#ALAMelihat

Alomampa 2: Skenario Keren di Desa Wisata Sema’an

makan bersama

Acara di batu cenning sudah selesai. Kami turun ke bawah. Katanya Pak Andi, masih ada tiga tempat lagi yang perlu kita datangi. Kami menuruni bukit yang juga diikuti oleh masyarakat yang lain. Tidak lama kami sudah sampai di sebuah rumah sederhana. Arsitekturnya klasik. Sentuhan Belandanya masih kentara.

***

makanan alami

Kami dipersilahkan duduk. Berbagai makanan seperti mengalir deras datang dari dalam rumah. Satu demi satu piring yang berisi berbagai makanan khas desa sudah berpindah ke depan. Perut kami terasa lebih lapar dari sebelumnya ketika memandangnya. Semakin memandang semakin membuat perut kosong. Ada nasi putih, nasi jagung, ikan laut, tahu tempe goreng, sambal terasi, cengi renges, sambal kacang, rujak timun, telur rebus bumbu, dan sayur kelor campur kelapa. Bingung untuk memilih menu makanan yang mana. (more…)

#ALAMelihat

Alomampa 1: Sembilan Blogger Disambut Ratusan Warga

Penyambutan untuk seorang pejabat yang akan datang itu hal wajar. Tetapi ketika kesembilan blogger yang disambut ratusan warga desa itu hal yang aneh. Masyarakat Desa Sema’an, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep seperti berlebihan menyambut kami. Mereka punya cara tersendiri untuk membuat pikiran kami melayang, jiwa kami terbang, dan mata ini berkaca-kaca melihat sambutan semua ini. Nyaris tak percaya tetapi ini nyata. Sebegitu tinggi penghargaan mereka terhadap setiap tamu yang datang.

***

Ini adalah tulisan pertama dalam serangkaian kegiatan Alomampa Sumenep bersama travel agent Alomampa Songennep 27-28 September 2014. Ada banyak tempat kami kunjungi di Sumenep. Ada Gili Labak, Musium, Keraton, Karapan Sapi dan Desa Wisata Sema’an.

Ratusan foto juga menghasilkan banyak cerita. Tulisan ini akan dimulai dari wisata Desa Sema’an.

Mobil elf yang kami tumpangi berjalan melambat, tabuhan terbang dan lantunan sholawat nabi perlahan terdengar dari balik jendela. Itu membuat kami terbangun dari tidur. Mungkin acara manten. Sekarang adalah bulan baik untuk acara pernikahan. Bis elf menepi di depan segerombolan orang yang melantunkan sholawat. Beberapa orang berpakaian batik dengan bawahan sarung dan berikatkan odheng khas Madura juga berkeliaran di depan mata.

sambutan saat pertama kali datang

Aku masih belum mengerti ada apa ini. Menurut rundown, kita hanya akan melihat sebuah batu yang bisa berbunyi, batu cenneng namanya. Saat aku dan teman-teman turun, seorang bapak rupawan bersarung dan berbaju merah lengkap ikat odheng tersenyum kepadaku. Ia bernama Pak Andi. Salah satu pegiat wisata di Desa Sema’an, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep. (more…)