Posts tagged Pendidikan

Bandung: Tentang Sejarah dan Pendidikan

Saat aku kecil, sering sekali mendengarkan lagi ini. Dari VCD yang dibelikan bapak, atau saat bapak menyanyikannya untukku.

Pertengahan bulan Mei 2013, ada sebuah kegiatan yang harus aku ikuti di ITB. Setelah beli tiket di stasiun Pasar Turi, aku langsung terniang lagu masa anak-anakku dulu. Lagu itu sekarang sudah jarang aku dengarkan lagi. Continue reading Bandung: Tentang Sejarah dan Pendidikan

Man of the Class

Hari ini, adalah saatnya memberikan materi aplikasi perkantoran: aplikasi pengolah kata. Aplikasi yang kami pakai untuk proses pembelajaran adalah aplikasi kepunyaan Microsoft. Setelah introduction tentang apa dan nama-nama toolbar di Microsoft Office Word, aku mencoba langsung mempraktekkan mengetik. Kali ini mengetik 10 jari. Menggunakan Microsoft Office Word di depan siswa, disaksisakan siswa menggunakan LCD projector, aku mempraktikkan cara mengetik dengan tidak lagi melihat keyboard. Semua siswa sangat tertarik mendengarnya. Aku bingung mau menulis apa, akhirnya aku menulis sebuah cerita yang aku beri judul Continue reading Man of the Class

Holland: Creative Nation, Creative Peoples

Pakir sepeda di Belanda [0]

Parkir sepeda di Indonesia [1]

Browsing, siapa yang ngga suka kegiatan yang satu ini.Pertama buka browser adalah twitter.com, buka tab baru ketik facebook.com, tidak lupa gmail.com untuk cek imel apakah ada email baru. Setelah membalas mention di twitter, berkomentar di beberapa status facebook teman dan membalas baris demi baris email yang menghiasi inbox, sekarang searching dengan mesin pencari terbesar. Yak benar, “mbah Google” jawabannya.

Ketikkan kata Belanda di “kolom pencarian yang ajaib itu. Bagaikan hujan, deretan link yang menyediakan kata Belanda terhampar begitu saja di depan layar monitor. Scroll atas-scroll bawah, klik halaman 1,2, dan 3. Baca satu demi satu. Buka buku catatan, sebentar ada yang menarik, catat dulu ah!

Pasti sudah banyak yang tahu kalau dua pertiga dari daratan di Belanda berada di bawah permukaan laut, oleh karena itulah Pemerintah Belanda mengembangkan suatu konsep yang menjadikan hal tersebut bukan sebagai halangan justru sebagai peluang. Model Polder adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh pemerintah Belanda. Konsep ini memungkinkan setiap warga masyarakat boleh memberikan saran dan kritik. Dengan cara ini diharapkan bisa menyelesaikan masalah nasional. Konsep pemikiran dari masyarakat itu tidak hanya menolong Belanda dari ancaman air laut, tetapi juga menjadikan Belanda sangat piawai dan handal untuk menangani semua urusan air.

Demi urusan yang berhubungan dengan air saja, Belanda merancang sebuah model untuk mengelolanya. Indonesia patut mencontoh tuh!, kan kita negara maritim. Sangat kaya akan laut.

Tidak puas dengan satu halaman web, buka lagi tab browser Google Chrome yang berisi tentang fakta menarik negaranya Johan Cruyff ini. Kursor putihku terhenti pada satu halaman web yang identik dengan Belanda ditandai dengan backgroud oranye. Ambil pulpen dan buku, catat lagi!

Belanda membangun tanggul 17.000 km yang kira-kira sama panjang tembok Cina untuk melindungi  negeranya dari abrasi air laut. Selain itu konsep Polder itu juga menciptakan lingkungan yang subur untuk menghasilkan pelbagai temuan teknologi yang sukses dan inovatif bagi dunia modern ini.

Waw, tanggul saja hampir sama dengan tembok Cina, bisa diterapkan di Sidoarjo tuh. Untuk melindungi masyarakat Sidoarjo dari ancaman lumpur, iya kan?.

Kembali ke browser, beberapa pertanyaan seperti keluar dari kepala dan bisa terlihat. Aku buka tab Youtube.com, mesin pencari terbesar kedua ini menyajikannya dalam bentuk video. Pastinya akan lebih menarik. Tanpa disuruh langsung ketikkan kalimat “Hidup di Belanda”. Muncullah beberapa video menarik, langsung buka satu persatu. *mumpung koneksi sekencang kereta eksekutif gaya baru malam Surabaya – Jakarta*.

Eh, ternyata kalau di Belanda tidak terlalu membutuhkan mobil untuk pergi ke suatu tempat. Angkutan umum akan mengantarkan kita hampir ke semua tempat yang mau kita tuju. Kalau di Indonesia orang berlomba-lomba memiliki sepeda motor sampai-sampai susah cari tempat parkir, tapi kalau di Belanda sebagian besar orang menggunakan sepeda “onthel” tidak peduli apapun profesi atau status mereka. Kalau urusan perut, bangsa “Londo” tidak memiliki tradisi memasak. Umumnya “hot meal” hanya disajikan pada malam hari. Sarapan biasanya hanya terdiri dari roti dan keju, potongan daging atau selai. “sandwich” untuk makan siang, dengan tambahan sup, salad atau buah. Makan malam umunya kentang dan sayur dengan daging atau ikan.

***

Referensi:

  1. Buku Life and Study nuffic neso Indonesia
  2. Video studi di Belanda @ Youtube

Sumber Gambar/Foto:

[0]: http://mave.wordpress.com

[1]:  vivanews.come

Pendidikan yang Kreatif a la Belanda

Wajah-wajah tegang saat presentasi paper. ^-^

Setelah presentasi paper pertama kalinya yang super tegang di UGM ini. Sekarang saatnya keliling kampus UGM nih *biasalah, orang ndeso dari Madura*. Di tengah perjalanan ke tempat parkir motor, aku mendapatkan sms dari Pak Yusuf (dosen UTM yang sedang menjalani beasiswa kursus IELTS di UGM). Beliau mengajakku dan Aris untuk datang ke Holland Education Fair. Sebelumnya aku pernah datang ke pameran pendidikan Jepang di Surabaya.

Setelah mengisi formulir pendaftaran, kami langsung diberikan tas yang berwarna oranye *Belanda banget euy* berisi buku, majalah dan cd tentang pendidikan di Belanda. Di dalam ruangan dengan luas sekitar 10×10 meter hadir beberapa booth dari berbagai universitas dari Belanda. Mereka datang langsung ke Indonesia, demi pameran yang hanya diadakan di tiga kota di Indonesia ini.

Aku, Aris dan Pak Yusuf berpencar. Pak Yusuf datang ke stan kampus tertua di Belanda yaitu Leiden University, Aris pergi ke stan Wageningen University, aku memilih datang ke stand nuffic neso Indonesia. Warna oranye hampir mewarnai furniture di stand ini, mulai dari meja, kursi, kaos panitia, sampai boneka yang dipeluk oleh salah satu panitia-pun berwarna oranye. Aura Belanda sangat terasa ketika aku duduk di stand ini.

Aku tanya tentang sistem pendidikan di Belanda. Seorang cewek cantik dengan sabar memberikan jawaban dengan lengkap dan jelas. Menurutnya di Belanda tersedia dua jenis pendidikan tinggi, yaitu universitas riset (universiteit) dan universitas ilmu terapan (applied sciences/hogeschool). Universitas riset bertujuan melatih peserta didik untuk mampu melakukan kerja riset secara mandiri sementara universitas ilmu terapan lebih bertujuan mempersiapkan peserta didik untuk siap bekerja pada jenis pekerjaan tertentu. Terdapat bentuk lain dari instituti pendidikan tinggi Belanda, yang umumnya lebih kecil yaitu institusi pendidikan internasional yang diperuntukkan bagi para mahasiswa asing di Belanda.

“Wah, keren juga kalau belajar di Belanda”. Kataku sambil mengangguk-anggukan kepala bertanda menyimak pembicaraan mbak cantik tadi.

Mbak cantik tadi lantas meneruskan pembicaraannya. Sambil sesekali bahunya terangkat ia mengatakan pendidikan tinggi di Belanda memiliki reputasi dunia dengan kualitas tinggi. Pada 4 Desember 2009 dokumen revisi Code of conduct berkaitan dengan siswa internasional di perguruan tinggi Belanda diberlakukan.

“Dokumen Code of conduct?, apa itu mbak”,  tanyaku sambil mengernyitkan alis.

Code of conduct ini memberlakukan standar bagi perguruan tinggi Belanda dalam berurusan dengan para siswa internasional. Dengan menandatangi Code of conduct tersebut, institusi-institusi menawarkan jaminan kualitas dari program-program mereka dan prosedur rekrutmen. Penerimaan, serta konseling bagi siswa international. Hanya institusi-institusi yang telah menandatangi Code of conduct yang diperbolehkan menerima murid-murid internasional” . Katanya tegas.

Ternyata Belanda sangat memperhatikan kualitas pendidikannya. Buktinya mereka sampai membuat dokumen Code of conduct ini. sebuah langkah yang sangat kreatif menurutku.

Tidak hanya itu, kreativitas pendidikan di Belanda juga sangat terlihat ketika di dalam kelas. Adegan film Legally Blonde, dimana dosen senang bertanya a la Socratic Method pada sang muridnya korbannya? Murid dibiarkan berkeringat dingin menjawab cercaan dosen yang tak kunjung berakhir. Tidak berbeda jauh, belajar di negeri kincir angin juga akan lebih sering berdiskusi dan berkelompok. Karena bagi mereka lebih baik berdebat untuk memutuskan sesuatu daripada memutuskan sesuatu tanpa berdebat.

***

 

Referensi:

  1. Gambar bawah: http://www.ncdemocracy.org
  2. Buku life and study www.studyinholland.nl
  3. Novel Negeri van Oranje