Posts tagged KKN

Puasa di Rangperang Laok

Hari pertama di Pamekasan sudah selesai. Aku dan beberapa teman-teman Plat-M dari Bangkalan beristirahat dan sahur bersama di Rumahnya Farid di daerah Jl.Teja. Terasa sangat malas untuk sekadar mandi dan mengakhiri sesi di rumahnya Farid. Sampai Adzan Dhuzur menghentikan aktivitas kami dan teman-teman Plat-M dari Bangkalan pulang. Sedangkan aku masih ada agenda sehari lagi di Pamekasan. Terasa tidak lengkap rasanya jika tidak bermain ke Rangperang Laok. Desa tempatku KKN, Pebruari lalu.

Terik matahari yang menyengat saat aku diantar Farid menuju desa Rangperang Laok. Sekitar 10 KM dari Jl. Teja. Seperti tidak seperti berada di tempat asing. Aku benar-benar sangat menikmati. Aku memerhatikan beberapa perubahan di sekitar jalan menuju Rangperang Laok. Tidak ada yang berubah. Jalanan ini membawaku berhalusinasi kembali ke Pebruari saat masih melaksanakan KKN di desa Rangperang Laok.

Sepi. Mungkin kata ini sangat tepat untuk menggambarkan kondisi desa Rangperang Laok di siang hari. Ini adalah kedua kalinya aku kembali ke desa ini sekaligus pertamakalinya aku berkunjung ke desa ini dalam suasana bulan Ramadhan.

Di sepanjang perjalanan, aku melihat petani sudah mulai berganti ke tanaman tembakau di sawahnya. Aku sangat merindukan suasana seperti ini. merindukan kebersamaan yang lalu bisa kembali lagi. Kebersamaan 27 hari bersama teman-teman Kelompok 14 KKN UTM 2012.

Pak Klebun menyambutku dengan senyumnya, aku mencium tangannya layaknya orang tua sendiri. di langgar berbentuk panggung inilah aku menikmati masa-masa indah KKN. Tidak tahu kenapa begitu spesial desa ini di mata kelompok kami meski sebenarnya nothing special!

Hari menjelang sore, Andre dan Lora sudah datang. Dua temanku anggota kelompok 14 sengaja aku ajak untuk kembali bereuni sekaligus buka puasa bersama di Rangperang Laok. Andai saja tidak ada KKN, mungkin saja hal ini tidak terjadi. Meski tidak lengkap 13 mahasiswa, tetapi cukup mengobati kerinduan akan suasana kebersamaan di Rangperang Laok. Kebersamaan yang sempat terekam di buku sederhana.

Matahari mulai meredum dan kembali ke Peraduaannya. Detik-detik menjelang berbuka puasa sangat terasa. Selalu merasa istimewa saat sesuatu yang pertamakali terjadi. Aku, Lora dan Andre kembali ke dapur yang dulu sempat menjadi ajang praktek memasak selama 27 hari. Sebuah hidangan sederhana tersaji seolah sudah disiapkan. Zemil, Keponakan Klebun mengatakan dapur ini baru saja dibersihkan demi menyambut kedatangan kami bertiga. Memang terlihat beberapa peralatan dapur tersusun rapi di pojok ruangan.

Es campur, nasi, dan beberapa macam lauk menjadi menu sangat spesial saat berbuka puasa. Lora sepertinya sangat menikmati hingga menghabiskan tiga piring nasi. Ini adalah acara berbuka puasa yang berbeda dari biasanya. Mungkin ini adalah momen berbuka puasa paling nikmat kedua setelah bersama keluarga di desa. Rangperang Laok sudah seperti rumah keduaku. Tidak ada kecanggungan sama sekali. Yang terjadi justru kehangatan keluarga ini. mereka memang sangat senang kita bisa kembali untuk tetap menyambung tali silahturahmi.

Aku juga bercerita tentang nasib teman-teman satu kelompok. Andi dan Opank, si Rock N Roll dari Kampus sudah mendapatkan pekerjaan. Putri sedang magang di Bali. Beberapa masih sibuk menyelesaikan Skripsinya. Pak Klebun dan keluarga di sini sangat antusias mendengar ceritaku.

Setelah sholat taraweh bersama di atas langgar panggung ini, kami kembali menikmati malam dengan menonton film yang ada di laptop. The Warriors Way menjadi film yang sangat menyenangkan malam itu. suasana seperti ini mengingatkanku seperti saat masa-masa KKN. Karena suasana Ramadhan, dari penjuru mata angin terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari berbagai langgar di desa ini. desa ini memang terkenal sangat religius.

Hari sudah menjelang pagi, beberapa dari kami sudah tertidur. Belum beberapa lama, Syukur sudah membangunkan kami untuk bersantap sahur. Ini juga kali pertamanya aku sahur di desa ini. Meski dengan rasa kantuk, kami sangat menikmati menu sederhana sahur di pagi itu.

Tidak terasa sudah semalam kami berada di Rangperang Laok. Saat matahari beranjak tinggi, kami berpamitan untuk pulang. Karena memang masih beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan. Pak Klebun mengatakan sangat senang dan berharap tali silahturahmi tidak putus begitu saja. Semoga hal ini bisa tetap terjalin selamanya di Rangperang Laok.

Mimpi di Atas Langgar Sampai ke Auditorium UTM

Momen-momen berdiksusi, bermusyarah hingga membicarakan hal-hal yang tidak penting semuanya terjadi kala KKN Pebruari lalu di langgar klebun Rangperang Laok. Di atas langgar yang berbentuk panggung dan terbuat dari bambu itu kami satu kelompok membicarakan masa depan. Saat itu kami memerhatikan buku yang sudah di print pakai printer Epson untuk keperluan laporan ke kampus. Buku itu kami beri judul sesuai desa tempat kami KKN. Rangperang Laok. Saat itu kami masih berencana untuk mencetaknya dipercetakan NulisBuku.com.

Kami suka berkhayal dan bermimpi yang tidak jelas, kadang terlalu tinggi untuk dibayangkan. Kami bermimpi bisa launching buku itu difasilitas LPPM UTM (kampus kami). Membayangkan kami ber-13 bisa duduk seperti artis yang sedang launching film di depan gedung no.1 di kampus UTM itu. Kami bermimpi ber-13 bisa duduk di depan bercerita bagaimana KKN di Rangperang Laok sambil memakai kaos Rangperang Laok juga memberikan buku gratis Rangperang Laok kepada peserta yang hadir. Namun panggilan makan malam dari ibu Klebun membuyarkan mimpi kita saat itu. Kamipun harus makan malam dan segera membiarkan mimpi itu tersapu oleh angin malam yang bergelayut di langit Pamekasan.

Cover Buku Rangperang Laok

Namun sebuah sms di Jum’at malam hampir 5 bulan setelah KKN menguak kembali mimpi itu. SMS dari Pak Rum (LPPM UTM) meminta aku untuk memberikan testimoni saat pembekalan KKN di hari Sabtu, 7 Juli 2012. Sambil menghela nafas aku membaca ulang SMS itu. Seolah tidak percaya, senang, dan sedih berkecamuk di malam yang juga malam Nifsu Sya’ban. SMS itu langsung aku foward ke teman KKN-ku yang masih tersimpan dengan angka 14 di depan namanya (14 adalah nama kelompok kami saat KKN). Andre merupakan teman yang paling tanggap dan sangat bangga membaca sms itu. Semua teman-teman mendukungku untuk mengambil kesempatan ini dan memberikan testimoni. Sayangnya saya Jum’at sampai Senin harus ke Jakarta ada sebuah acara yang tidak kalah pentingnya. Aku meminta ada teman-teman KKN yang mau menggantikannya. Andre adalah salah seorang yang menawarkan diri untuk siap menggantikan posisi saya.

Keesokan harinya, Andre datang ke rumah untuk meminta foto-foto saat KKN juga meminta saran dari saya. Yah, sebisanya dan sepengetahuan saya, diberikanlah wejangan dari Pak Kordes kepada Andre yang mau presentasi besok. Mulai dari skenario presentasi, slide, foto yang akan ditampilkan, juga satu video paling menarik yang akan menghibur teman-teman adik kelas yang akan KKN.

Ketika di Jakarta saya dapat laporan dari Andre bahwa presentasi berjalan lancar dan sukses berat. LPPM sangat senang dan tidak menyangka buku kita sudah ada di nulisbuku.com, bahkan LPPM mengatakan kelompok kami (kelompok 14) ini seharusnya dapat nilai A++. Mereka juga mengklaim kita adalah kelompok terbaik. Padahal waktu KKN dulu kita menyatakan kita memang bukan kelompok terbaik yang dikunjungi Rektor UTM dan berhasil masuk Radar Madura, tapi kami hanyalah kelompok  yang KKN di sebuah desa kecil nan permai, tapi yang membedakan kami mempunyai keeratan yang luar biasa dan juga terekam dalam sebuah buku. itu saja.

Peserta yang mengikuti pembekalan KKN alias adik angkatan ini sangat senang dan bisa tersenyum melihat Andre presentasi, menurut Andre bahkan ada satu peserta yang duduk di depan matanya berkaca-kaca saat diputarkan video hari perpisahan kelompok 14.

Kami sangat bangga mimpi yang sepertinya khayalan belaka bisa terwujud di gedung utama UTM (saat ini) yaitu Auditorium.

I’m Going Home

Sabtu 12 Mei 2012 aku bangun pagi lebih semangat. Hari ini aku akan pergi ke Pamekasan. Sebenarnya tidak ada yang spesial bagiku di kabupaten ini, ada 3 agenda penting. Pertama aku akan silahturahmi ke desa tempat KKN. Kedua aku akan deklarasikan RT Plat-M Pamekasan dan ketiga aku akan meeting dengan Telkom Pamekasan perihal kerjasama Telkom Pamekasan dengan Plat-M. Namun yang sangat spesial adalah aku akan kembali ke desa Rangperang Laok, desa tempat KKN selama 27 hari tiga bulan yang lalu itu. kisah tentang KKN ini sudah aku abadikan dalam sebuah buku yang juga berjudul Rangperang Laok. Bayangan kenangan tiga bulan lalu bersama 12 teman satu kelompok kembali mengitari kepalaku. Terbayang jelas di pikiran. Begitu ramahnya Pak Klebun dan Bu Klebun, begitu perhatiannya Bu Nur dan Bu Man-aman. Kenangan mengajari anak-anak yang sangat semangat belajar ngaji di desa dengan empat dusun ini. Bis mini berangkat membawaku. Finally, I’m going home. Seperti lagu yang berdendang di headset ini.

Setelah tiga jam perjalanan dari Kamal, akhirnya aku sampai di kota Pamekasan. Tidak ada yang berubah dari kota ini. melihat tata kota seolah membawaku ke ruang waktu di masa lalu. Aku kembali ke masa KKN. Itu sangat terasa. Dijemput Mustain, kawan akrab saat KKN, aku di bawa ke rumah Pak Klebun. Di perjalanan menuju desa, terlihat beberapa ruas jalan sedang diperlebar. Karena memang jalan ini merupakan salah satu jalur utama dari Sampang ke Pamekasan. Hamparan sawah sudah ada beberapa yang menanam tembakau. Ya. kalau sudah musim kemarau seperti ini, warga Rangperang Laok dan sekitarnya menanam tembakau.

Posko yang berganti menjadi tempat belajar anak-anak PAUD

Begitu. Aku langsung duduk di langgar (musholla) yang biasa menjadi tempat nongkrong selama KKN dulu. Sengaja tidak memberitahu keluarga di Rangperang Laok kalau aku datang. Agar terkesan kejutan. Aku hanya memberitahu Syukur, keponakan Klebun. Syukur-pun sebenarnya menyuruh Mustain menjemput temannya yang ternyata adalah aku.

Keluargaku -ya keluarga. Aku sudah menganggapnya keluarga- menyambut ramah aku setibanya di sana. Beberapa hadiah yang aku siapkan dari rumah, aku serahkan. Meski tidak begitu berharga hanya berupa foto dan buku Rangperang Laok, tapi mereka menerimanya dengan sangat senang. Aku disapa Pak Klebun di langgar. Aku berikan hadiah dari kelompok 14 yang berupa buku Rangperang Laok. Setelah membuka satu demi satu, melihat foto-fotonya, Pak Klebun akhirnya membaca bagian akhir dari buku ini yang berjudul ‘Akhirnya air mataku jatuh’ (cerita ‘akhirnya air mataku jatuh’ lengkap ada di buku Rangperang Laok). Aku sangat sungkan melihatnya. Malu bercampur deg-degan. Betapa tidak, artikel ini menceritakan saat kesedihan sangat mendalam sehingga kami tidak bisa menahan air mata kami, tapi ah sudahlah!. Tidak ada yang berbeda di rumah ini selain rumah Pak Klebun yang direnovasi bagian depannya, terlihat beberapa tukang yang semangat mengerjakan proyek ini.

Salah satu yang aku suka dari Desa ini adalah karena kereligiusan warganya. Hampir di setiap langgar ada speaker TOA. Tidak hanya dibunyikan saat kumandang adzan bertanda masuknya waktu sholat. Tetapi juga digunakan saat membaca Al-quran. Setiap jam 17.00, 30 menit sebelum Maghrib beberapa menghidupkan speaker TOAnya dan membaca surah Yaasin. Akibatnya aku seolah dikelilingi ayat-ayat suci Al-quran. Dari utara ke selatan, barat ke timur semuanya mengaji dengan menggunakan speaker TOA. Ini seolah menjadi pluit panjang bagi teman-teman yang sedang bermain bola di lapangan. Sangat berbeda jika di desaku. Pluit panjangnya adalah kumandang Adzan.

Selesai sholat Maghrib, aku merasakan masih berada dalam masa KKN. Aku masih mendengar candaan teman-teman di posko. Tapi ketika aku lihat posko KKN tempat menginap kami selama 27 hari sudah beralih fungsi menjadi tempat belajar PAUD.

Bercengkrama penuh keakraban merupakan “proker” wajib kelompok 14 selama KKN. Tempat favoritnya adalah langgar. Dan warga Rangperang Laok masih sangat menghormati tamu. Benar. Mereka sangat menghormati orang baru yang hadir. Bukan hanya aku diberikan makan yang membuat seolah masa KKN itu kembali lagi, tapi juga kebiasaan mereka memakai bahasa Madura alus terhadap orang luar itu sedikit membuatku sungkan. Padahal mereka lebih tua dariku, tapi mereka tetap menggunakan bahasa “engghi-bunten”. Mau tidak mau ya aku harus berbahasa halus juga. Tidak semudah yang dibayangkan berbahasa Madura halus meski sudah terbiasa berbahasa Madura kasar.

Pagi sudah datang, bu Nur dengan baik hati menyuguhkan kopi kepada dan Lora yang juga menginap di langgar. Adanya Lora menambah kesan kembali ke masa lalu. Pagi itu kita sepakat untuk mandi di Sumber. Sudah beberapa hari tidak hujan, itu artinya air sumber bheli’ sompak akan jernih dan mengundang untuk kita menceburkan diri ke dalamnya.

Ketika jalan-jalan kembali ke Sumber Bheli’ Sompak

Dengan menggunakan ‘jet coster’ (cerita jet coster lengkap ada di buku Rangperang Laok) kita sudah sampai di sumber. Nostalgia itu kembali kentara. Suasana masih sama seperti saat KKN hanya terlihat agak gersang. Tanpa berpikir panjang, aku menceburkan diri ke dalamnya. Tentunya tidak telanjang bulat. Karena ada beberapa santri perempuan yang menggunakan sumber ini untuk aktivitas MCK mereka. Aku ingin menikmati momen ini sebelum kembali ke kesibukanku yang sebenarnya di kampus. Aku berbaring berbantal batu sumber, membiarkan air dari sumber yang jernih ini mengaliri seluruh tubuhku. Aku ingin menikmati relaksasi gratis ini. aku bermandikan air bercampur dengan sinar mentari pagi yang begitu sejuk. Aku ingin bercerita kepada air jernih yang mengalir ini bahwa aku merasa terlalu banyak tugas yang harus aku selesaikan dengan tepat waktu bukan “pada waktu yang tepat”. Relaksasi seperti ini cukup memberiku ketenangan batin, pikiran kembali fresh dan lebih bersemangat menjalani aktivitas dan tugas-tugas berikutnya. Aku kembali bersemangat. Terimakasih sumber bheli’ sompak telah memberiku relaksasi gratis dari alam.

Setelah 2 hari dan diperpanjang 3 hari, beberapa agenda sudah dilakukan akhirnya aku pamit pulang. Tidak ada ‘air mata yang jatuh’ (cerita ‘akhirnya air mataku jatuh’ lengkap ada di buku Rangperang Laok) seperti masa KKN dulu. Aku pulang dengan riang dan membawa pikiran fresh dan siap melanjutkan aktivitas sebenarnya di Bangkalan.

 

 

Resensi Buku Rangperang Laok

Akhirnya setelah ada ide dan waktu yang tepat, akhirnya aku dengan teman sekelompok KKN bisa mempunyai sebuah buku yang diterbitkan dan bisa dibaca oleh orang se-antero Indonesia. Ya, meski tidak setebal novel, tetapi jujur aku sangat senang bisa menerbitkan buku yang ditulis oleh 13 mahasiswa ini.

Rangperang Laok, sebuah judul buku yang juga sebuah nama desa kecil di kecamatan Proppo, kabupaten Pamekasan. Meski banyak yang mengkritik judul buku karena tidak menjual *katanya* namun aku lebih suka judul buku ini Rangperang Loak sesuai isi dari buku yang ditulis karena berawal dari tugas kuliah ini. jadi begini ceritanya *sambil singsingkan lengan baru*. Saat menjalani masa KKN, aku dan ke-12 teman kelompok yang lain dibagi beberapa kelompok untuk menyelesaikan tanggung jawab dan tugas selama berada di desa Rangperang Laok. Membuat buku monografi desa adalah salah satu tugas wajib dalam menjalani 27 hari masa KKN di pedalaman kabupaten Pamekasan.

Pada awal-awal KKN, aku rajin posting blog tentang cerita selama menjalani hari demi hari di Rangperang Laok. Teman-teman melihatku ketika aku menulis. Kemudian disaat rapat, kami kebingungan. Kita ingin membuat sebuah kenang-kenangan untuk 13 anggota kelompok sehingga ketika kita melihat benda itu kita akan teringat kembali wajah-wajah ke-13 teman. Ide mulai kaos, vandel, sampai jaketpun sempat terlintas. Tetapi semuanya tidak ada yang cocok dihati. Kita ingin something different. “kita buat buku saja, itu adalah tulisan si kordes dan nanti ditambah tulisan dari kita” lontar Azizi memecah keheningan ketika berpikir. “Oke, jadi begini. Silahkan setiap orang membuat sebuah artikel tentang kisah paling menarik selama KKN, kemudian di setor ke aku. Nanti aku yang menyusun jadi sebuah buku.” Sambutku. “iya betul, jadi nanti kita bisa membaca kisah-kisah selama KKN ini ketika sudah dewasa dan bisa dibaca anak-anak cucu kita” jawab Opang dengan bijak. Akhirnya kita sepakat membuat buku.

Di perjalanannya membuat buku aku teringat nulisbuku.com, selain bisa di cetak untuk ke-13 orang anggota kelompok, buku ini juga bisa dijual. Barangkali ada orang yang tertarik untuk membacanya. Buku ini menceritakan tentang monografi desa dan bagaiman kisah ke-13 mahasiswa, berikut sinopsisnya:

Setiap universitas di negeri ini bertanggung jawab untuk pemberdayaan masyarakat yang berada di daerah sekitar kampusnya. Program pemberdayaan masyakarat ini bahkan dijadikan mata kuliah wajib bagi mahasiswa yang sudah menginjak semester akhir. Mata kuliah itu bernama Kuliah Kerja Nyata (KKN). Memasuki semester akhir ini, giliran untuk kami menjalani kuliah yang benar-benar nyata. Argumen tentang kehidupan dan pengalaman kakak kelas selama KKN cukup membuat bulu kudu merinding. Banyak yang menceritakan betapa susahnya hidup di pedalaman dengan segala kekurangan fasilitas yang ada di desa tempat KKN, semua keterbatasan itu disebutkan satu demi satu. Diantaranya adalah ketika kita harus mandi di tempat umum seperti sungai, keterbatasan sinyal jaringan ponsel, jarak tempuh yang jauh nan susah dijangkau dari kota, terpelosok ke sebuah desa terpencil, semua cerita itu bagai horor di siang hari.

Ketika diundi pada pembekalan KKN Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang ditempatkan di Kabupaten Pamekasan, kelompok 14 mendapatkan secarik kertas bertuliskan desa Rangperang Laok. Nama desa yang asing di telinga 13 mahasiswa anggota kelompok 14. Desa ini akan menjadi sebuah kanvas untuk sebuah lukisan kisah dan berbagai cerita selama 27 hari bagi ke-13 anggota kelompok 14.

Buku ini menceritakan kondisi monografi desa Rangperang Laok dengan disertai kisah 13 mahasiswa berbeda latarbelakang jurusan dan keahlian yang menetap selama 27 hari. Lebih dari memperjuangkan sebuah nilai mata kuliah. Sebuah kisah, pengalaman, pelajaran, kekompakan, kesetiaan, persaudaraan, canda, tawa, tangis beradu dengan intelektualitas seorang mahasiswa menjadi sebuah racikan bumbu yang siap disantap bersama makanan bernama masyarakat desa Rangperang Laok. Apa benar kondisi Rangperang Laok seperti desa pedalaman yang susah dijangkau? Bagaimana kisah 13 mahasiswa yang banyak dari kota menjalani masa KKN selama 27 hari? Apa benar perpisahan KKN selalu diakhiri dengan tangisan mahasiswa dan warga desa?

Semuanya tertuang dalam sebuah tulisan sederhana di buku ini!

Pesan buku ini!