Posts tagged Negeri 5 Menara

EducationUSA Fair Lanjut ke Negeri 5 Menara

Hehehehe. Modelnya Adik saya. Dia narsis sekali *saya sih dulu ngajarin narsis*. Kemarin (27/03) Saya ajak dia ke Surabaya. Sampai di jalan menuju Suramadu, Diyah -nama adik saya- belum tahu mau diajak ke mana? akhirnya saya beri tahu kalau akan diajak ke pameran pendidikan Amerika Serikat di Sheraton Hotel. Ini adalah kali pertama dia datang ke acara pameran pendidikan internasional. Bagi saya ini adalah ketiga kalinya setelah ke pameran pendidikan di Jepang dan Belanda beberapa waktu yang lalu.

Saya ingin mengajak dia yang masih duduk di kelas tiga SMP untuk mengetahui kehidupan di luar. Ternyata banyak orang pintar dan pandai. Pelajar bukan hanya di Madura saja, tapi di Surabaya juga banyak. Akan ada kompetisi yang lebih ketat. Dengan melihat langsung seperti ini saya yakin ini akan bisa membuka wawasannya dan memberikan motivasi baginya untuk menjadi siswa yang rajin belajar. Bentar lagi dia akan menjalani masa UN, perlu motivasi lebih bagi dirinya. Kalau saya lihat dia suka Bahasa Inggris tapi sangat malas untuk belajar. Dan ini adalah salah satu caraku untuk memberinya pelajaran betapa pentingnya rajin belajar itu.

Begitu masuk ke hotel mewah itu, mungkin suatu yang istimewa baginya *termasuk aku sih!* jarang-jarang bisa masuk hotel berbintang  bagi orang desa seperti kami. Sampai di dalam ternyata sudah banyak orang yang hadir, kalau dilihat dari seragamnya ada yang dari SMA, Mahasiswa sampai profesional yang mau belajar ataupun yang ingin mendapatkan beasiswa kuliah di AS.

Lebih dari 40 Universitas bergabung dalam pameran ini. Mulai dari George Washington University sampai Michigan State University hadir di acara pameran yang akan diselenggarakan di tiga kota di Indonesia ini (Jakarta, Surabaya dan Medan).

Aku menghampiri beberapa meja yang kosong untuk bertanya-tanya tentang program beasiswa, pendidikan di sana sampai hal-hal unik tentang pendidika di Amerika Serikat. Sebenarnya beberapa kali sudah baca tentang sistem pembelajaran di sana. Tapi aku suka interaksi langsung dengan orang bule seperti ini. Setidaknya akan melatih dua hal untuk improve bahasa Inggris saya, yaitu listening dan speaking. Sekarang lumayan mengerti apa yang mereka bicarakan, daripada pameran-pameran pendidikan sebelumnya. *gak percaya?*, di Kent University ternyata sangat unik. Informasi ini saya dapat ketika bertanya-tanya ke “penjaga stand”-nya *lupa namanya*. Dia menjelaskan kalau di kampusnya itu menerapkan sistem one stop living jadi semuanya jadi satu mulai dari Apartemen, Tempat nonton film, kolam renang, sarana olahraga, beberapa taman, semuanya jadi satu. Jadi tidak perlu kemana-mana.

Sedangkan kalau di Embry Riddle Aeronautical University mengira kalau Diyah adalah istri saya. “This is your wife, oh so beautiful!” katanya dengan santai. “Oh No! she is my sister” kilah saya. hehehe, ada-ada saja bapak satu ini. Kampus yang satu ini sudah menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan top di AS termasuk NASA. Tapi mahasiswa Indonesia yang kuliah di kamppus ini cuma ada 10 orang. Yah, temannya pasti sedikit kalau ingin kuliah di sini.

Satu meja ke meja yang lain, akhirnya kami merasa cukup dan aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sore itu ke Tunjungan Plaza untuk nonton Negeri 5 Menara. Lagi? Ya, ini adalah kedua kalinya. Tujuanku adalah untuk memberikan pelajaran kepada Diyah kalau berjuang itu penting. “Man Jadda Wajada” siapa yang bekerjakeras, dia yang akan sukses. Itu adalah semangat buatnya yang akan menjalani UN bulan depan.

Semoga dua pelajaran buat Diyah bisa bermanfaat. Memotivasinya untuk rajinbelajar, dan yang perlu diingat selalu ada cara lain untuk memberikan pelajaran penting bagi orang-orang terdekat kita.

 

Pertama Kalinya, Baca Kemudian Nonton Filmnya

Negeri 5 Menara adalah novel pertama yang aku baca sampai hatam. Aku sangat malas baca novel, apalagi kalau tebalnya sampai lebih dari 300 halaman. Tapi sejak membaca novel karya bang Ahmad Fuadi ini aku jadi ketagihan membaca novel yang bertemakan motivasi. Karena novel ini juga akhirnya aku tahu kenapa orang-orang sangat gemar membaca novel, apa saja novel yang bagus di luar dan dalam negeri aku jadi tahu. Ya semuanya berawal dari novel Negeri 5 Menara. Setelah membaca Negeri 5 Menara dan belum selesai membaca Ranah 3 Warna, aku sudah mendapatkan kabar kalau novel pertama dari trilogi yang mengisahkan Alif Fikri ini akan di filmkan. Jujur dari awal pemberitaan aku sudah mengikuti dan sangat penasaran. Aku melihat setiap hari perkembangan film ini dari twitter @fuadi1 dan @N5Mthemovie yang menjadi ‘ujung tombak’ pertama untuk informasi terbaru tentang film ini. semuanya aku ikuti mulai dari casting untuk pemeran utama *sebenarnya kepengen ikut, tapi tidak percaya diri, tidak jago akting* sampai trailer 1-5 di Youtube aku tahu semua. Bahkan poster edisi coming soon sampai versi akhir film yang mengambil gambar di empat lokasi (Maninjau, Gontor, Bandung dan London) ini aku simpan di laptop.

Film ini berceritakan tentang Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah berlumpur dan tentu mandi berkecipak di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok. Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera” sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak menggigau dalam bahasa Inggris, merinding mendengar ribuan orang melagukan Syair Abu Nawas dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara. Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai,  Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa.  Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian jiwa muda ini membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.

Bagaimana perjalanan mereka ke ujung dunia ini dimulai? Siapa horor nomor satu mereka? Apa pengalaman mendebarkan di tengah malam buta di sebelah sungai tempat jin buang anak? Bagaimana sampai ada yang kasak-kusuk menjadi mata-mata misterius? Siapa Princess of Madani yang mereka kejar-kejar? Kenapa mereka harus botak berkilat-kilat? Bagaimana sampai Icuk Sugiarto, Arnold Schwarzenegger, Ibnu Rusyd, bahkan Maradona sampai akhirnya ikut campur? Ikuti perjalanan hidup yang inspiratif ini langsung dari mata para pelakunya. Negeri Lima Menara adalah buku pertama dari sebuah trilogi.

Dan pada akhirnya kemarin senin (5/3) aku baru sempat nonton film ini langsung di Surabaya Plaza (Delta).  Ini adalah kali pertamaku nonton film setelah membaca novelnya. Di awal-awal scene aku seperti kembali ke flashback membaca novel itu. Terlebih ketika ustadz Salman memberikan mantra “Man Jadda Wajada” kepada santri-santrinya benar-benar membuatku bergetar.

Namun menjelang pertengahan benar kata beberapa kawan di sosial media, jangan berekspektasi besar ketika sudah membaca novelnya dan menonton filmnya. Ada beberapa yang hilang. Beberapa scene yang sebenarnya bisa lebih dramatis terlihat sangat datar.  Ada bagian ketika aku baca di novel sampai menitikan air mata adalah ketika Alif membaca balasan surat dari Amaknya yang membalas surat Alif tentang keinginan keluar dari Pondok Madani, tetapi di film ini terlihat datar tidak terlalu dramatis, begitu juga ketika satu dari ‘Sahibul Menara’ yaitu Baso pergi meninggalkan lima temannya yang lain. Ikang Fauwzi sebenarnya kurang pas jika harus berperan sebagai Kiai Rais. Pada adegan berceramah di depan santri barunya, terlihat kurang berwibawa. Tapi dipertengahan, peran Ikang Fauwzi mulai berwibawa layaknya Kiai yang sangat dihormati santri-santrinya, ditambah logat Jawa yang kental membuat semakin terasa unsur Ponorogonya.

Lebih dari itu aku harus memberikan nilai positif bagi semua tim yang bekerja menggarap novel ini. Bagaimanapun membuat film yang diangkat dari sebuah novel dengan tema Islami dengan latarbelakang pondok pesantren tidaklah mudah. Apalagi lokasi yang diambil benar-benar seperti yang dikisahkan di Novel. Pondok pesantren modern Gontor merupakan salah satu pesantren terbaik di Indonesia, sudah banyak tokoh besar negeri ini yang besar dan menuntut ilmu pondok pesantren ini. Film ini mengobati rasa penarasanku tentang kondisi asli pondok pesantren Gontor yang konon sangat ketat  sampai susah dimasuki oleh media elektronik khususnya televisi meski hanya untuk peliputan saja.

4 Buku dan Novel Motivasi Versi Alam

Ada banyak orang bilang bahwa buku adalah jendela dunia. Kata-kata ini sering kita dengar sejak di sekolah dasar dulu. Membaca merupakan aktivitas yang sangat penting dan bagus untuk membuka wawasan dan pengetahuan kita. Bagaimana kita bisa mengetahui apa saja yang terkandung dalam kitab suci kita kalau bukan dengan membacanya.

Ayat dalam Al-Qur’an yang pertama turun adalah Iqra’ yang artinya membaca. Ini membuktikan bahwa manusia harus banyak membaca untuk bisa mempunyai pengetahuan yang luas serta memiliki intelegensi lebih dari orang biasa.

Dalam menuntut ilmu tentunya sangat buku yang dipersiapkan. Baik dari pemerintah pusat, maupun pemerintah daerah yang disebar ke seluruh perpustakaan di sekolah atau di kampus. Sekarang bagaimana kita bisa memanfaatkan ketersediaan buku tersebut untuk menjadi referensi lebih buat kita dalam mempelajari ilmu tertentu.

Tidak hanya buku normatif dan adaptif saja yang harus kita baca, tetapi ada kalanya kita membaca sebuah buku di luar pelajaran untuk lebih membuka wawasan kita terlebih dapat memberikan kita motivasi dalam menjalani hari-hari kita yang penuh dengan tantangan dan perjuangan. Continue reading 4 Buku dan Novel Motivasi Versi Alam

“Hadiah” dari Sang Idola

Novel Ranah 3 Warna bersanding dengan Negeri 5 Menara ditemani tas hadiah dari Mas Fuadi

Sebuah novel dikeluarkan Pak Husni dari salah satu loker di Laboratorium tempat biasa aku dan teman-teman warga lab berkumpul. “Siapa yang mau pinjam, bawa saja!” Pak Husni menawarkan kepada warga lab yang sedang asyik browsing internet. Mbak Fenny menyambutnya dengan senang dan membalik-balik novel tersebut membaca tulisan di cover depan dan belakang.

Negeri 5 Menara, nama yang unik menurutku, dengan A. Fuadi tertulis indah sebagai penulis dari novel ini. Lingkaran hijau bertuliskan National Best Seller tertempel gagah di pojok kiri cover novel tersebut. Keinginanku membacanya harus tertunda karena teman warga Lab,  mbak Fenny ingin membacanya terlebih dahulu. Aku hanya bisa baca sinopsis novel tersebut di cover bagian belakang. Continue reading “Hadiah” dari Sang Idola