Posts tagged FGD2012

#FGD2012 Day 2: “Diversity Information”

Acara sore hari kembali ke house of Eva, ini adalah acara inti dikumpulkannya blogger se-Indonesia. Focus Group Discussion (FGD). Tema diskusi masih tentang kebebasan berekspresi di internet. aku memilih kelompok 1 yang membahas tentang diversity information atau keberagaman informasi. ada 13 orang yang tergabung di kelompok 1 ini yaitu Viona sebagai moderator diskusi, Haqqi dari Malang, Bahtiar dari blogger bundaran hotel Indonesia (BHI), Zakki dari Akademi Berbagi Medan, Pradna dari Banyumas, Indah Juli dari Bekasi, Iman dari Depok, Ipul dari Makassar, Jessica dari Kanada Yossi dari Bogor, Sanjaya dari Jakarta dan aku dari Madura.
Beberapa dasar pemikiran:

  1. Oligopolo kepemilikan media yang rentan hanya melayani kepentingan golongan/kelompok tertentu/terbatas. ingat pemili 2014 segera tiba. untuk radiao/tv, padahal menggunakan frekuensi milik publik.
  2. Tidak cukup tersedianya pilihan informasi bagi publik, dapat dianggap sebagai bentuk pembodohan dan/atau penyensoran yang represif.
  3. Tersedianya channel/medium baru (blog, media sosial, dll) via internet bagi penggunanya untuk berbagi informasi secara online.

Di awal diskusi, kita masih bersepaham masalah definisi media mainstream, seperti apakah yang disebut media mainstream, apakah media yang besar? apakah media yang punya pengaruh bagi masyarakat? apakah media yang “digawangi” kepentingan masyarakat atau seperti apa?. awalnya beberapa blogger dalam kelompok 1 mendefinisikan media mainstream itu sebagai media yang ada di Jakarta, besar, punya pengaruh luar biasa, jangkauan luas, dsb. Kalau melihat definisi ini sebenarnya tidak akan berarti jika kita berada di daerah marginal. Jika misal kita berada di desa Mandala Mekar, Tasikmalaya maka media mainstream warganya adalah Primadonna FM.

Akhirnya kami memutuskan definisi mainstrem menurut kelompok 1 adalah pelaku industri media yang besar. Kami memulai diskusi dengan acuan pertanyaan/topik yang sudah diberikan Internet Sehat. Kami menjawab beberapa pertanyaan diskusi yang diberikan dengan contoh kasus langsung dari daerah masing-masing blogger berasal. Diskusi berjalan sangat menarik. serius tapi tetap santai dan cair. Dari diskusi ini bisa aku mengenal beberapa perkembangan kebebasan berekspresi dari Medan, Makassar, Malang, Bogor dan daerah yang lain. Dan hasil diskusi untuk keberagaman informasi (diversity information) adalah:

  1. Sejauh apakah media mainstream membentuk karakter pengomsumsian informasi di publik?
    • Penetrasi informasi media mainstream sudah sampai ke daerah marginal
    • Media mainstream mampu membangun stereotip baik positif atau negatif tergantung kepentingan.
    • Mampu menyeragamkan informasi dan cenderung memperkecil pilihan informasi.
  2. Apakah informasi pada media mainstrem sudah cukup beragam dan telah memberikan ruang yang cukup bagi publik dimanapun untuk berekspresi dan/atau menyuarakan kepentingannya?
    • Media mainstream belum beragam dalam menyediakan informasi dan kurang memberikan ruang yang cukup untuk publik berekspresi bahkan ada patikan berdasarkan kepentingan pemilik modal (semisal kalau di televisi masih bergantung pada rating dan media cetak seperti cetak masih bergantung kepada iklan) dan politik (kekuasan)
  3. Apakah media warga/alternatif di internet sudah cukup beragam dalam melayani kepentingan publik untuk berinformasi dan berekspresi?
    • Sudah mulai beragam, tapi masik belum cukup. Karena sampai saat ini hanya terpaku pada komunitas blogger saja.
  4. Apakah yang dapat/harus dilakukan aktivis informasi di Internet untuk berikan alternatif informasi dan kebebasan berekspresi dari-oleh-untuk publik?
    • Produktif dalam hal memperbanyak konten (positif) juga produktif pelaku (aktivis informasi) untuk memberikan alternatif informasi dan kebebasan berekspresi dari-oleh-untuk-publik.
    • Setelah produktif dalam membuat konten positif, perlu ditingkatkan dengan cara berkolaborasi dengan beberapa komunitas dan beberapa orang sehingga lebih beragam.
    • Produktif dan kolaborasi tidak akan berarti tanpa adanya berkesinambungan. perlu adanya kontinuitas dalam memberikan alternatif informasi dan kebebasan berekspresi dari-oleh-untuk-publik
  5. Tantangan apa yang dapat dihadapi oleh aktivis informasi di internet ketika perjuangkan hak publik atas keberagaman informasi?
    • Secara internal : motivasi akan profit akan sedikit menurunkan kualitas konten dan konsistensi.
    • Secara Eksternal: penguasa bisa melakukan pengekangan. Pun masyarakat yang masih belum “melek” IT
  6. Apa rekomendasi bagi pemerintah swasta dan civil society untuk hal ini?
    • Untuk kalangan produsen konten perlu adanya edukasi, bukan hanya teknik saja, tetapi juga bagaimana cara menulis yang baik.
    • Konsumen konten perlu mengetahui akan haknya untuk mendapatkan informasi yang beragam.
    • Di bidang hukum, harus ada penegakan hukun dan perombakan regulasi yang ada menjadi regulasi yang masuk akal dan lebih baik.
Daeng Ipul sedang mempresentasikan hasil diskusi kelompok 1

Setelah kami simpulkan, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusikan untuk bersama-sama diplenokan. Diskusi menjadi sangat menarik ketika masing-masing kelompok bertanya kepada kelompok yang sedang presentasi. Semakin hangat ketika menjelang tengah malam. Belum ada putusan tentang hasil dari empat kelompok yang sudah diskusi. Akan diinformasikan tentang hasil FGD2012 ini dikemudian hari.

#FGD2012 Day 2 : “Bebas Berekspresi Menggunakan Shuttle Bus”

Panggilan makan pagi atau yang lebih dikenal dengan sarapan membangunkanku dari tidur nyenyak di hari pertama di Jakarta. Ya ini hari Sabtu (7/7). Hari kedua FGD2012 yang juga hari dimana di Madura riuh dengan acara Blogilicious Madura. Semoga di Madura dan di Jakarta sama-sama lancar. Setelah sarapan mandi dan kemas-kemas “shuttle bus” termewah di Jakarta berwarna merah agak pekat dengan garis hitam dengan tulisan 75 di kaca depan sebagai tanda kalau ini adalah metro mini Pasar Minggu – Manggarai. Justru karena hal ini membuat blogger se-Nusantara lebih gampang dalam proses pengakraban diri. Metro mini menjadi media untuk melontarkan kalimat sakti yang membuat seisi metro mini berguncang. Daeng Ipul menjadi kernek bus metro mini menuju Jl. Duren Tiga Raya No.7 tepatnya di gedung  IDC (Internal Data Center) Jakarta 3D. IDC ini memfasilitasi konten-konten lokal seperti detik.com, kompas.com, dsb untuk mempermudah akses ke konten lokal di Indonesia. Beberapa informasi tentang IDC bisa di akses di http://www.idc.co.id

Unik. Mungkin kata itu saja yang bisa mewakili gedung IDC Jakarta 3D ini. mulai dari properti hingga desain gedung ini unik berbeda dengan gedung-gedung yang lain. Gedung pertemuan yang juga tempat menyimpan server-server besar nomor wahid di Indonesia. Saking kerennya, ada server yang harganya lebih dari 2 M!

Mas Donny BU mengawali hari kedua FGD2012 ini dengan sedikit introduction dan memanaskan otak kami yang seperti baru tersambung setelah meneguk kopi panas di pagi hari ini. Kemudian Mbak Hera Laksmi Dewi dari XL menjadi pemateri pertama yang memberikan materi. Beberapa hal yang menarik aku catat di buku catatan seperti ini:

  1. Hari ini, social media bisa menjadi social movement. Karena begitu cepat dan mudah akses saat ini.
  2. Operator dengan akun twitter yang banyak follower bukan berarti hebat, hal ini justru akan menjadi tempat nyaman komplain bagi pengguna operator tersebut.
  3. Media sosial dan mobile phone merupakan perpaduan yang sangat menarik

Intinya, mbak Hera ini mempresentasikan tentang hubungan mobile phone dalam hal ini sebagai operator (XL) dengan social media  yang lagi booming saat ini.

Kemudian dilanjutkan dengan materi yang menarik, mungkin ini kali pertama saya mengikuti sesi seminar seperti ini yaitu membahas tentang HIV/AIDS. Mbak Ayu Oktariani menjadi narasumber dengan berbagai informasi baru tentang HIV/AIDS dan bagaimana beliau beserta teman-temannya memperjuangkan hak-hak para penderita HIV/AIDS yang masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat Indonesia sekarang. Dahulu saat belum ada internet atau saat awal-awal ada internet, mencari informasi tentang HIV/AIDS sangat susah. Di internet-pun yang ada hanya beberapa nama latin yang tidak cukup dimengerti oleh para pencari informasi tentang HIV/AIDS ini. Quote yang saya catat adalah “kita tidak boleh membenci penderita HIV/AIDS, apalag kalau sampai mendeskriminasikannya”. Salah satu kasus menarik adalah ketika ada seorang anak penderita penyakit mematikan ini ingin melanjutkan sekolah, tapi karena diketahui menderita penyakit ini, pihak sekolah menolak!. Alasannya simpel karena takut menular ke teman-temannya. Hal ini karena guru-guru di sekolah itu tidak banyak mengetahui tentang bagaimana penularan penyakit HIV/AIDS.

Singkat cerita, masyarakat mendiskreditkan sekolah itu. Ini tentang deskriminasi yang aku ketik di atas. Meski sekolah menarik ucapannya dan mau menerima, tapi keluarga anak itu terlanjur terdeskriminasi dan akhirnya tidak memperbolehkan anaknya untuk sekolah. Sekarang siapa yang salah kalau begini? Okelah jangan saling menyalahkan! Terus bagaimana cara agar hal ini tidak terjadi lagi?. Indonesia AIDS Coalition (IAC) akan menjawab tantangan tersebut. IAC melalui mbak Ayu adalah tolong sebarkan informasi positif ini kepada semua orang, bahwa penderita HIV/AIDS itu berhak menjadi seperti orang normal. Mulai mendapatkan informasi sampai mendapatkan pendidikan.

Dandhy Laksono hadir menyambung Mbak Ayu. Tapi kali ini topiknya tentang kebebasan berekspresi dalam pers dengan slide materi yang berjudul Industrialisasi Media. Om Dandhy mengawali presentasinya dengan video. Menurutnya “biarkanlah kamera yang berbicara!”. Video itu menceritakan bagaimana dahulu kebebasan berekspresi itu sangat sulit. Bahkan ada yang dipenjara hanya gara-gara menerbitkan majalah tanpa izin dari Dinas Penerangan. *apah? Dinas Penerangan?*, nama Dinas Penerangan masih belum pernah aku denger sebelumnya. Dinas ini terakhir diterapkan sampai tahun 1992. *yah umur saya baru 2 tahun noh!*.

Sebagai Jurnalis, om Dandhy sangat hafal atas segala sejarah tentang kebebasan berekspresi di dunia Jurnalistrik di Indonesia jauh sebelum boomingnya blogger di Indonesia. Sampai saati ini-pun media mainstream masih sangat menguasai dalam mempengaruhi masyarakat. Pun dahulu kita tidak punya media untuk bebas berekspresi. Sangat sulit untuk menulis sebuah kebenaran. Munculnya media sosial merupakan sebuah “durian runtuh” bagi masyarakat. Karena media sosial di internet khususnya seperti FB, Twitter, Blog, dsb merupakan tempat yang sangat nyaman untuk mengungkapkan pendapat, ide ataupun keluhan, ujar Om Dandhy.

Salah satu bentuk “social movement” yang sangat fenomena adalah Jembatan “Indiana Jones” di Banten beberapa waktu yang lalu. Seperti dilansir Tempo.co berikut “Hasil jepretan wartawan foto Reuters Beawiharta yang mendokumentasikan rombongan anak sekolah melewati jembatan gantung “Indiana Jones” di desa Sanghiang Tanjung, Kabupaten Lebak, Banten, Kamis pekan lalu menuai respon luar biasa. Foto yang diunggah di akun twitter, blog, serta facebook oleh Bea mendapat respon mengejutkan. Ada lebih dari 1200 orang men-share foto itu. Bahkan kantor berita luar negeri seperti Daily News juga memuat foto itu.”

Akibatnya seluruh dunia heboh dengan jembatan yang diceritakan seperti film Indiana Jones, jembatan akan roboh kalau ada yang melintasi. Isu seperti ini, Om Dandhy mengatakan adalah sebuah “packaging” yang sempurna. Wartawan Reuters sangat cerdas untuk memberikan judul foto ini Indiana Jones, sebuah bahasa universal yang bisa diterima siapa saja di dunia. Karena isu itu begitu dahsyat di dunia maya, akhirnya jembatan itu diperbaiki oleh pemerintah. Nah, apakah harus seperti ini dulu baru bisa membuat pemerintah menoleh dan berbuat suatu perubahan? Mungkin saja!, mengutip kalimat penutup Mbak Shita Laksmi dalam sebuah presentasinya adalah “Kita (sebenarnya) bisa melakukan perubahasan tanpa bantuan siapapun!”

Selain Mbak Shita Laksmi juga hadir memberikan sharing kepada blogger yang hadir dari Google Lokmant Tsui yang sharing tentang kebebasan berekspresi di berbagai dunia juga untuk seluruh pengguna internet. Google sangat memerhatikan kebebasan berekspresi setiap pengguna internet, google akan menghapus dari index-nya artikel yang dibuat dengan acara repost atau duplicate post.

#FGD2012 Day 1: Mulai Korean IT Volunteer sampai Film Lini Massa

Kabut putih (tidak tahu asap atau bukan) menyelimuti langit Jakarta saat pesawat Citilink yang aku tumpangi akan mendarat dari Surabaya. Pemandangan Jakarta dari atas tidak terlihat oleh tebalnya awan putih ke abu-abuan.

Jum’at (6/7) aku mendarat di Jakarta untuk menghadiri FGD (Focus Group Discussion) jilid 2 yang diadakan ICTWatch. Tahun lalu aku juga diberi kesempatan hadir di acara yang dihadiri oleh perwakilan blogger pilihan dari Sabang sampai Merauke. Ada blogger Aceh, ada Blogger Sumut, Pekan Baru, Palembang, Jakarta, Bekasi, Bogor, Bandung, Banyumas, Solo, Jogja, Semarang, Malang, Surabaya, Ende, Ambon, Makassar, Pontianak, Banjar Baru, dan Papua.

FGD jilid dua disepakati menggunakan hashtag #FGD2012.

Di #FGD2012 ini aku kembali bertemu kawan-kawan “alumni” FGD2011 yaitu Tuteh dari Ende, Nike dari Palembang, Almascatie dari Ambon, Daeng Ipul dari Makassar, Dwi dari Pontianak, Bang Fiko dari Pekan Baru, Haqqi dari Malang, Mbak Rara dari Makassar, Suryaden dan Anasir dari Jogja, Asmari dari Semarang dan semua yang akan capai bacanya kalau disebutkan satu demi satu.

Jangan sampai lupa berterimakasih kepada Pakdhe Blontankpoer yang sudah merekomendasikan aku untuk menjadi salah satu perwakilan dari Jawa-Madura untuk menghadiri acara keren ini.

Sendirian berpetualang dengan hanya bekal print-out slide yang menunjukkan peta lokasi acara menjadi teman setia selama perjalanan dari Bandara. Setelah berjuang dari kemacetan Jakarta yang tersohor itu, perlu waktu dua jam setengah sebelum akhirnya aku sampai di house of Eva yang menjadi venue sekaligus tempat penginapan peserta selama #FGD2012 berlangsung.

Kesejukan rumah ini menjadi pelepas pengat selama di perjalanan. Setelah istirahat sebentar, sholat segala macam. Malam hari acara dimulai dengan perkenalan dari KIV (Korean IT Volunteers) yang datang ke Indonesia untuk memberikan edukasi kepada siswa/mahasiswa di Indonesia. Mereka itu ini RelawanTIK-nya Korea. Aku berkesempatan berkenalan dengan salah satu anggota dari KIV. Sampai akun Facebook-pun sudah didapat.

Pemutaran film Lini Massa 2 menjadi acara setelah perkenalan KIV ini. Inspirasi banyak hadir dari film ini. Salah satu tokoh utamanya adalah Almascatie, seorang blogger dari Ambon. Selain itu film ini juga menceritakan beberapa pergerakan masyarakat Indonesia dengan memanfaatkan dunia IT sebagai salah satu media untuk menyuarakan kebebasan hak yang seharusnya mereka miliki.

Seperti kisah dari Lombok, hanya dengan bermodalkan ponsel Nexian, warga Mandala Mekar di Tasikmalaya menginformasikan kepada dunia via Facebook tentang kondisi desanya yang kekurangan air karena pipa penyalur airnya bocor. Facebook menjadi sebuah lencana untuk memberikan kepada semua orang bahwa kondisi desa di Mandala Mekar ini tragis. Gara-gara Facebook ini lah yang mereka mendapat bantuan dari beberapa instansi, salah satunya adalah World Bank yang membantu untuk memperbaiki pipa sehingga warga desa Mandala Mekar tidak kekusahan air bersih.

Masih banyak cerita di Lini Massa 2 akan segera di launching oleh InternetSehat ini. Almascatie yang baru tiba di lokasi ditodong untuk maju ke depan untuk menceritakan bagaimana sebenarnya pembuatan film Lini Massa 2 di Ambon. Hal yang paling spesial juga adalah theme song  film ini dibuatkan langsung oleh Glen Fredly, yang juga aktivis perdamaian di Indonesia Timur.

Diskusi informal melanjutkan sesi Lini Massa 2 di house of Eva ini. Tawa canda disertai sesekali terdengar memecah keheningan malam.