next year, Madura! gumamku dalam hati, hingga akhirnya daratan benar-benar tak terlihat. Hanya gumpalan awan putih. Kalau sudah begitu, maka hal yang dapat dilakukan adalah: tidur!

Pukul dua siang lebih sedikit, kami akhirnya bisa menginjakkan kaki di negeri Singa ini. Bagi traveler, Singapura adalah pintu gerbang dunia. Nyaris semua penerbangan dunia transit di bandara Changi. Begitu pun denganku, perjalananku ke Taipei harus transit di Singapura. Tapi kali ini hanya sebentar, hanya 19 jam. Aku ulangi: 19 jam!

Apakah ngga ada penerbangan langsung Surabaya ke Taipei? Jawabannya ada! Harga lah yang menjadi pertimbangan kami. Selain itu, sebagai anak muda dari desa yang belum pernah ke luar negeri, menginjakkan kaki di dua negara lebih baik daripada hanya satu negara saja.

Setidaknya agar stempel di paspor bisa lebih banyak. Singapura, akhirnya aku datang!


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

1 Comment

Kopiah Putih · September 15, 2015 at 06:11

Saya merindukan semua tradisi itu, mas.. Tradisi yang jarang sekali saya temukan di tempat tinggal yang sekarang.
Eh, selamat menempuh hidup baru ya, hidup di lingkungan yang baru. Semoga sukses. 🙂

Salam hangat dari Bondowoso.

Berikan Komentar

%d bloggers like this: