Posts tagged Komunitas

1 Pulau, 4 Kabupaten, 5 Workshop | Bag. 2

 

Melanjutkan tulisan yang pertama, berikut aku ceritakan kisah menarik di balik Bisnis Madura Go Online (BMGO).

Perdana, butuh Wi-Fi Dadakan!

Di Sampang, secara garis besar BMGO berjalan dengan normal. Meski ada beberapa kejadian yang membuat supervisor Sampang keluar keringat dingin. Hujan di pagi hari membuat mas Gunawan was-was peserta tidak ada yang hadir. Apalagi hujan cukup deras. Parahnya lagi, venue harus dipindah ke dalam ruangan karena tempat yang diset sebagai tempat BMGO edisi perdana basah terkena hujan. Alhasil, kami memindah barang-barang peralatan tempur BMGO seperti sound system, kursi, LCD Projector dsb.

Cukup sulit mencari tempat berkumpul yang luas dan berinternet cepat di Sampang. Menara Fried Chicken menjadi tempat yang terbaik untuk Continue reading 1 Pulau, 4 Kabupaten, 5 Workshop | Bag. 2

#JavaTrip @ Solo: Hujan dan Kemesraan Blogger

Hujan deras dengan setia menemani perjalanku dari Semarang ke Solo. Suasana berubah dingin, semakin dingin dengan pendingin ruangan AC bis patas yang aku tumpangi, lebih celaka karena aku tidak membawa jaket, karena di Madura panas –asumsi ndablek-.

Dan benar saja, hujan begitu rata. Mulai dari kawasan Semarang atas, Salatiga, sampai ke Solo air seolah tidak mau berhenti menyirami bumi. Roda bis berhenti perlahan saat aku turun di perempatan Manahan. Sebuah patung arjuna sedang memanah terhidang megah di depan mata. Suasana mesra berdayung bersamaan dengan rintik-rintik hujan sisa sore hari. Ini adalah keempat kalinya aku ke Solo. Kota ini tidak memberikan rasa bosan dibenakku. Kehangatan masyarakatnya, budaya serta makanannya membuatku nyaman berada di kota ini. semakin nyaman saat ada kawan blogger Bengawan yang selalu rela memberikan tumpangan kepada blogger dari manapun. Sampai-sampai markas mereka begitu fenomenal dengan nama rumah blogger Indonesia (RBI).

 

Ibarat sudah berpasangan, RBI tidak mungkin lepas dengan yang namanya Blontea. Teh racikan pakdhe Blontankpoer ini menjadi perpaduan luar biasa saat berada di RBI. Di luar hujan, suasana dingin menusuk lewat pori-pori. Hanyatnya Blontea sepertinya sangat pas untuk dinikmati malam ini. Jangan lupa buka foursquare dulu untuk melakukan check ini.

Tidak ada aktivitas malam pertama di Solo, aku hanya duduk di depan laptop yang terkoneksi dengan internet RBI ditemani secangkir teh Blontea dan sayup-sayup pageran musik di luar RBI menambah hangat suasana. Malam itu RBI ada gawe kecil. Ada konser musik mini yang dimainkan oleh sebagian besar difabel kota Solo.

Tidak disangka, ternyata aku adalah peserta pertama yang datang di acara ini. rencana akan ada 8 kota tersisa yang akan berkumpul di Solo selain Madura yaitu Makassar, Ambon, Pekan Baru, Banyumas, Malang, Ponogoro dan Wonosobo (berhalangan hadir).

Hari kedua, siang hari, mas Pradna menyusul. Kemudian disusul blogger Makassar, Daeng iPulG_ dan kawan dari Pekan Baru. Kemudian tidak lama kami meluncur makan siang di Bebek Goreng H. Slamet. Konon katanya ini adalah bebek paling terkenal di Solo. Sudah punya cabang di beberapa kota. Mungkin setara Bebek Sinjay kalau di Madura. Memang benar, rumah makan yang terkenal itu pasti ada foto-foto orang terkenal yang pernah makan di tempatnya. Di rumah makan ini terlihat beberapa artis sudah pernah ke sini mulai Pak Bondan, Daniel Mananta, Cak Nun, sampai Walikota Solo (saat itu) Jokowi. Foto Pak Jokowi ada dua dengan pakaian yang berbeda. Berarti setidaknya sudah dua kali pak Jokowi (yang diabadikan) makan di tempat Bebek Goreng H. Slamet ini.

Bis rombongan kemudian mengantarka ke Bandari Adi Sucipto untuk menjemput kawan blogger Ambon, Almascatie. Salah satu “bintang film” dokumenter #linimassa2 . Sungguh sangat menyenangkan bisa bertemu teman-teman blogger se-Indonesia di Solo.

Mobil bergerak mengantarkan kita ke hotel. Favehotel namanya. Simpel dan elegan hotelnya. Tidak beberapa istirahat di empuknya ranjang hotel, tiba-tiba hujan teras menghujam telak di bumi Solo. Oke, berarti saatnya kita tidur *eitts, tahan! Karena jam 15.30 harus bekumpul ke RBI lagi*. Meeting sampai pukul 20.00, aku ngga perlu ceritakan isi meetingnya apa. Kemudian #JavaTrip edisi Solo berlanjut ke Auditorium RRI Surakata. Keep Roowwwkkinggg ON! Ada progressive and art rock concert! Tata lampunya keren. Meski dari 15 lagu yang dimainkan lebih dari empat band, aku hanya mengerti dan pernah mendengar satu lagu saja. Tetapi hal ini tidak membuatkan ngga enjoy! Aku sangat menikmati konser rock ini.

Sebelum istirahat di hotel, kami bermesraan, apalagi malam minggu, blogger 9 kota makan malam lagi di warung Soto Daging. Tapi sayang, ngga bisa langsung kembali ke hotel, sebuah trategi ban bocor menghentikan euforia kita. Trategi ini membuat kami semakin mesra di malam minggu, mesra tidak harus ada ceweknya, karena blogger 9 kota semuanya adalah cowok!

Pagi sampai sore kami ngendon di RBI membantu pelatihan internet yang sedang berlangsung. Sore hari agenda kita adalah jalan-jalan ke kota Solo. Lagi-lagi cuaca menyuruh kita bermesraan lagi di RBI. Hujan seperti genderang untuk kita tidur. Tergeletak begitu saja. Sebelum kembali ke hotel, diadakan meeting penutup. Lagi-lagi ngga perlu aku ceritakan apa isi meetingnya, yang jelas kita akan berbuat “sesuatu” untuk Indonesia, halah!

Saat kembali ke hotel, suasana rintik-rintik masih membasahi kaca mobil kami. Sumber Bestik Pak Darmo menjadi makan malam terakhir aku dan teman-teman blogger yang lain. Karena malam itu juga aku pulang kembali ke Madura. Suasana makan semakin romantis saja saat alunan musik Keroncong dialunkan oleh pengamen yang mangkal di pintu rumah makan ini. Pusat oleh-oleh juga sempat kita datangi sebelum ke hotel, packing dan pulang ke Madura.

Terimakasih undangan dan jamuannya blogger @bengawan pakdhe @blontankpoer kawan @hasssan dan @mashendri. Juga kawan-kawan dari daerah lain @almascatie @pradna @maulidi @iPulG_ @PekanBaruCo #Fuad @jidat @dafhy dan semua kawan-kawan di RBI. Matorsakalangkong! Aku pamit!

Di Suatu Petang di Pamekasan

Pada saat bepergian, saat yang paling aku senang adalah saat berada di atas kendaraan melihat ke kanan dan ke kiri. Melihat sesuatu yang ngga bisa aku lihat jika aku hanya di depan laptop di kantor atau hanya baca buku di kamar.

Jum’at pagi aku berangkat dengan penuh semangat ke Pamekasan. Ada beberapa acara di sana. Pertama acara Ngabuburit bersama Plat-M | Nak-kanak Blogger Madura di Balai Rejo, juga Buka Puasa bersama keluarga baru di desa Rangperang Laok. Menyusuri setiap jengkal jalan menuju Pamekasan disajikan beberapa kehidupan masyarakat Madura asli juga pemandangan alam Madura yang begitu permai membuatku sangat menikmati perjalanan siang itu. Aktivitas masyarakat di pasar, sawah atau ladang mereka memberikan inspirasi tersendiri bagiku.

Sekitar 3,5 jam aku sampai Pamekasan dan dijemput teman-teman Plat-M RT Pamekasan. Mereka sangat ramah dan siap mengantarkanku transit untuk istirahat sebelum menjalani beberapa agenda di Pamekasan.

Agenda pertama adalah meeting dengan Kepala Kantor Telkom Pamekasan. Membahas kerjasama antara Plat-M dan Telkom Pamekasan. Acara meeting yang begitu santai berlalu dan mengharuskanku melihat kesiapan acara Ngabuburit Plat-M.

Ngabuburit ini adalah acara pertama Plat-M diluar Bangkalan. Aku tidak segan membantu mereka menyiapkan acara, mulai dari angkat-angkat meja sampai mempersiapkan tata letak dekorasi venue.

Di acara ini aku share tentang perkembangan Internet, sampai bagaimana berinternet sehat. Acara berjalan sangat santai dan cair. Sesekali senyum dan tepuk tangan menyeruak di ruang pertemuan Balai Rejo ini. Aku begitu tercengang saat menyaksikan bocah kecil umur 7 tahun bernama Arya sharing tentang pengalamannya mendaki 14 gunung sekaligus. (cerita lengkapnya ada di postingan blog Plat-M)

Aku juga sangat senang Kepala Telkom Pamekasan Bapak Delta juga ikutan dalam acara ini. Tidak lupa Telkom Pamekasan juga memberikan doorprize menarik kepada peserta yang hadir saat itu. Hidangan sederhana membawa kebersamaan sebuah petang di Pamekasan. Tidak sengaja juga kami bertemu dengan Anggota DPR RI Dapil Madura yang juga Manajer Persepam Madura United. Tidaklupa kami meminta untuk berfoto bersamanya.

***

Setelah Sholat Maghrib, kami semua anggota Plat-M dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan (hanya dari Sumenep yang absen) berkumpul di timur Monumen Arek Lancor untuk hanya kopdar sambil menikmati beberapa tusuk pentol. Suasana Ramadhan memberikan warna tersendiri di kota yang sangat religi ini. beberapa mercon dan kembang api menjadi latar perbincangan kami saat itu. Suasana persaudaraan, persahabatan, dan kekeluargaan begitu kental terasa. Semoga bisa selalu bersatu dan solid sampai kapanpun!

Sesi foto bersama berlatar belakang Arek Lancor menjadi akhir acara Ngabuburit sekaligus buka puasa bersama di Pamekasan.

 

#FGD2012 Day 2 : “Bebas Berekspresi Menggunakan Shuttle Bus”

Panggilan makan pagi atau yang lebih dikenal dengan sarapan membangunkanku dari tidur nyenyak di hari pertama di Jakarta. Ya ini hari Sabtu (7/7). Hari kedua FGD2012 yang juga hari dimana di Madura riuh dengan acara Blogilicious Madura. Semoga di Madura dan di Jakarta sama-sama lancar. Setelah sarapan mandi dan kemas-kemas “shuttle bus” termewah di Jakarta berwarna merah agak pekat dengan garis hitam dengan tulisan 75 di kaca depan sebagai tanda kalau ini adalah metro mini Pasar Minggu – Manggarai. Justru karena hal ini membuat blogger se-Nusantara lebih gampang dalam proses pengakraban diri. Metro mini menjadi media untuk melontarkan kalimat sakti yang membuat seisi metro mini berguncang. Daeng Ipul menjadi kernek bus metro mini menuju Jl. Duren Tiga Raya No.7 tepatnya di gedung  IDC (Internal Data Center) Jakarta 3D. IDC ini memfasilitasi konten-konten lokal seperti detik.com, kompas.com, dsb untuk mempermudah akses ke konten lokal di Indonesia. Beberapa informasi tentang IDC bisa di akses di http://www.idc.co.id

Unik. Mungkin kata itu saja yang bisa mewakili gedung IDC Jakarta 3D ini. mulai dari properti hingga desain gedung ini unik berbeda dengan gedung-gedung yang lain. Gedung pertemuan yang juga tempat menyimpan server-server besar nomor wahid di Indonesia. Saking kerennya, ada server yang harganya lebih dari 2 M!

Mas Donny BU mengawali hari kedua FGD2012 ini dengan sedikit introduction dan memanaskan otak kami yang seperti baru tersambung setelah meneguk kopi panas di pagi hari ini. Kemudian Mbak Hera Laksmi Dewi dari XL menjadi pemateri pertama yang memberikan materi. Beberapa hal yang menarik aku catat di buku catatan seperti ini:

  1. Hari ini, social media bisa menjadi social movement. Karena begitu cepat dan mudah akses saat ini.
  2. Operator dengan akun twitter yang banyak follower bukan berarti hebat, hal ini justru akan menjadi tempat nyaman komplain bagi pengguna operator tersebut.
  3. Media sosial dan mobile phone merupakan perpaduan yang sangat menarik

Intinya, mbak Hera ini mempresentasikan tentang hubungan mobile phone dalam hal ini sebagai operator (XL) dengan social media  yang lagi booming saat ini.

Kemudian dilanjutkan dengan materi yang menarik, mungkin ini kali pertama saya mengikuti sesi seminar seperti ini yaitu membahas tentang HIV/AIDS. Mbak Ayu Oktariani menjadi narasumber dengan berbagai informasi baru tentang HIV/AIDS dan bagaimana beliau beserta teman-temannya memperjuangkan hak-hak para penderita HIV/AIDS yang masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat Indonesia sekarang. Dahulu saat belum ada internet atau saat awal-awal ada internet, mencari informasi tentang HIV/AIDS sangat susah. Di internet-pun yang ada hanya beberapa nama latin yang tidak cukup dimengerti oleh para pencari informasi tentang HIV/AIDS ini. Quote yang saya catat adalah “kita tidak boleh membenci penderita HIV/AIDS, apalag kalau sampai mendeskriminasikannya”. Salah satu kasus menarik adalah ketika ada seorang anak penderita penyakit mematikan ini ingin melanjutkan sekolah, tapi karena diketahui menderita penyakit ini, pihak sekolah menolak!. Alasannya simpel karena takut menular ke teman-temannya. Hal ini karena guru-guru di sekolah itu tidak banyak mengetahui tentang bagaimana penularan penyakit HIV/AIDS.

Singkat cerita, masyarakat mendiskreditkan sekolah itu. Ini tentang deskriminasi yang aku ketik di atas. Meski sekolah menarik ucapannya dan mau menerima, tapi keluarga anak itu terlanjur terdeskriminasi dan akhirnya tidak memperbolehkan anaknya untuk sekolah. Sekarang siapa yang salah kalau begini? Okelah jangan saling menyalahkan! Terus bagaimana cara agar hal ini tidak terjadi lagi?. Indonesia AIDS Coalition (IAC) akan menjawab tantangan tersebut. IAC melalui mbak Ayu adalah tolong sebarkan informasi positif ini kepada semua orang, bahwa penderita HIV/AIDS itu berhak menjadi seperti orang normal. Mulai mendapatkan informasi sampai mendapatkan pendidikan.

Dandhy Laksono hadir menyambung Mbak Ayu. Tapi kali ini topiknya tentang kebebasan berekspresi dalam pers dengan slide materi yang berjudul Industrialisasi Media. Om Dandhy mengawali presentasinya dengan video. Menurutnya “biarkanlah kamera yang berbicara!”. Video itu menceritakan bagaimana dahulu kebebasan berekspresi itu sangat sulit. Bahkan ada yang dipenjara hanya gara-gara menerbitkan majalah tanpa izin dari Dinas Penerangan. *apah? Dinas Penerangan?*, nama Dinas Penerangan masih belum pernah aku denger sebelumnya. Dinas ini terakhir diterapkan sampai tahun 1992. *yah umur saya baru 2 tahun noh!*.

Sebagai Jurnalis, om Dandhy sangat hafal atas segala sejarah tentang kebebasan berekspresi di dunia Jurnalistrik di Indonesia jauh sebelum boomingnya blogger di Indonesia. Sampai saati ini-pun media mainstream masih sangat menguasai dalam mempengaruhi masyarakat. Pun dahulu kita tidak punya media untuk bebas berekspresi. Sangat sulit untuk menulis sebuah kebenaran. Munculnya media sosial merupakan sebuah “durian runtuh” bagi masyarakat. Karena media sosial di internet khususnya seperti FB, Twitter, Blog, dsb merupakan tempat yang sangat nyaman untuk mengungkapkan pendapat, ide ataupun keluhan, ujar Om Dandhy.

Salah satu bentuk “social movement” yang sangat fenomena adalah Jembatan “Indiana Jones” di Banten beberapa waktu yang lalu. Seperti dilansir Tempo.co berikut “Hasil jepretan wartawan foto Reuters Beawiharta yang mendokumentasikan rombongan anak sekolah melewati jembatan gantung “Indiana Jones” di desa Sanghiang Tanjung, Kabupaten Lebak, Banten, Kamis pekan lalu menuai respon luar biasa. Foto yang diunggah di akun twitter, blog, serta facebook oleh Bea mendapat respon mengejutkan. Ada lebih dari 1200 orang men-share foto itu. Bahkan kantor berita luar negeri seperti Daily News juga memuat foto itu.”

Akibatnya seluruh dunia heboh dengan jembatan yang diceritakan seperti film Indiana Jones, jembatan akan roboh kalau ada yang melintasi. Isu seperti ini, Om Dandhy mengatakan adalah sebuah “packaging” yang sempurna. Wartawan Reuters sangat cerdas untuk memberikan judul foto ini Indiana Jones, sebuah bahasa universal yang bisa diterima siapa saja di dunia. Karena isu itu begitu dahsyat di dunia maya, akhirnya jembatan itu diperbaiki oleh pemerintah. Nah, apakah harus seperti ini dulu baru bisa membuat pemerintah menoleh dan berbuat suatu perubahan? Mungkin saja!, mengutip kalimat penutup Mbak Shita Laksmi dalam sebuah presentasinya adalah “Kita (sebenarnya) bisa melakukan perubahasan tanpa bantuan siapapun!”

Selain Mbak Shita Laksmi juga hadir memberikan sharing kepada blogger yang hadir dari Google Lokmant Tsui yang sharing tentang kebebasan berekspresi di berbagai dunia juga untuk seluruh pengguna internet. Google sangat memerhatikan kebebasan berekspresi setiap pengguna internet, google akan menghapus dari index-nya artikel yang dibuat dengan acara repost atau duplicate post.