Sutasoma dan Nawacita

coverpotret

Dengan kerja nyata, bangsa Indonesia bisa menjadi maju, menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri dan berbudaya ~ Presiden Jokowi

Mengatur lebih dari 258 juta orang tentu tak mudah. Belum ada pemerintahan di belahan bumi manapun yang dapat menyatukan visi lebih dari tiga belas ribu pulau terpisah. Tak ada pemerintahan yang mampu membungkus ratusan suku ke dalam satu kesatuan yang utuh. Semua itu hanya bisa dilakukan oleh pemerintahan Indonesia.

Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Lebih dari 600 tahun yang lalu, di masa Kerajaan Majapahit, Mpu Tantutar pernah menulis beberapa syair Jawa Kuno di Kakawin Sutasoma. Salah satu penggalan isinya menjadi simbol negeri ini hingga sekarang:

Bhinnêka tunggal ika, Berbeda-beda tetapi menjadi satu juga.

Semboyan ini menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Semboyan harus terus digaung-gaungkan menyeruak seantero nusantara hingga meresep ke semua insan rakyat Indonesia.

Enam abad setelah masa Kerajaan Majapahit, tepatnya pada 1 Juni 1945, Ir. Soekarno mensintesiskan Pancasila sebagai dasar falsafah negara yang sekarang menjadi ideologi negara. Kemudian sehari setelah merdeka, Pancasila sah menjadi dasar negara yang dimasukkan ke dalam piagam Jakarta. Inilah rencana besar yang digali dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Semboyan dan ideologi negara haruslah dapat mempersatukan keberagaman bangsa.

Pemerintah terus berpikir, bagaimana membuat konsep dasar perencanaan pembangunan nasional. Pascamerdeka, ada banyak ide dan konsep yang telah dijalankan pemerintah untuk membangun bangsa dan negara.

Pada era Orde Lama, masa pemerintahan presiden Soekarno antara tahun 1959-1967, pembangunan dicanangkan oleh MPR Sementara (MPRS) yang menetapkan sedikitnya tiga ketetapan yang menjadi dasar perencanaan nasional:

  • TAP MPRS No.I/MPRS/1960 tentang Manifesto Politik republik Indonesia sebagai Garis-Garis Besar Haluan Negara
  • TAP MPRS No.II/MPRS/1960 tentang Garis-Garis Besar Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana 1961-1969,
  • Ketetapan MPRS No.IV/MPRS/1963 tentang Pedoman-Pedoman Pelaksanaan Garis-Garis Besar Haluan Negara dan Haluan Pembangunan.

Di masa pemerintahan Soeharto, Indonesia memiliki rencana-rencana pembangunan beragam, mulai dari lima tahun (Depernas) dan kemudian memiliki pula Pembangunan Nasional Semesta Berencana Delapan-Tahun (Bappenas). Selain itu, Indonesia di masa itu juga punya Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) I, Repelita II, Repelita III, Repelita IV, Repelita V,dan Repelita VII (Bappenas).

Setiap Presiden sudah semestinya bekerja keras untuk memberikan pemikiran terbaiknya untuk negeri. Tak pernah pandang bulu, mereka harus menjalankan visi dan misi luhur sesuai karakter bangsa yang beragam. Namun tak cukup waktu rasanya bagiku jika harus menceritakan semua. Rasanya perlu berjilid-jilid buku untuk memotret pembangunan Indonesia sejak zaman penjajahan dulu.

Aku ingin fokus kepada Nawacita. Konsep besar yang diusung Presiden Jokowi menjadi sangat menarik untuk dipelajari.

Nawacita adalah konsep besar untuk memajukan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian. Untuk mengubah dan mewujudkannya, diperlukan kerja nyata tahap demi tahap, dimulai dengan pembangunan fondasi dan dilanjutkan dengan upaya percepatan di berbagai bidang.

Pada pemerintahan sekarang, visi Pemerintahan Jokowi-JK telah dirumuskan dalam Nawacita, yang memiliki tiga ciri utama: Negara Hadir, Membangun dari Pinggiran, dan Revolusi Mental.

Negara Hadir

Pemerintahan saat ini berkomitmen untuk selalu hadir dalam setiap proses pembangunan. Ini terlihat dari beberapa kisah yang menceritakan Presiden Jokowi sering meninjau proses pembangunan jalan tol di Sumatera.

“Jika Presidennya hadir lima kali, berarti Menterinya harus sepuluh kali, Gubernur seharusnya hadir duapuluh kali.” Kalimat yang sering dilontarkan Jokowi dalam visinya membuat negara hadir. Tak sekadar memasang batu pertama kemudian ditinggalkan, tetapi terus dipantau dan dipercepat segala prosesnya hingga proyek benar-benar selesai.

Negara harus hadir, turun ke lapangan, bukan melulu duduk di balik meja dan menerima laporan. Tetapi harus menyaksikan, merasakan dan mendengar langsung ke masyarakat.

Membangun dari Pinggiran

Ini konsep tak biasa namun berdampak luar biasa. Sekarang kita mulai sering mendengar progress proyek-proyek besar di luar Jawa. Bahkan Presiden Jokowi sudah meresmikan berbagai fasilitas publik di Sulawesi Utara dan beberapa wilayah Papua

16 Oktober yang lalu, Presiden meresmikan tiga bandara sekaligus di Sulawes: Bandara Miangas yang berlokasi di pulau yang berbatasan dengan negara tetangga Filipina, Bandar Udara Tanjung Api yang berada di Tojo Una Una, Sulawesi Tengah dan Bandar Udara Kasiguncu, Poso Sulawesi Tengah. Selain itu, Presiden juga telah meresmikan Bandara Dekai di Ibu Kota Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua.

Salah satu proyek besar lainnya dari pemerintahan saat ini adalah tol laut, yang merupakan konsep pengangkutan logistik kelautan yang dicetuskan oleh Presiden. Program ini bertujuan untuk menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar yang ada di nusantara. Selain bandara dan pelabuhan, ada banyak sekali proyek yang resmi dimulai, sedang dikerjakan, bahkan telah selesai.

Menurut pemerintahan Jokowi, pembangunan insfrastruktur yang komprehensif, menciptakan konektivitas nasional dan pertumbuhan ekonomi. Konsep menyatukan negeri seperti ini merupakan cita-cita leluhur sejak zaman Mpu Tantular di Kerajaan Majapahit.

Revolusi Mental

Ketika negara sudah hadir, infrastruktur telah dibangun. Hal utama yang harus juga diperhatikan adalah revolusi mental. Aku tergilitik dengan ucapan Jokowi saat meresmikan pembangkit tenaga listrik di salah satu daerah di Sulawesi.

Menurut Jokowi, kita punya penyakit kronis dari dulu. Mampu membuat tapi tak mau merawat. Mental seperti ini harus direvolusi. Kita mampu membangun apa saja, namun kita harus mampu untuk merawat dan menjaga fasiltias yang sudah dibangun dengan susah payah. Sehingga kegunaannya dapat bertahan lama.

Revolusi mental mula memberikan dampak. Beberapa koruptor tertangkap, praktik pungli dibredel, hingga pengedar narkoba tanpa ampun harus dihukum.

Selain tentang merawat fasilitas umum, revolusi mental juga diperlukan di ranah birokrasi. Ada banyak sekali cerita tentang terhambatnya pembangunan hanya karena birokrasi. Setidaknya dalam dua tahun Presiden Jokowi menjabat, 3.032 peraturan daerah yang dipangkas. Kita tak boleh terjerat aturan yang sebenarnya kita sendiri yang membuat

Maka konsep revolusi mental yang dipelopori oleh Presiden Jokowi patut diapresiasi. Menurut laporan dua tahun kinerja Pemerintahan Jokowi, proses perizinan sekarang lebih cepat hingga 600%!

Itulah tiga ciri utama visi Nawacita. Visi sakti pembangunan negeri di era Jokowi. Tak ada gading yang tak retak. Begitu juga dengan visi Nawacita yang selama dua tahun bisa dilihat melalui grafis resmi dari pemerintah di bawah ini:

nawacita-pembangunan-jokowi

http://kerjanyata.id.kilatstorage.com/img/infograpik_5indikator.jpg

http://kerjanyata.id.kilatstorage.com/img/infograpik_deregulasi_01.jpg

http://kerjanyata.id.kilatstorage.com/img/infograpik_deregulasi_02.jpg

http://kerjanyata.id.kilatstorage.com/img/infograpik_desa_3t.jpghttp://kerjanyata.id.kilatstorage.com/img/infograpik_infrastruktur_01.jpg

http://kerjanyata.id.kilatstorage.com/img/infograpik_infrastruktur_02.jpg

http://kerjanyata.id.kilatstorage.com/img/infograpik_poros_maritim_01.jpg

http://kerjanyata.id.kilatstorage.com/img/infograpik_sdm_01.jpg

http://kerjanyata.id.kilatstorage.com/img/infograpik_sdm_02.jpg

http://kerjanyata.id.kilatstorage.com/img/infograpik_sdm_03.jpg

http://kerjanyata.id.kilatstorage.com/img/infograpik_tax_amnesti.jpg

Negara harus terus hadir memantau visi ini dijalankan dengan baik hingga ke daerah-daerah. Sehingga kemanfaatannya dapat dirasakan oleh semua masyarakat di seluruh penjuru Indonesia.

Dan aku melihat jika kehadiran pemerintah saat ini telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pinggiran. Beberapa pembangunan infrastruktur dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Papua kini sedang dikebut. Berikut beberapa profil bandara dan pelabuhan baru Indonesia:

Merekam Pembangunan Udara Indonesia

Tak banyak orang tahu kalau Aceh sebenarnya memiliki sumber daya alam yang melimpah, termasuk minyak bumi dan gas alam. Sejumlah analis memperkirakan cadangan gas alam Aceh adalah yang terbesar di dunia. Aceh juga terkenal dengan hutannya yang terletak di sepanjang jajaran Bukit Barisan dari Kutacane di Aceh Tenggara sampai Ulu Masen di Aceh Jaya. Sebuah taman nasional bernama Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) didirikan di Aceh Tenggara. Potensi itu ngga akan pernah tersentuh jika tak ada transportasi menuju ujung barat Indonesia itu.

Menyeberang Selat Malaka, kita akan berjumpa dengan pulau nan kaya potensi luar biasa. Sempat diklaim oleh negara tetangga, Pemerintah fokus dan serius menggarap Natuna dengan dibangun akses udara dan laut. Selain letaknya yang strategis kawasan Pulau Natuna dan sekitarnya pada hakikatnya dikaruniai serangkaian potensi sumber daya alam yang belum dikelola secara memadai atau ada yang belum sama sekali, yaitu:

Sumber daya perikanan laut yang mencapai lebih dari 1 juta ton per tahun dengan total pemanfaatan hanya 36%, yang hanya sekitar 4,3% oleh Kabupaten Natuna.
Pertanian & perkebunan seperti ubi-ubian, kelapa, karet, sawit dan cengkeh.
Objek wisata: bahari (pantai, pulau selam), gunung, air terjun, gua dan budidaya.
Ladang gas D-Alpha yang terletak 225 km di sebelah utara Pulau Natuna (di ZEEI) dengan total cadangan 222 trillion cubic feet (TCT) dan gas hidrokarbon yang bisa didapat sebesar 46 TCT merupakan salah satu sumber terbesar di Asia.

Kalimantan memiliki hutan yang lebat. Namun, wilayah hutan itu semakin berkurang akibat maraknya aksi penebangan pohon. Karena kekayaan alamnya, wilayah Kalimantan Indonesia merupakan salah satu dari enam koridor ekonomi yang dicanangkan pemerintah Republik Indonesia dimana Kalimantan ditetapkan sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lumbung energi nasional di Indonesia. Ngga alasan untuk membangun bandara canggih di pulau terbesar republik ini. Bandara Sepinggan telah mengalahkan Bandara Soekarno Hatta dalam hal kemegahan. Bandara yang berada di Balikpapan ini disebut sebagai bandara paling megah di Indonesia.

Bali. Nama yang disebut-sebut oleh turis mancanegara sebagai surga dunia. Bahkan warga negara asing lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Untuk merepresentasikan bahwa Bali adalah bagian dari Indonesia, pemerintah serius memberikan pelayanan terbaik bagi tamu-tamu yang datang ke Bali. Salah satu upaya pemerintah adalah dengan mentransformasi Bandara Ngurah Rai menjadi bandara berkelas yang ngga kalah dengan bandara di negara lain. Sejak diresmikan 2013, Bandara Ngurah Rai menjadi Bandara mewah dan menjadi lima besar bandara dengan kecepatan internet paling cepat di dunia.

Jika bukan karena diresmikan oleh Presiden Jokowi, rasanya aku ngga bakal pernah tahu kalau ternyata ada nama-nama Bandara seperti di atas di Sulawesi. Kini Sulawesi tak hanya tentang Makassar, tetapi juga ada banyak destinasi penting di sana. Salah satunya adalah Wakatobi. Selain itu, pulau paling utara pun sekarang sudah punya Bandara. Seharusnya tak akan ada lagi cerita tentang kesulitan akses untuk pergi ke titik manapun di Sulawesi karena semua tempat penting sekarang sudah bisa diakses melalui jalur udara.

Aku sudah familiar dengan beberapa nama kota di Jayapura. Sebagian besar keluarga besar bapak tinggal dan menetap di Jayapura. Namun aku tak pernah mendengar jika di sana ada bandara selain Bandara Sentani.

Sorong dan Yahukimo baru saja mempunyai bandara baru. Aku yakin di beberapa titik di Papua pun sedang dibangun tempat turunnya pesawat. Wilayahnya yang sebagian besar adalah bukit, tebing dan hutan lebat. Tak mungkin jika harus ditempuh dengan jalan darat. Butuh waktu lama untuk membangun infrastruktur menghubungkan semuanya via darat. Benar, bandara menjadi solusi terbaik di bumi cendrawasih.

Merekam Pembangunan Laut Indonesia

Dalam pidatonya, Jokowi mengatakan fokus pemerintah saat ini adalah di air. Karena 2/3 wilayah Indonesia itu adalah air. Selain itu, menurut Jokowi Majapahit dan Sriwijaya dapat menguasai kawasan nusantara karena dapat menguasai air. Pemerintah sekarang pun punya fokus yang sangat tinggi terhadap pembangunan infrastruktur yang berhubungan air.

Pelabuhan menjadi simpul-simpul penting yang menghubungkan nusantara keseluruhan. Inilah yang dikenal dengan konsep tol laut. Tak sekadar wacana saja, pemerintah banyak memperbaharui pelabuhan-pelabuhan penting di semua pulau.

Nama-nama daerah di atas tak pernah sekalipun aku dengar melalui pelajaran geografi. Namun melalui video tersebut, kita bisa tahu jika ternyata ada wilayah bernama Bungkukota di Sulawesi Utara.

Kemudian aku membayangkan, Indonesia akan menjadi negara yang sangat sibuk. Tidak hanya di darat, tetapi juga di air dan di udara. Ketika simpul-simpul itu sudah saling terhubung, kapal-kapal besar bisa bersandar di pelabuhan manapun di Indonesia. Ngga bisa dibayangkan bagaimana peningkatan perekonomian neger ini.

Aku sengaja tidak membahas apa pembangunan di Jawa. Jika Pulau Jawa maju itu sudah biasa, tetapi jika pulau-pulau seperti Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimatan dan Sumatera bisa berkembang seperti Jawa itu baru luar biasa. Meskipun sebenarnya pemerintah banyak melakukan hal besar di Jawa. Seperti pembangunan MRT di Jakarta. Hal besar yang seharusnya sudah dipunyai Indonesia sejak lama. Belum lagi infrastruktur darat yang juga menjadi fokus pemerintah saat ini. Pembangunan LRT di Palembang, tol lintas Sumatera dari Lampung hingga Aceh, begitu juga dengan jalur kereta api di Sulawesi yang akan segera rampung, serta beberapa pembangunan darat di daerah-daerah yang lain.

Strategi Komunikasi dan Harapan untuk Pemerintah

Pemerintahan saat ini punya strategi komunikasi yang efektif untuk masyarakat. Salah satu strategi komunikasi pemerintah di era Presiden Jokowi adalah borderless. Beberapa dari pejabatnya menggunakan media sosial untuk berinteraksi dengan warga. Begitu pun dengan Jokowi yang sesekali mengupdate Twitternya sendiri. Kemudian, bentuk komunikasi yang unik ala Jokowi adalah mengundang berbagai kalangan untuk makan siang bersama Presiden di istana negara. Mulai dari tukang ojek, artis, komedian, hingga pegiat media sosial telah merasakan kebanggaan luar biasa bisa makan siang bersama kepala negara di istana.

http://setkab.go.id/wp-content/uploads/2015/09/Siangan.jpg
Presiden Jokowi makan siang dengan seratusan tukang ojek, sopir mikrolet, sopir taksi, dsb, di Istana Negara, Jakarta | Foto: Setkab.org

 

Presiden Joko Widodo berdialog dengan sejumlah komedian nasional dalam jamuan makan malam di Istana Negara, Jakarta, Rabu (16/12/2015). Presiden mengundang 17 komedian nasional untuk berbincang santai serta berdialog seputar industri kreatif bidang seni lawak dan seni panggung | Foto: TRIBUNNEWS/SETPRES/KRIS

Istana tak lagi hanya milik pejabat elit. Semua orang bisa masuk bahkan menyantap hidangan satu ruangan, satu meja dengan orang nomor satu negeri ini. Benar-benar tanpa jarak.

Memang, ada banyak cara berkomunikasi yang berubah di pemerintahan sekarang. Salah satu yang paling aku suka adalah bagaimana Jokowi ingin memberikan pesan kepada masyarakat bahwa pejabat tak harus selalu merepotkan atau bahkan mengganggu. Jokowi mewajibkan semua mobil dinas menterinya untuk tidak membunyikan sirine saat berkendara di tengah kemacetan.

Ada banyak cerita dari teman-teman di Twitter, jika sering menemui mobil dinas Menteri atau bahkan Presiden melebur dengan mobil-mobil warga di tengah kemacetan. Tak ada suara bising bunyi sirine seperti pejabat pada umumnya. Sederhana dan simpel. Itulah cara berkomunikasi pemerintahan saat ini.

Apakah kemudian sesempurna itukah? Tentu tidak!

Aku hanya berharap satu hal: menaikkan kecepatan. Pemerintahan saat ini harus mulai menaikkan kecepatan bekerja. Ibarat naik kendaraan, tahun pertama pemerintahan Jokowi adalah kecepatan gigi persneling berada di angka dua. Tahun kedua sudah berada di angka tiga. Sekarang saatnya berlari lebih cepat, mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain. Setidaknya kita mulai sedikit tertinggal dari Malaysia dan Vietnam.

Namun dengan kualitas sumber daya manusia Indonesia, pun dengan kecepatan penuh pembangunan negeri, hal yang tak mustahil kita bisa menyalip Singapura dan Thailand. Hal sulit lagi rasanya bisa kembali menjadi macan Asia yang berdiri sejajar dengan negara maju lainnya seperti Tiongkok dan Jepang.

Sebenarnya Indonesia tak tertinggal dari negara maju. Sejak zaman kerajaan Indonesia telah mempunyai mantra pembangunan. Mpu Tantular dengan Sutasomanya, enam abad setelahnya kita mengenal Presiden Jokowi dengan Nawacitanya. Sutasoma dan Nawacita berbeda ribuan tahun, namun keduanya sama. Mempunyai visi luhur untuk membangun negeri tercinta: INDONESIA!

ALAM

Berikan Komentar